Sukuk Negara Tingkatkan Kualitas SDM Kehutanan

0
118
Groundbreaking pembangunan SMKKN Pekanbaru yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Ade Palguna Ruteka, Sabtu 27 Februari 2021.

BP2SDM KLHK memanfaatkan dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara) untuk meningkatkan kualitas SDM LHK.

Ade Palguna Ruteka

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) cq Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) terus menggenjot peningkatan kualitas SDM sektor lingkungan hidup dan kehutanan.

Sarana dan prasarana untuk peningkatan kualitas SDM pun terus diperbarui mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan. Termasuk sarana prasarana yang ada di sekolah vokasi Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan (SMKK). Lewat SMKK, penyediaan tenaga teknis menengah berkualitas yang kompeten bisa dipenuhi.

Terbaru, BP2SDM KLHK membangun ulang kompleks SMKK Negeri Pekanbaru, Riau. Menariknya, pembangunan komplek sekolah tersebut memanfaatkan dana yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara).

Groundbreaking pembangunan SMKKN Pekanbaru ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Ade Palguna Ruteka, Sabtu 27 Februari 2021.

Turut menyaksikan perwakilan Kepala unit pelaksana teknis KLHK di Provinsi Riau, Direktorat Perencanaan Pendanaan Pembangunan Bappenas, dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Provinsi Riau.

Ade menjelaskan pembangunan ulang kompleks SMKKN Pekanbaru dilakukan untuk perbaikan sarana dan sarana pendidikan bagi calon tenaga teknis menengah kehutanan.

“Gedung saat ini sudah terlalu lama dan butuh pembaharuan. Pembangunan kompleks gedung baru ini juga sekaligus untuk mengakomodir kemajuan teknologi,” kata Ade.

Untuk diketahui, BP2SDM KLHK memang menjadi pembina langsung bagi SMKKN. Ada 5 SMKKN di Indonesia yaitu SMKKN Pekanbaru di Riau, SMKKN Kadipaten (Jawa Barat), SMKKN Samarinda (Kalimantan Timur), SMKKN Makasar (Sulawesi Selatan), dan SMKKN Manokwari (Papua Barat).

Gedung-gedung SMKKN yang ada saat ini rata-rata memang sudah berusia tua. Ade menyatakan, pembangunan gedung baru SMKKN bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada siswa dengan menyediakan sarana pembelajaran yang selaras dengan perkembangan dan tuntutan kemajuan terutama di bidang kehutanan.

Ade menekankan pentingnya pembaruan bagi gedung SMKKN. Menurut dia, peningkatan sarana dan prasarana di SMKKN yang menjadi binaan langsung BP2SDM KLHK  bertujuan untuk memajukan penyelenggaraan pendidikan vokasi bidang LHK.

“Harapannya bisa membekali peserta didik tenaga teknis menengah kehutanan yang professional dan mandiri serta siap memasuki lapangan kerja di tingkat Nasional maupun Internasional,” ujar Ade.

Ade melanjutkan, tersedianya sarana dan prasarana pendidikan vokasi yang mumpuni tentu saja akan menunjang keterampilan peserta didik sebelum mereka terjun ke dunia kerja.

Menurut Ade, KLHK mengantisipasi tumbuhnya industri yang bergerak di sektor LHK. Pertumbuhan industri tersebut perlu diantisipasi dengan penyediaan tenaga terampil dan kompeten.

“Contoh pada industri manufaktur, jasa, dan agro industri. Mereka butuh tenaga terampil yang kompeten di bidangnya. Dengan bonus demografi tenaga kerja produktif pada 2045 maka investasi yang ada bisa dijalankan dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip pengelolaan LHK yang baik,” katanya.

Prediksi meningkatnya kebutuhan tenaga teknis menengah kehutanan dalam beberapa tahun mendatang memang masuk akal. Adanya Undang-undang Cipta Kerja bisa memberi keyakinan bagi investor untuk menanam modalnya di sektor LHK. Tak hanya yang berskala besar tapi juga pada skala rakyat seperti yang  sudah beberapa tahun belakangan ini digencarkan KLHK dengan menerbitkan izin pengelolaan hutan skala rakyat.

Ade menyatakan, salah satu bidang investasi sektor LHK yang diproyeksikan akan meningkat ada ekowisata. Itu sebabnya, saat hadir pada groundbreaking pembangunan SMKKN Pekanbaru, Ade secara khusus memberi arahan untuk pembukaan program studi ekowisata.

Sukuk Negara

Menariknya pembangunan kompleks baru SMKKN Pekanbaru memanfaatkan dana yang bersumber dari SBSN atau sukuk Negara. Untuk diketahui, sukuk atau obligasi syariah adalah bukti penyertaan atas kepemilikan aset negara. Investor sukuk (bisa perorangan pada sukuk ritel), sama artinya dengan membeli aset Negara. Aset itu kemudian disewakan kembali kepada pemerintah hingga saat jatuh tempo atau masa berlakunya habis. Sebagai produk investasi, sukuk memberikan keuntungan atau imbal hasil berupa uang sewa (ujrah).

Menurut Ade, pemanfaatan SBSN untuk pembangunan komplek baru SMKKN Pekanbaru diawali dengan peluang yang diberikan Kementerian Keuangan kepada Kementerian/Lembaga untuk pembiayaan yang bisa dibiayai SBSN.

Kemenkeu melalui Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menganalisis seberapa penting proyek yang akan dibiayai itu.

“Penanggung jawab proyek akan diatur bagaiman agar proyek berjalan efektif dan efisien,” kata Ade.

Untuk tahun 2021, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengalokasikan SBSN untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur sebesar Rp27,58 triliun. Dana tersebut untuk 11 kementerian/lembaga. Dilihat dari sektor, transportasi mendapat jatah Rp16,21 triliun. Kemudian pendidikan Rp4,32 triliun, sumber daya air Rp4,23 triliun, sosial/perumahan Rp1,75 triliun, serta riset dan teknologi Rp1,07 triliun.

Pemanfaatan dana SBSN untuk pembiayaan proyek di KLHK sendiri bukan hal baru. Sejumlah proyek untuk pengembangan wisata alam dan litbang banyak memanfaatkannya. Pemanfaatan SBSN untuk proyek di KLHK juga tak lepas dari sifat proyeknya yang secara umum ramah lingkungan.

Ade menyatakan, jika ada peluang, maka pihaknya akan kembali mengajukan pemanfaatan dana SBSN untuk merenovasi kompleks SMKKN lainnya. “Tahun 2022 kami akan membangun SMKKN Manokwari,” katanya.

Groundbreaking pembangunan SMKKN Pekanbaru yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Ade Palguna Ruteka, Sabtu 27 Februari 2021.

Dilengkapi Laboratorium Canggih dan Sistem Pengolahan Limbah Modern

Pembangunan kompleks baru SMKKN Pekanbaru menelan dana yang cukup besar. Dana tersebut dioptimalkan untuk menyediaakan sarana prasarana yang mumpuni seperti laboratorium canggih dan sistem pengelolaan air limbah.

“Dana pembangunan SMKKN Pekanbaru mencapai Rp34 miliar,” kata Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM KLHK Ade Palguna Ruteka.

Tahun ini merupakan tahun kedua pelaksanaan proyek dimana anggaran yang disiapkan sebesar Rp15 miliar.

Sesuai tujuannya untuk melayani calon tenaga teknis menengah kehutanan yang professional dan kompeten, maka fasilitas yang dibangun pun sangat istimewa. Gedung yang dibangun terdiri dari Gedung Perpustakaan, Laboratorium SIG, Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Komputer dengan luas 1.336 m2. Ada juga Gedung Pusat Informasi dan Kelas (Workshop Produksi Hasil Hutan) seluas 1.172 m2.

Dibangun juga Gedung Teaching Factory  atau Laboratorium Terpadu seluas 1.187 m2. Termasuk dalam laboratorium terpadu ini diantaranya ruang kultur jaringan, ruang laboratorium madu, dan ruang pembelajaran hasil hutan kayu dan non kayu.

Selain membangun 3 gedung tersebut, proyek ini juga akan membangun sarana lingkungan termasuk yang tak kalah penting Sistem Pengolahan Air Limbah atau Instalasi Pengolahan Air Limbah memastikan kompleks SMKKN Pekanbaru akan semakin ramah lingkungan.

AI