Beralih Dari Pembalak Liar Berkat Menanam Pohon

0
107
Diskusi antara Ketua MKK Cisangku Hendrik (Kedua dari kiri) dengan TAMLHK Eka W Soegiri (kiri), TAMLHK Sri Murniningtyas (ketiga dari kiri), Kepala Balai TNGHS Ahmad Munawir, dan Kepala Subdit Pemolaan KPHL Direktorat KPHL Dwi Prabowo tentang penyediaan bibit dalam kegiatan Rehabilitasi Hutan dan lahan di Blok Malasari Resor Gunung Botol TNGHS, Kabupaten Bogor.

Mata Hendrik (50 tahun) menerawang. Pikirannya melayang mengenang masa lalunya pada tahun 2003 silam. “Saya adalah salah satu cukong illegal logging terbesar di sini,” katanya ketika ditemui di Blok Malasari, Resor Gunung Botol, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Bogor, Senin (29/3/2021).

Tak heran Hendrik dan rekan-rekannya selalu mengambil sikap bermusuhan dengan petugas-petugas dari Balai TNGHS. Meski tidak ada tindakan represif namun Hendrik mengaku dirinya dan rekan-rekannya selalu diliputi perasaan was-was.

Tapi itu dulu. Pendekatan yang dilakukan oleh petugas Balai TNGHS unit teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pelan-pelan mengubah tindak-tanduknya. Hendrik bersama rekan-rekannya yang kini tergabung dalam Kelompok Mitra Tani Model Desa Konservasi  (MKK) Cisangku, kemudian mendapat banyak kesempatan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas pengelolaan konservasi di TNGHS.

Termasuk salah satunya adalah penyediaan bibit dan penanaman pada program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) tahun 2021 di TNGHS. Program ini dijalankan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Citarum-Ciliwung berkoordinasi dengan Balai TNGHS yang dilaksanakan oleh pihak ketiga.

MKK Cisangku dilibatkan untuk RHL di Blok Malasari seluas 47,09 hektare. Di sana ditanam berbagai pohon endemik seperti rasamala, salam hutan, dan huru. Ada juga pohon multiguna seperti durian dan nangka.

“Alhamdulillah kami dilibatkan dalam kegiatan ini. Masyarakat mendapat tambahan pemasukan dari penyediaan bibit dan penanaman,” kata Hendrik.

Saat ini Hendrik dan 18 anggota MKK Cisangku dengan 6 diantaranya adalah wanita selalu dilibatkan dalam kegiatan RHL. Hendrik mengelola areal pembibitan dengan luas sekitar 1 hektare dan stok bibit sekitar 300.000 batang.

Kepala Balai TNGHS Ahmad Munawir menyatakan, salah satu tujuan dari pelaksanaan RHL adalah untuk resolusi konflik. Masyarakat diajak terlibat dalam kegiatan penanaman dan aktivitas konservasi lainnya dengan harapan akan tumbuh kesadaran dan rasa memiliki akan pentingnya kelestarian TNGHS.

“RHL ini juga penting untuk merehabilitasi areal yang terdegradasi,” katanya.

Di seluruh wilayah kerja yang mencakup DKI Jakarta, Banten, dan sebagian besar Jawa Barat, BPDASHL Citarum-Ciliwung melaksanakan RHL seluas 3.250 hektare pada tahun 2021. Pada tahun 2019, RHL dilaksanakan seluas 9.753 hektare. Pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, program RHL tidak ada aktivitas penanaman dan fokus pada penyediaan bibit.

Di TNGHS, penanaman RHL dilakukan di sejumlah titik. Selain di Blok Malasari, juga RHL juga dilakukan di Blok Lebakpari Resor Cisoka, Banten seluas  63,6 hektare dan Blok Jambu Bodas Resor Gunung Bodas, Sukabumi, Jawa Barat seluas 114,39 hektare. Total luas RHL di TNGHS pada tahun 2021 mencapai 2.000 hektare.

TAM LHK Eka W Soegiri dan Sri Murniningtyas mengecek lokasi penanaman RHL di Resor Gunung Bodas TNGHS, Kabupaten Sukabumi.

Monitoring dan Evaluasi

Ada di lokasi-lokasi yang sulit terjangkau bukan berarti pelaksanaan RHL tak terpantau. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menginstruksikan agar pelaksanaan RHL diawasi memastikan keberhasilannya bukan saja secara fisik tapi juga berdampak pada pemberdayaan masyarakat.

Untuk mengawasi pelaksanaan RHL di TNGHS, Tenaga Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (TAMLHK) Sri Murniningtyas dan Eka Widodo Soegiri melakukan observasi lapangan ke Resor Gunung Botol, Bogor dan Gunung Bodas, Sukabumi, 29-30 Maret 2021.

Mereka melanjutkan pemantauan yang telah dilakukan pekan sebelumnya ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Perhutani Sumedang dan KPH Perhutani Bandung Utara, pada 23-25 Maret 2021.

Menurut Murniningtyas, sesuai instruksi Menteri LHK Siti Nurbaya, program RHL harus memberi dampak pada lingkungan dan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

“Situasi yang terjadi dan hambatan yang ada bisa didiskusikan dan dicari solusinya agar program RHL ini benar-benar berhasil,” kata Nining, panggilan akrabnya.

Di lapangan pelaksanaan RHL memang masih bisa disempurnakan. Salah satu yang terpantau adalah adanya penanaman di lokasi dengan tutupan hutan yang secara kasat mata masih sangat baik. Tajuk hutan masih rapat dengan jarak antara tegakan pohon berdekatan.

Situasi ini terjadi karena pelaksana di lapangan terlalu terpaku pada rancangan teknis di atas kertas yang sudah dibuat sebelumnya. Padahal di TNGHS yang merupakan kawasan konservasi,  areal terdegradasi tidak berarti seluruhnya gundul tanpa tegakan.

Menghadapi situasi seperti ini, pelaksana di lapangan seharusnya bisa berinisiatif menggeser penanaman 1-2  meter dari titik awal pada lokasi yang lebih terbuka dan benar-benar butuh bibit untuk ditanam.

“Kalau bibit ditanam pada titik yang tajuknya rapat, maka dia akan tumbuh sangat lambat atau bahkan mungkin mati,” katanya.

Namun dia mengingatkan, setiap inisiatif tersebut harus disertai dengan catatan tertulis dan memastikan tidak melanggar prosedur sehingga pelaksanaannya tetap tertib secara administrasi.

Kualitas Bibit

Pembenahan lain yang perlu dilakukan adalah soal bibit. Penggunaan bibit, terutama untuk jenis tanaman multiguna, yang berasal dari biji tak menjamin hasil produksi anakannya berkualitas baik meski berasal dari pohon induk unggul.

Untuk itu Eka W Soegiri menyarankan agar untuk tanaman multiguna digunakan bibit dengan perbanyakan vegetatif sehingga kualitas buah yang dihasilkan sama persis dengan induknya.

Tak mesti membeli. Sebab harga bibit vegetatif mahal di pasaran. Untuk itu, pelaksana RHl bisa melakukan pendampingan dengan melibatkan penyuluh kehutanan melatih masyarakat yang terlibat membuat bibit dengan perbanyakan vegetatif.

“Salah satu yang mudah dan murah adalah dengan teknik sambung pucuk,” katanya.

Teknik ini cocok untuk penanaman untuk tujuan konservasi karena batang bawah bibit berasal dari biji yang memiliki perakaran kuat sementara batang atas (entres) memanfaatkan pucuk dari pohon  unggul yang sudah terbukti menghasilkan buah berkualitas baik.

“Kalau bibitnya baik, waktu yang dibutuhkan hingga berbuah lebih cepat. Hasilnya pun berkualitas baik sehingga akan menguntungkan masyarakat,” katanya.

Sugiharto