Kementan Ingatkan Petani Manfaatkan Sumber Air

* Menjelang Kemarau

0
394

Kemarau tahun 2021 diperkirakan mulai terjadi pada Juli mendatang. Kementerian Pertanian (Kementan) pun mengimbau Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk memanfaatkan sumber air yang ada.

Perkiraan itu diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mengatakan, kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) mencatat sampai Oktober 2020 adalah ‘netral’. Puncak musim kemarau diperkirakan pada bulan Juli-Agustus-September 2021.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sumber air di lahan pertanian sudah dibangun pemerintah, seperti embung, dam parit dan irigasi perpipaan/perpompaan. “Sumber air ini dibangun memang untuk mengantisipasi kekeringan,” katanya.

Mentan menilai, strategi pompanisasi dan pipanisasi yang diterapkan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) — sebagai langkah mitigasi kekeringan — sudah efektif. Dengan demikian, petani tetap bisa bercocok tanam meskipun terancam kekeringan.

“Pompanisasi dan pipanisasi menurut saya adalah program yang sangat efektif karena bisa menanam dengan hasil tiga kali lipat. Sistem ini juga sangat efisien menghemat anggaran negara,” katanya di Jakarta, Selasa (13/4/2021).

Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, dam parit dibangun dengan membendung sungai kecil atau parit alami. Untuk pengembangan dam parit, sungai yang dibendung memiliki debit minimal 5 liter per detik dan dengan luas lahan usaha tani yang dapat diairi minimal 25 hektare (ha).

Tak hanya itu, agar dampak dam parit bisa lebih besar, maka pembangunannya bisa secara bertingkat dari hulu ke hilir dalam satu aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) mikro. “Model pengembangan dam parit bertingkat di DAS hulu sangat ideal untuk dikombinasikan dengan pengelolaan air dan sedimen di waduk atau embung besar,” katanya.

Contohnya dam parit yang dibangun Poktan Mappabengngae III di Kelurahan Tiroang, Kecamatan Tiroang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Dam parit ini luas layanannya hingga 75 ha.

Kemudian di Desa Tundagan, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang. Dam parit yang dibangun Poktan Maju Karya ini luas layanannya mencapai 32 ha.

Sedangkan pembangunan embung di Desa Pangadegan, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap dibangun dengan dimensi 18×13×2,5 m3. Embung yang dibangun P3A Usaha Tani Makmur ini mampu melayani areal sawah seluas 31 ha. “Dari pembangunan embung dan dam parit ini, diharapkan terjadi peningkatan IP yang semula 200 menjadi 300,” katanya.

Namun, Sarwo Edhy mengingatkan agar pemeliharaan air sungai dan bangunan harus dirawat, sehingga debit air tetap terjaga. “Saat musim kemarau debit air tidak kecil, tapi musim hujan air tidak meluap. Perawatan, pemeliharaan dan konservasi harus dilakukan dari hulu ke hilir,” tuturnya.

PSP Siap Bantu

Sementara Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen PSP, Rahmanto menambahkan, pihaknya siap membantu menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi daerah-daerah terdampak kekeringan dengan menyediakan paket bantuan kepada petani.

“Pertama adalah pompanisasi dan pipanisasi. Bantuan tersebut digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang ada, baik dari sungai maupun mata air,” ujarnya.

Dia juga menyebut, petani serta Dinas Pertanian setempat harus bersinergi mengantisipasi kekeringan ini. Salah satu upayanya adalah pengawalan gilir giring irigasi, penanganan illegal pumping, dan sosialisasi dalam mematuhi jadwal tanam.

Dia mencontohkan, sejumlah daerah yang telah mengikuti program pipanisasi untuk menarik air dari sungai pada musim kemarau lalu di antaranya Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal. Intinya, jika daerah-daerah yang terancam kekeringan memiliki sumber air, maka akan dibantu dengan pompa dan pipa.

“Ini bisa menyelamatkan lahan sawah yang terancam gagal panen. Bila ada daerah lain juga membutuhkan, silakan ajukan permintaannya,” ungkapnya.

Kementan juga bisa menyediakan pembangunan embung atau long storage. Dia menerangkan, program ini untuk kelompok tani guna menampung air di musim hujan (bank air) kemudian dialirkan ke sawah bila dibutuhkan.

Hal lain yang bisa dilakukan, kata Rahmanto, membangun sumur dangkal (sumur bor) di lahan-lahan yang mengalami kekeringan. “Kami akan lakukan koordinasi dan memonitor ketersediaan air waduk dan bendungan. Melakukan penertiban pompa-pompa air ilegal di sepanjang saluran irigasi utama,” jelasnya.

Embung di Papua Barat

Ditjen PSP Kementan diketahui juga telah membangun dua unit  embung di Papua Barat. Kedua embung itu dibangun di Kabupaten  Fakfak dan Sorong. Di Fakfak, embung dikerjakan Poktan Makmur yang berada di Desa Warisan Mulya, Kecamatan Tomage. Sementara di Sorong, embung dikerjakan Poktan Sinagigi di Desa Giwu, Kecamatan Klaurung.

“Dengan keberadaan embung, petani tidak perlu khawatir jika memasuki musim kemarau. Karena, air akan tetap tersedia di embung sehingga produktivitas tetap terjaga,” katanya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, embung adalah bagian dari water management yang berfungsi untuk menampung air, baik air hujan maupun air tanah. “Air yang tertampung dalam embung inilah yang bisa dimanfaatkan petani saat kemarau,” katanya.

Dia menambahkan, embung juga diharapkan bisa memberikan tambahan pendapatan buat petani. “Karena, embung bukan hanya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas perkebunan, hortikultura, juga ternak. Kita harapkan embung bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani,” harapnya. PSP

Petani Fak Fak Bisa Manfaatkan Embung

Embung dapat diandalkan menjadi pasokan air pada saat musim kering. Hal itu terlihat di Desa Warisan Mulya, Kecamatan Tomage, Kabupaten Fak Fak, Papua Barat.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pemerintah harus melakukan upaya antisipasi perubahan iklim, terutama kemarau. Karena memang manfaat infrastruktur air seperti embung, dam parit maupun long storage baru terasa ketika kemarau datang.

Menurut dia, bangunan tempat penampungan air seperti embung dan dam parit akan bermanfaat. Meskipun debit air kecil, masih bisa memasok air ke sawah-sawah petani. “Dengan embung/dam parit, petani bisa menambah pertanaman dalam setahun, dari satu kali menjadi dua kali,” katanya.

Dia mengatakan, infrastruktur air ini juga sangat berguna dalam pengelolaan air lahan kering maupun tadah hujan. Masyarakat dan para petani diminta untuk bisa menjaga dan merawat apa yang telah dibangun pemerintah.

“Saya pesan kepada petani dan masyarakat agar menjaga dan memelihara embung dengan baik. Jangan sampai rusak atau terbengkalai karena ini kan manfaatnya selain buat petani juga masyarakat bisa menggunakan air di sini saat kekeringan,” tuturnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy menjelaskan, pembangunan embung masih diandalkan untuk mengantisipasi musim kering di tahun 2021. Pembangunan itu diharapkan bisa menampung air hujan dan mengairi sawah, sehingga mampu meminimalisir kerugian petani.

“Program pembangunan embung itu merupakan program strategis untuk penampungan air hujan atau sumber sumber mata air di tempat lain,” katanya.

Menurut Sarwo Edhy, pembuatan embung sangat diperlukan. Jika musim hujan lahan tidak terendam air, di musim kemarau saat air dari irigasi tidak mencukupi, maka embung bisa dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk mengairi lahan padi atau tanaman pertanian lainnya.

Kelompok Tani (Poktan) Makmur menyambut baik bangunan embung ini karena mampu melayani hingga 25 hektare lahan petani. Dengan adanya embung tersebut, pertanaman akan meningkat dari IP 100 menjadi IP 200. Sebelum ada embung, IP 200 hanya 10 hektare (ha), setelah ada embung IP 200-nya menjadi lebih luas. Produksi sebelum ada embung 5,2 ton. Setelah ada embung menjadi 6 ton/ha. PSP