Litbang dan Inovasi Perkuat Pengelolaan Gambut Berkelanjutan

0
563
Menteri Menteri Pariwisata dan Lingkungan Hidup Republik Konggo Arlette Soudan-Nonault mempraktikan cara mengukur tinggi muka air gambut di dampingi Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Agus Justianto (kiri) di areal hutan tanaman industri PT Mayangkara Tanaman Industri, di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu 20 Oktober 2018.

Kegiatan penelitian dan pengembangan serta inovasi yang dilakukan Indonesia telah banyak yang menjadi rujukan Internasional. Hal itu mendukung berbagai upaya untuk mendorong pengelolaan gambut berkelanjutan.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK) Agus Justianto menjelaskan tantangan dalam pengelolaan gambut sangat kompleks dan dinamis.

Pengelolaan gambut harus menyeimbangkan antara konservasi keanekaragaman hayati ekosistem gambut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Hasil litbang memberi solusi terhadap keberlangsungan ekosistem gambut,” kata Agus dalam webinar Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI), Kamis (22/4/2021).

Webinar Perkumpulan Masyarakat Gambut Indonesia (HGI), Kamis (22/4/2021).

Webinar seri ketiga tersebut merupakan pemanasan jelang Kongres HGI dan Seminar Internasional bertajuk “Peatlands for Environment, Food, Fiber, Bio-energy and People”, Oktober 2021.

Menurut Agus salah satu yang perlu terus didorong adalah litbang terkait pengelolaan gambut oleh masyarakat setempat. Terutama soal penyiapan dan penataan lahan, pengelolaan kesuburan tanah, dan pengelolaan air.

“Ini penting mendapatkan pengejawantahan dalam green inovasi dan
green teknologi dengan arah kebijakan pengelolaan lahan dan budidaya tanaman di lahan gambut,” katanya.

Dia menekankan, praktik pengelolaan gambut dalam perspektif kearifan lokal perlu dipadukan dengan paket teknologi inovatif berbasis riset untuk memperkuat pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan, bertanggung jawab dan bijaksana.

Ketua Umum HGI Profesor Supiandi Sabiham menyatakan banyak peneliti Indonesia yang menghasilkan penelitian gambut dengan kualitas tinggi dalam dua dasawarsa terakhir. Penelitian yang dihasilkan mampu menyaingi hasil-hasil penelitian dari negara-negara lain.

“Sebagian dari hasil penelitiannya sudah mereka publikasikan pada jurnal internasional bereputasi,” katanya.

Dalam webinar ini penelitian yang ditampilkan diantaranya adalah tentang degradasi gambut, emisi gas rumah kaca, kebakaran lahan dan masalah agronomi yang dikaitkan dengan usaha peningkatan produktivitas lahan gambut.

Menurut Supiandi, Indonesia sering dituduh hanya bisa merusak dan kurang mampu untuk memelihara gambut. Tetapi tuduhan tersebut sering menjadi kurang atau bahkan tidak benar setelah dilakukan penelitian dengan baik.

“Isu-isu tersebut diharapkan dibahas secara komprehensif dan berimbang berdasarkan data empiris yang diperoleh dengan baik dan sahih, sehingga kita bisa menjawab tentang apa yang diisukan oleh mereka dengan berlandaskan pada informasi berbasis sains,” katanya.

Pembicara yang hadir pada webinar kali ini adalah Dr Yiyi Sulaeman (Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa Kementan), Profesor Maman Turjaman (Peneliti BLI KLHK), Dr Syaiful Anwar (Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB-University), dan Dr Samen Baan (Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, UNIPA).

Ada juga Dr Sofyan Kurnianto (Peatland Scientist, RAPP), Dr Soewarso (Direktur Sinar Mas Forestry), dan Prof Haruni Krisnawati (Koordinator International Tropical Peatland Center).

AI