Perempuan Menginspirasi Penyelamatan Bumi

0
453
Masyarakat Desa Hutan

Banyak perempuan di Indonesia yang telah berperan besar di tingkat tapak dalam pengendalian perubahan iklim dan menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Mereka bisa menjadi inspirasi di level lokal, nasional, bahkan global.

Demikian terungkap pada diskusi virtual Pojok Iklim yang diselenggarakan Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu (21/4/2021).

Diskusi bertema “Perempuan Inspiratif Selamatkan Bumi” mendengar kontribusi yang dilakukan oleh perempuan di lapangan, yaitu petani hutan, penyuluh kehutanan dan polisi kehutanan (Polhut) wanita. Diskusi sekaligus untuk memperingati Hari Kartini.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Laksmi Dhewanthi menyatakan banyak upaya, inisiatif, gagasan dan aksi yang sudah dilakukan perempuan-perempuan di tingkat tapak dalam pengendalian perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan.

Semua aksi-aksi cerdas di tingkat tapak tersebut, katanya, menjadi penguat semangat untuk terus memberdayakan masyarakat, menebarkan semangat kepedulian lingkungan, dan menebar manfaat bagi kehidupan yang lebih baik.

Laksmi menyampaikan beberapa penggalan kalimat dari surat Kartini yang dibukukan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk terus bertekad memperjuangkan dan menyelamatkan lingkungan hidup.

“Sebagai Penyuluh, Polhut dan Manggala Agni, wanita berjuang bukan karena perempuan tapi karena sadar akan perannya sebagai manusia yang berdedikasi, yang mencintai sepenuh hati mencurahkan daya upaya dan tenaganya untuk menjaga bumi tanpa meninggalkan fungsi sebagai wanita seutuhnya,” ungkapnya.

Penyuluh Kehutanan Penyelia Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Bali Utara, Neneng Anengsih membagikan pengalaman dan upayanya dengan melakukan pendampingan pelestarian lingkungan bersama kelompok tani binaannya.

Strateginya adalah dengan mengacu pada visi misi pembangunan Bali berdasarkan tata kehidupan Krama Bali yaitu menyatu dengan alam berdasarkan nilai-nilai filsafat sad kertih Bali.

Menurutnya, dengan demikian akan mudah bersinergi dengan para pihak dan kemungkinan adanya resistensi menjadi rendah.

“Penyuluhan pelestarian lingkungan dilakukan ke lintas generasi, mencakup isu atau permasalahan riil di lapangan yang kemudian berujung pada manfaat nyata yang dirasakan masyarakat dari sisi penghasilan atau tambahan pendapatan. Pelestarian lingkungan yang dilakukan secara komprehensif kemudian berbuah penghargaan Kalpataru,” paparnya.

Kepala Pusat Penyuluhan KLHK, Mariana Lubis menyatakan para penyuluh, dan kelompok tani hutan binaannya serta polhut telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk penyelamatan bumi di tingkat tapak secara nyata.

Peran yg dijalankan oleh para ujung tombak garda terdepan pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini menjadi semakin penting dalam rangka mencapai ketahanan iklim.

“Tidak ada halangan bagi perempuan untuk berprestasi sebagaimana harapan Kartini. Emansipasi yang dilakukan bukanlah merupakan pemberontakan terhadap pria,” katanya.

Sugiharto