Stabilisator Bahan Pangan di Masa Pandemi

0
400
Foto: Perum Bulog

Sudahkah Perum BULOG menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik dalam menjaga ketahanan pangan nasional selama pandemi Covid-19 menghantam Indonesia? Jawabannya adalah sudah.

Sejak virus Corona resmi diumumkan masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020, Pemerintah Indonesia langsung bergerak melakukan serangkaian kebijakan dan tindakan. Berbagai stimulus ekonomi digelontorkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan mengatasi dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap perekonomian nasional.

Dalam keterangan persnya, Minggu, 15 Maret 2020, Presiden Joko Widodo  menyampaikan bahwa pemerintah telah dan terus melakukan langkah-langkah cepat untuk mengantisipasi dampak dari pandemi Covid-19. Salah satunya adalah menjaga ketersediaan dan stabilitas bahan pangan di dalam negeri.

Ketersediaan bahan pangan  pada kondisi pandemi memang memegang peranan penting mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar rakyat. Hal itu perlu menjadi perhatian karena jika tidak ditangani dengan baik, pandemi Covid-19 dapat memicu krisis pangan.

Di satu sisi, pandemi Covid-19 mendorong penerapan pembatasan sosial yang membuat aktivitas dan produktivitas masyarakat menjadi terganggu. Di sisi lain, meskipun aktivitas masyarakat lebih terbatas, kebutuhan pangan dikonsumsi dalam kuantitas yang sama.

Langkah pertama yang dilakukan pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan adalah memerintahkan Perum BULOG melakukan operasi pasar.

Penugasan kepada Perum BULOG untuk melakukan operasi pasar sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan kepada Perusahaan Umum (Perum) BULOG dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional, dimana Perum BULOG ditugaskan untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, jagung, dan kedelai.

Penugasan itu langsung dilaksanakan Perum BULOG dengan menggelar operasi pasar beras di sejumlah daerah yang stok berasnya menipis, terutama di tujuh provinsi yang benar-benar membutuhkan kegiatan tersebut yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Dalam kegiatan operasi pasar tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pangan itu tidak hanya menjual komoditas beras saja, tetapi juga komoditas lainnya seperti gula, jagung, daging beku dan lainnya.

Kegiatan operasi pasar dapat dilakukan dengan baik karena Perum BULOG memiliki stok beras yang lebih dari cukup. Pada pertengahan Maret 2020, stok beras yang dimiliki BUMN itu sebanyak 1,5 juta ton CBP (cadangan beras pemerintah) yang tersebar di gudang-gudang BULOG di seluruh Indonesia.

Perum BULOG juga mendapat pasokan beras lagi melalui penyerapan yang dilakukan sepanjang masa panen raya, yang dimulai bulan Maret 2020. Hingga bulan Juni 2020, tambahan pasokan beras dari kegiatan penyerapan di dalam negeri mencapai sekitar 700.000 ton atau 50% dari target penyerapan di sepanjang tahun 2020 yang dipatok sekitar 1,4 juta ton.

Dengan stok beras yang banyak itu, upaya menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan tidak hanya berupa operasi pasar saja. Perum BULOG juga mendistribusikan beras melalui  kegiatan “Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga” (KPSH) di berbagai daerah.

Kegiatan KPSH  dengan menggunakan CBP itu  dilakukan tidak hanya di daerah yang minim pasokan, tetapi juga di daerah lainnya agar pasokan dan harga beras di seluruh daerah di Indonesia tetap stabil.

Selain operasi pasar dan KPSH, selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia di tahun 2020, Perum BULOG mendapatkan tugas  menyalurkan bantuan sosial (Bansos) Presiden kepada sekitar 3,2 juta keluarga terdampak Covid-19 di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi  (Jabodetabek).

Tugas itu dilakukan  dalam dua tahap, yaitu bulan Mei sebanyak 1,4 juta keluarga dan tahap kedua dilakukan pada bulan Juni dengan jumlah penerima bansos sekitar 1,8 juta keluarga.

Perum BULOG mampu menuntaskan kedua tahap penyaluran Bansos itu  tepat waktu, tepat sasaran, tepat kualitas dan bahkan lebih cepat dari target waktu yang ditentukan.  Tugas penyaluran bantuan tahap II  dituntaskan pada tanggal 15 Juni 2020 atau lebih cepat empat hari dari target waktu yang ditetapkan.

Setelah tugas menyalurkan Bansos Presiden tuntas, Perum BULOG mendapat penugasan dari Kementerian Sosial melalui Program Bantuan Sosial Beras (BSB) tahun 2020 untuk meringankan beban pengeluaran bagi 10 juta KPM-PKH dengan memberikan 15 kilogram beras per bulan selama tiga  bulan (periode Agustus–Oktober 2020).

Alokasi beras yang digunakan untuk BSB sebesar 450.000 ton dengan kualitas medium yang berasal dari CBP  di seluruh gudang-gudang BULOG di Indonesia. Tugas ini juga mampu dilaksanakan dengan baik.

Bahkan,  untuk memastikan proses penyaluran Bansos Beras  berjalan lancar, Direktur Utama Perum BULOG Budi Waseso ikut langsung mengawasi. Keterlibatan Budi Waseso  antara lain dengan membentuk tim monitoring dan evaluasi (monev) yang memantau dan mengawasi langsung seluruh proses pekerjaan, baik dalam pengelolaan waktu, kepastian kualitas beras serta proses penyalurannya kepada keluarga penerima manfaat.

Kiprah Perum BULOG yang positif dalam menjaga ketahanan pangan selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia di tahun 2020 akhirnya diganjar sejumlah penghargaan.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan apresiasi atas kiprah Perum BULOG berupa penghargaan  stabilisator harga pangan di tengah pandemi. Penghargaan ini berikan karena Kemendag mengakui peran penting Perum BULOG dalam  menjaga kelancaran dan stabilisasi harga pangan, sekaligus membantu percepatan pemulihan ekonomi nasional, terutama dalam penyediaan kebutuhan pangan pokok di masa pandemi Covid-19.

Penghargaan juga diberikan Kementerian Sosial (Kemensos) atas kinerja cemerlang Perum BULOG dalam pelaksanaan program BSB.

Evaluasi yang dilakukan Kemensos menunjukkan  pelaksanaan program Bantuan Sosial Beras (BSB) berjalan baik, meski  menghadapi tantangan yang tidak mudah. BSB dengan volume 450 ribu ton dapat diselesaikan tepat waktu dan memberi efek positif bagi petani dan jasa transportasi.

Kiprah di 2021

Kiprah Perum BULOG dalam menjaga ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19 di tahun 2021 diperkirakan masih cemerlang. Dengan stok beras yang dimiliki pada bulan April mencapai sekitar 1,1 juta ton, BUMN sektor pangan ini akan dengan mudah melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik.

Walaupun begitu,   Perum BULOG juga masih perlu dukungan dari berbagai pihak. Terutama dukungan untuk menemukan saluran bagi penyaluran stok berasnya. Badan pemerintah ini tidak mungkin diminta melakukan penyerapan beras petani sebanyak-banyaknya tanpa diberikan kemudahan dalam penyalurannya.

Begitu juga dengan dukungan anggaran dari pemerintah. Perum BULOG  mengusulkan  penyediaan anggaran dalam APBN 2021 untuk mengadakan beras CBP sebanyak 1,5 juta ton dengan nilai Rp 15 triliun di tahun 2021.

Dengan dukungan anggaran dari APBN, Perum BULOG tidak perlu lagi risau dengan beban bunga yang harus ditanggungnya dari kegiatan pengadaan beras. Buyung Nareh Wibowo