Alsintan Beri Penghasilan Tambahan UPJA

* Jika Dikelola dengan Baik

0
285

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memberikan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) dari Kementerian Pertanian (Kementan) kepada puluhan kelompok tani (Poktan) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pemberian Alsintan ini diberikan kepada dua kategori. Pertama, masyarakat yang merupakan Kelompok Tani (Poktan), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), usaha pelayanan jasa alsintan (UPJA), Koporasi Petani dan Kelomppok Usaha Bersama (KUB) serta masyarakat tani.

Kedua, bantuan Alsintan diberikan kepada Pemda Provinsi, Kabupaten/Kota dan Korem/Kodim. Untuk itu, sebelum mengajukan bantuan Alsintan dipastikan petani sudah termasuk ke dalam dua kategori ini.

Menurut Mentan, hal tersebut penting dilakukan, sehingga peralatan mesin pertanian yang dibutuhkan dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, untuk memastikan Alsintan yang diberikan benar-benar dimanfaatkan.

“Karena bantuan Alsintan umumnya hanya akan diberikan kepada petani yang berkontribusi aktif terhadap peningkatan hasil pertanian untuk bangsa Indonesia,” tegas Syahrul.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, jika Alsintan dikelola dengan baik akan memberi penghasilan tambahan bagi Poktan atau Gapoktan. Poktan atau Gapoktan bisa membentuk UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan), koperasi dan kelompok usaha bersama (KUB) untuk mengembangkan alsintan bantuan pemerintah.

“Alsintan yang dikelola UPJA di sejumlah daerah sudah banyak yang berhasil. UPJA terbukti bisa memberikan nilai tambah kepada poktan atau gapoktan,” kata Sarwo Edhy.

Menurut dia, bantuan Alsintan ke petani harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sebab, petani yang menggunakan Alsintan usaha taninya lebih efektif dan efisien.

“Kalau dulu petani membajak sawah dengan alat tradisional butuh waktu 5-6 hari per hectare (ha). Kini, dengan memanfaatkan traktor, petani hanya butuh waktu 3 jam/ha. Sehingga, penggunaan Alsintan 40% lebih efisien,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan, bantuan tersebut berupa 70 alat mesin pertanian, di antaranya 3 unit power thresher, 5 unit corn sheler atau pemipil jagung, 1 unit unit pengolahan hasil (UPH) Mokaf yang bersumber dari pusat/Kementerian Pertanian dan 39 unit alat olahan hasil pertanian.

“Pengadaan Alsintan melalui APBN dan APBD Gunung Kidul. Hampir setiap tahun kami memberikan fasilitas ini agar petani di Gunung Kidul lebih maju kembali,” kata Bambang Wisnu.

Dia mengatakan, bantuan Alsintan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kehilangan hasil karena pasca panen, mempercepat pasca panen serta menaikkan nilai ekonomi hasil pertanian agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

Selain itu, pemkab juga melakukan pembangunan infrastruktur air. Antara lain lima dam parit untuk mendukung tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) 10 unit, irigasi perpompaan besar 5 unit.

Dinas juga melakukan pembangunan irigasi perpipaan untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan 4 unit serta irigasi perpompaan menengah untuk hortikultura 2 unit untuk mendongkrak produktivitas tangan pangan dan modernisasi sektor pertanian di Gunung Kidul.

“Bantuan untuk mengurangi kehilangan hasil komoditas pertanian, mempercepat proses panen, meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian, menyediakan infrastruktur air, serta upaya mitigasi bencana dampak perubahan iklim,” katanya.

Wakil Bupati Gunung Kidul, Heri Susanto juga mengungkapkan rasa bangganya kepada petani-petani yang telah berkontribusi banyak untuk memajukan perekonomian Gunung Kidul, terutama di masa pandemi ini.

“Upaya pemkab adalah bagaimana optimalisasi lahan dengan paling tidak setiap sentuhan teknologi pada akhirnya nanti akan meningkatkan produksi pangan kita. Maka dalam kesempatan hari ini, untuk bisa membantu dan meringankan proses pengolahan baik itu lahan, pasca panen dan sebagainya, sehingga produksi itu menjadi lebih meningkat,” katanya.

Mekanisasi Penuh

Sepanjangan tahun 2020, Kementerian Pertanian melalui Ditjen PSP sendiri telah menggelontorkan 844 unit Alsintan untuk mendukung food estate atau lumbung pangan di Kalimantan Tengan (Kalteng).

Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengatakan, sejak awal Food Estate di Kalteng digarap dengan full mekanik. “Penerapan Alsintan sangat masif di Food Estate. Bahkan, tanam perdana Presiden dilakukan dengan Alsintan,” katanya.

Sarwo Edhy menjelaskan, di tahun 2020, Ditjen PSP telah menyalurkan 844 Alsintan prapanen. “Jumlah itu adalah bantuan untuk Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau. Ada juga bantuan untuk Provinsi Kalteng,” katanya.

Rincian alokasi bantuan Alsintan prapanen tahun 2020 dari Ditjen PSP untuk mendukung Food Estate di Kalteng adalah di Kabupaten Kapuas sebanyak 432 unit Alsintan, terdiri dari traktor roda 4 (147 unit), traktor roda 2 (150 unit), rice transplanter (35 unit) dan pompa air (100 unit).

Sementara untuk Kabupaten Pulang Pisau, alat dan mesin pertanian yang diberikan sebanyak 370 unit, terdiri dari traktor roda 4 (85 unit), traktor roda 2 (150 unit), rice transplanter (35 unit), dan pompa air (100 unit).

“Dari dua kabupaten itu, total aksintan yang diberikan adalah 802 unit. Ditambah dengan bantuan 42 unit traktor roda 4 untuk Pemerintah Provinsi Kalteng yang dapat digunakan untuk membantu pengolahan tanah di 2 kabupaten tersebut, sehingga total 844 unit Alsintan yang sudah kita berikan untuk mendukung Food Estate tahun 2020,” jelasnya. PSP

Kementan akan Bangun Uppo 1.155 Unit

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) tahun 2021 akan membangun Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) sebanyak 1.155 unit di beberapa lokasi di Indonesia.

Dirjen PSP Kementan, Sarwo Edhy mengatakan, pemerintah memberikan fasilitas penyediaan pupuk sebagai salah satu perlindungan kepada petani.

Hal ini sesuai UU No. 19 Tahun 2013 mengenai Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. “Bentuk perlindungan dan pemberdayaan tersebut di antaranya penyediaan sarana dan prasaran produksi yang diperlukan petani,” katanya di Jakarta, pekan lalu.

Sarwo mengatakan, salah satu upaya pemerintah dalam pertanian ramah lingkungan adalah pengembangan pupuk organik melalui UPPO. Program ini sudah hampir berjalan lima tahun yang tujuannya menuju pertanian ramah lingkungan. “Kita bagikan ke kelompok tani yang sesuai hasil verifikasi dan validasi,” katanya.

Komponen UPPO terdiri dari rumah kompos dan dilengkapi bak fermentasi, kandang komunal, ternak sapi/kerbau sebanyak 9 ekor sapi terdiri 2 jantan dan 7 betina, alat pengolah pupuk organik (APPO) dan kendaraan roda 3.

Anggaran per UPPO sebesar Rp200 juta yang diberikan dalam dua tahap melalui transfer ke kelompok tani. Tahap pertama sebesar 70% dari total anggaran dan sisanya 30% setelah bangunan fisik selesai.

“Kelompok tani kita berikan bimbingan teknis pertanian untuk membangun dan membuat kandang ternak, termasuk membeli komnponen yang dibutuhkan untuk kegiatan UPPO,” katanya.

Untuk pengembangan pupuk organik melalui UPPO tahun 2021, pemerintah menyediakan sebanyak 1.155 unit di 33 provinsi. Sarwo berharap dengan kegiatan bantuan ini akan ada penyerapan tenaga kerja.

Misalnya, untuk pekerjaan membangun fisik dan operasional UPPO. Diasumsikan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 15 orang/unit, sehingga total tenaga kerja yang dapat diserap melalui kegiatan UPPO sebanyak 17.325 orang. PSP