Kiprah Srikandi Penyuluhan Kehutanan Melestarikan Hutan

0
233
Penyuluh kehutanan muda Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nusa Tenggara Barat (NTB) Christin Jiwan

Kaum perempuan berperan besar dalam menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan hidup. Mewujudkan cita-cita emansipasi wanita yang digagas RA Kartini.

Sejumlah kaum perempuan menunjukan peran dan karya nyata untuk menjaga dan melestarikan hutan dan lingkungan hidup. Ada yang mendorong masyarakat untuk mengelola hutan secara berkelanjutan, membangun sekolah alam untuk mendidik generasi muda tangguh cinta hutan, dan menjadi motor usaha berbasis kehutanan untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak.

Peran kaum perempuan itu menegaskan apa yang dicita-citakan oleh RA Kartini tentang emansipasi wanita. Kaum perempuan nyatanya memang punya karakter kuat dan pemikiran yang maju untuk menyejahterakan masyarakat.

Salah satu perempuan itu adalah penyuluh kehutanan muda Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nusa Tenggara Barat (NTB) Christin Jiwan. Penyuluh yang bertugas di Resor Santong Sidutan Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Rinjani Barat itu tak lelah bergerak dari desa ke desa, menjelajah hutan untuk menemui masyarakat binaannya yang umumnya kaum lelaki. Jiwan membuktikan kalau perempuan bisa menjadi motivator kuat bagi masyarakat untuk mengelola hutan secara lestari.

Sejumlah kelompok tani hutan (KTH) menjadi binaan Jiwan. Diantaranya adalah Gapoktan Sanggapati (Desa Gumantar), Koperasi Tani Maju Bersama (Santong), KSU Kompak Sejahtera (Rempek), dan 7 KTH. Selain itu Jiwan juga sudah mendampingi 6 KTH hingga berhasil memperoleh persetujuan Perhutanan Sosial.

Ada kisah haru dalam perjalanan Jiwan melakukan penyuluhan. Di tahun 2018, saat gempa besar terjadi di Lombok, Jiwan adalah salah satu korban. Meski demikian, Jiwan tetap berdedikasi menjalankan tugasnya sebagai penyuluh.

“Saat itu rumah saya porak poranda. Walau menjadi korban, saya tetap menjalankan tugas menemui kelompok tani,” katanya.

Apalagi, bencana gempa secara tidak langsung meningkatkan ancaman kelestarian hutan. Masyarakat yang butuh bahan bangunan untuk merehabilitasi rumahnya terdorong untuk memanfaatkan kayu dari hutan. Illegal logging pun marak.

Dampaknya terasa kemudian. Mata air berkurang. Udara pun menjadi lebih panas karena tutupan hutan berkurang.

“Dari peristiwa itu masyarakat semua belajar. Illegal logging menyebabkan kerugian bagi diri sendiri,” kata Jiwan.

Meski demikian ada hikmah dari semua peristiwa. Jiwan mendapat penghargaan sebagai pemenang lomba wana lestari tingkat Provinsi. Naik di tingkat Nasional, Jiwan mendapat penghargaan sebagai pemenang harapan I.

Namun hikmah yang paling mengharukan dirasakan Jiwan adalah saat sejumlah KTH binaannya secara resmi mendapat surat keputusan Perhutanan Sosial. Satu tokoh masyarakat binaan Jiwan juga mendapat penghargaan dari  sebuah media nasional sebagai tokoh pembaharuan.  “Dari sebuah musibah ada hikmah yang kita rasakan,” katanya.

Kini saat bencana lain yaitu pandemi Covid-19 menerjang Indonesia, Jiwan tak surut menjalankan perannya. Pertemuan dengan kelompok tani secara massal memang dikurangi untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Kalaupun pertemuan harus dilakukan, maka diterapkan protokol kesehatan. Saat ini, kata Jiwan, dia memperbanyak kegiatan jelajah hutan sehingga pertemuan dengan masyarakat bisa dilakukan tanpa harus melibatkan banyak orang. Pertemuan di area terbuka dengan sinar matahari yang menyinari plus udara segar bisa mencegah penularan Covid-19.

Menurut Jiwan, salah satu tantangan dalam pengelolaan hutan yang masih ditemui di lapangan adalah masih banyaknya petani hutan yang menanam cengkeh. Padahal, cengkeh belum terdaftar sebagai tanaman kehutanan.

Untuk mendorong petani hutan beralih dari jenis tanaman itu, Jiwan kerap mengajak petani hutan membandingkan hasil yang diperoleh dari tanaman cengkeh dengan tanaman multi purposes tree species (MPTS) lain seperti alpukat dan durian. Dari perhitungan yang dilakukan petani sendiri, terbukti pendapatan dari durian dan alpukat lebih menguntungkan ketimbang cengkeh. “Akhirnya mereka pun peln-pelan mau mengganti tanaman cengkeh dengan durian, alpukat atau jenis lain,” katanya.

Penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) RR Rina Ummu Hani Assalimah (depan) bersama siswa sekalolah alam Cah Bolang

Sekolah Alam

Kisah inspiratif juga datang dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) RR Rina Ummu Hani Assalimah yang akrab dipanggil Putri meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kelestarian lingkungan dan hutan melalui jalur pendidikan.

“Melalui pendidikan kita bisa membangun karakter agar mempunyai kecakapan memimpin, mandiri, memahami toleransi dan bertanggung jawab pada kelestarian lingkungan dan hutan,” kata Putri Rina.

Dia membangun sekolah alam Cah bolang tahun 2018 yang didirikan Desa Karang Kepatihan, Kecamatan Balong. Saat ini sekolah alam Cah Bolang memiliki dua kelas dengan total siswa 18 orang. Menariknya siswa yang ikut dalam sekolah alam itu didominasi perempuan.

Sebagai pengajar. Putri Rina melibatkan siswa dua sekolah alam yang juga didirikannya di tempat lain.

Selain sekolah alam, Putri Rina juga membentuk organisasi pecinta alam Gempa Adventure.

Didirikan 16 tahun lalu, 14 Februari 2005, sampai saat ini Gempa Adventure masih eksis dengan jumlah anggota aktif mencapai 180 orang. Mereka yang tergabung umumnya adalah pelajar dan mahasiswa.

“Banyak program pendidikan yang kami laksanakan, termasuk penghijauan dengan menggandeng sejumlah mitra,” kata Putri Rina.

Selain melalui pendidikan, upaya untuk mendukung konservasi hutan juga dilakukan lewat jalur kewirausahaan. Putri Rina mendampingi petani hutan untuk memproduksi hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti bubuk kopi dan wedang uwuh, dengan merek dagang sendiri. “Produk dikemas dengan baik dan cantik sehingga menarik pembeli,” katanya.

Ada ratusan petani yang terlibat dalam kegiatan ini. Lagi-lagi mereka yang terlibat umumnya adalah kaum perempuan.

Kelompok Tani Hutan Purun Serasi di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat


Pemberdayaan Wanita

Dari Sumatera Utara, Nurjanah memimpin Kelompok Tani Hutan Purun Serasi di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat memberdayakan anggotanya dengan memanfaatkan anyaman purun.

“Kami duduk-duduk, goyang-goyang kaki, dapat rezeki,” kata Nurjanah berkelakar tentang kegiatan yang dilakukan kelompoknya dalam menganyam purun.

Berdiri sejak tahun 2015, anggota KTH Purun Serasi termasuk 3 orang yang sudah lansia. KTH Purun Serasi menghasilkan berbagai produk anyaman mulai dari topi, tas, tempat tisu, sandal hingga cover buku.

Omsetnya pada tahun 2019 lalu mencapai Rp26 juta. Omset turun pada tahun 2020 lalu menjadi Rp22,4 juta sebagai efek dari pandemi Covid-19. “Alhamdulliah meski tidak besar ada rezeki yang bisa diterima kami,” katanya.

Kepala Pusat Penyuluhan KLHK Mariana Lubis menyatakan kiprah pada srikandi dalam penyuluhan kehutanan itu membuktikan KLHK memberi ruang yang sangat luas bagi kaum perempuan untuk berkarya.

“Dari 2.755 penyuluh kehutanan ASN, sebanyak 800 orang merupakan wanita. Atau 1/3-nya,” kata Mariana.

Keterlibatan wanita sebagai PKSM juga terlihat nyata meski jumlahnya memang belum banyak. Dari 5349 orang PKSM, sekitar 200 orang diantaranya adalah wanita.

Mariana mengingatkan soal pentingnya peran penyuluhan untuk mendorong pemberdayaan petani binaan sekaligus mendukung kelestarian lingkungan dan hutan.

“Penyuluh harus bisa memotivasi, memberi edukasi, memberi bimbingan hal-hal teknis sehingga bisa memanfaatkan peluang untuk pemberdayaan KTH binaan,” katanya. AI