Petik Anggur Segar di Kampung Anggur

Rio Aditya, Pelopor Kampung Anggur, Bantul

0
472
Rio Aditya, Pelopor Kampung Anggur, Bantul

Kampung Anggur. Sesuai namanya, hampir seluruh rumah di kampung Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY  ini ditanami pohon Anggur. Lebih dari 300 pohon anggur ditanam di kampung ini. Tanaman anggur ini juga membuat rumah dan kampung terlihat asri, teduh dan menarik.

Apalagi saat tanaman berbuah lebat, terutama di bulan Juli sampai Oktober, buah sedang ranum-ranumnya. Anggur merah dan hijau bergantungan di pohon sangat menggoda siap dipetik. Kampung ini sungguh menarik dan menjadi jujugan (kunjungan) orang. Pengunjung bisa memetik dan membeli anggur langsung dari pohon. Ada sensasi tersendiri memetik, menimbang, dan menikmati angur yang dipetik.

Bagaimana kampung ini bisa menjadi terkenal dengan Anggurnya, menyedot pengunjung dan menjadi destinasi wisata anggur? Ini tidak lepas dari kiprah Rio Aditya, warga dari Dusun Plumbungan RT 04, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Rio tanpa kenal lelah merintis kampung ini menjadi Kampung Anggur. Keberhasilannya membudidayakan anggur memancing minat warga Kampung Plumbungan mengikuti langkahnya. Kerja kerasnya berhasil mengubah warna desa menjadi produktif, asri, dan positif dalam karya.

Mengapa mas Rio begitu fokus dengan aktivitasnya ini, bahkan rela keluar dari pekerjaannya, Agro Indonesia berkesempatan mewancarainya.

Apa yang melatarbelakangi Kampung Anggur ini?

Muncul nama kampung Anggur karena banyak yang tanam anggur. Dulu tidak seperti ini. Saya mulai tanam tahun 2010 dan warga mulai menanam tahun 2017-2018. Ada selisih waktu 7 tahun baru mereka menanam. Awalnya saya tanam sendirian. Belum ada yang percaya bahwa menanam anggur bisa berhasil. Banyak yang mencibir saya. Paling juga buahnya asem, nggak enak dan sebagainya itu. Saya buktikan, waktu itu tanaman berbuah serempak, mateng bareng, tepat lebaran haji, masjid dekat rumah untuk penyembelihan binatang qurban, ada makan siang. Anggur saya hidangkan dan mereka mencicipi. Begitu mencicipi merasa  buahnya enak dan ingin belajar untuk tanam.

Jadi sepele sebenarnya. Masyarakat ingin bukti  dan saya buktikan. Lalu saya ajari. Berhubung sudah bisa lalu menanam, di tempat kami banyak yang tanam anggur makanya orang menyebutnya  Kampung Anggur.

Kenapa pilih Anggur?

Saya suka tanaman ini. Sebenarnya dulu buat seneng-seneng,  klangenan, saya tanam anggur buat tetenger saat saya diterima jadi Guru (Bimbingan Konseling) di SMK tahun 2010. Pertama diterima kerja tanam satu pohon. Tetapi hati saya tergerak untuk tani, saya niatkan untuk jadi petani. Jadi tahun 2017 resign jadi guru dan putuskan fokus di anggur. Saya melihat ini sangat potensial. Dari situkan tidak mungkin kalau cuma bermain bibit saja. Orentasinya buah karena petani yang dicari hasilnya. Makanya ini saya perbanyak produksi buah, minimal untuk suplay pasar sekitar. Sekarang saya tanam di tiga tempat. Untuk yang satu ini luas 150m2 setahun bisa panen ½ ton. Dengan  harga Rp100.000/kg (untuk semua jenis)  dan bibit  Rp125 000/bibit. Dan untuk memudahkan usaha  tahun 2016 saya pakai brand Satriya Grape Farm.

Sulit tidak budidaya Anggur?

Tidak sulit, tetapi memang harus telaten.  Untuk memangkas batang yang tidak potensial. Mengurangi  buah, jika ada dompolan yang banyak harus dikurangi.  Itu umum, seperti tani di sawah, ada penyiangan dan sebagainya. Kalau memang fokusnya bertani, ya seperti itu, harus dilakukan dan dijalani. Ini anggur tanam tahun 2010 usianya sudah 11 th. Sudah sering digundul jadi bibit.  Kalau anggur perlakukannya memang seperti itu, nanti begitu sudah digundul, trubus baru, baru bunga. Dari setelah digundul,  dipotong, Anggur jenis Ninel 125-135 hari bisa dipanen

Ada berapa banyak jenis yang ditanam?

Saya tanam  40 an jenis. Sebenarnya anggur  yang masuk Indonesia ada 300an jenis. Tapi saya tanam tidak banyak jenisnya. Karena  kalau terlalu banyak, capai juga kalau dipelajari. Anggur itu beda perlakuan, beda bentuk, beda rasa, beda warna. Konsumsi pupuknya beda. Ini saja ada yang mau saya kurangi, dimatikan. Fokus beberapa jenis saja. Dan saya lebih fokus ke jenis Ninel.

Anggur Ninel paling enak?

Bukan paling enak, paling gampang rawatnya, paling gampang adaptasinya, tidak mengenal musim. Kalau enak itu relatif, tergantung selera masing masing. Punya cita rasa sendiri. Buah anggur saya pernah mateng bareng, beberapa jenis, saya petik satu satu, saya minta beberapa orang mencicipi. Jawabannya berbeda-beda. Relatif. Ada yang seneng manis, ada yang seneng agak asam karena segar dan macem macem.

Anggur panennya setahun berapa kali?

Tergantung caranya, tergantung petaninya, mau dibikin setahun sekali, setahun dua kali bisa. Kalau ditempat kami kemarin diforsir untuk bisa berbuah berkelanjutan. Pernah saya bikin dari tahun 2017-2019, berbuah terus, tidak berhenti.  Berhenti jeda cuma 4 bulan Januari sampai April di tahun 2019. Saya hentikan pembuahan, saya gunduli. Dan langsung trubus bisa panen lagi. Bisa buah setiap saat, dan puncaknya di bulan Juli sampai Oktober

Disini warga tanam semua?

Saya awali tanam tahun 2010 di sini ada 130 kk. Sebenarnya warga yang ikut tanam, tapi yang fokus waktu itu hanya 7 orang, lalu bertambah 30-an kk. Tambah tahun tambah banyak. Sekarang terbalik, yang tidak tanam bisa dihitung hanya sekitar 10 orang.

Tidak tanam karena mahal ?

Tidak, ya karena tidak seneng. Tidak ada waktu. Mahal tidak, karena KWT (Kelompok Wanita Tani) dibantu bibit secara gratis  dan dari pemerintah itu pasti ada bantuan hampir setiap tahun. Pasti ngucurkan dana untuk pengadaan bibit. Kalau  mau pasti dapat dananya. Tapi saya tidak ingin warga selalu mengandalkan bantuan yang gratis, harus ada upaya, jadi saya buat strategi supaya ada tanggungjawab dan kemauan.

Strategi seperti apa?

Awal tanam itu, pertama kali perlatihan, belajar tanam. Mereka dasarnya belum ada. Jadi saya balik programnya, harusnya tanam dulu, tapi saya ajari dulu pelatihan cara memperbanyak baru menaman. Nanti kan ketahuan mana yang benar benar senang, daya juangnya ada.

Ada dana bantuan untuk KWT dari kelurahan berupa  tanaman toga seperti  terong, lombok. Saya tanya, itu nanti seperti itu nunggu harus ada bibit dan disebar ke masyarakat. Habis itu nggak ada income lagi. Jadi tidak berkembang, masyarakat tetap miskin dan menunggu bantuan lagi akan jadi “ masyarakat pengemis”. Saya nggak mau. Akhirnya  saya mengusulkan bagaimana kalau saya ajari caranya tanam anggur. Disetujui. Dana yang itu dipakai untuk pelatihan. Saya nembusi ke pihak desa. Boleh tidak dana dialihkan untuk budidaya anggur, diijinkan. Dapat dana dari desa Rp3 juta, saya spekulasinya tidak banyak, dipakai separuh Rp1,5 juta  untuk pelatihan pembuatan bibit. Modal Rp1,5 juta. Warga mulai berlatih membuat bibit. Jadi 100 bibit, dari 100 bibit hidup 70 an bibit. Tapi bibit yang 70 itu, tidak dibagikan gratis ke warga. Warga harus nebus 1 bibit seharga Rp. 100 ribu, dan dana itu nantinya  masuk kas KWT.  Biar KWT ada tambahan dana, jadi ada kas untuk kegiatan kegiatan yang lagi.

Warga mau nebus, 100 ribu bukannya terlalu tinggi?

Yang berniat memperbanyak yang nebus, yang tidak ya cuma lihat saja, jadi penonton. Sebenarnya waktu saya mengambil keputusan itu agak ragu juga. Harapan saya mereka berhasil, saya meminimalkan kegagalan dengan seperti itu. Memang agak keras. Habis itu saya dimarahi suami-suaminya, masak ibu-ibu suruh nebus 100 rb. Untuk makan sehari hari saja sulit. Saya ketawa saja. Ngasih gratis  bisa pak, gampang, yang susah itu menjaga. Kalau saya  beri gratis belum tentu mau merawat. Kalau membeli akan berusaha apapun biar tanaman tidak mati.

Ya ini saya lakukan karena saya tidak ingin masyarakat saya jadi pengemis. Harus ada usaha. Kalau mau gratis sebenarnya bisa, pemerintah mudah memberi cuma budayanya, masyarakat umumnya kalau dikasih gratis itu tidak ada rasa handarbeni (merasa memiliki). Bagaimanana orang bisa memiliki, yang dicari itu rasa memilikinya. Ya dengan  cara harus berjuang. Berjuangnya dengan apa, membeli dengan harga mahal itu pasti mereka akan menjaga, bagaimana supaya tanaman itu tidak mati.

Kemarin membeli 100 rb itu bukan untuk saya, tapi untuk KWT, menebus ke KWT biar nanti kalau ada pelatihan lagi ada dana. Itu. Mereka  ada perjuangan. Kenyataannya berhasil. Masyakat berhasil menanam sekarang boleh dibilang setiap hari dan pada akhir pekan banyak pengunjung yang datang. Baik membeli buah anggurnya atau membeli bibitnya. Setiap minggu boleh dibilang ada pemasukan. Dan KWT juga punya dana tambahan.

Pelatihan dari Dinas Pertanian?

Pelatihan dari saya. Bahan pelatihan dari saya. Saya  ajari bagaimana memperbanyak bibit sekaligus pengenalan anggur seperti apa, dan sebagainya. Setelah mereka belajar memperbanyak, selang 2 bulan bibit sudah bisa dilahankan, ditanam.  Bibit perbanyakan hasil dari pelatihan

Kalau sudah jadi kampung Anggur, adakah aturan mainnya?

Di management kampung anggur ini dulu memang ada aturan, banyak kesepakatan, termasuk aturan orang berkunjung itu harus seperti apa. Misal setiap penjualan 1 bibit ada potongan dana untuk kas sebesar Rp5000. Ada laporan yang masuk yang diketahui semua, mana yang menjual, berapa. Tetapi seiring waktu, untuk menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka sekarang dibuat fleksibel. Kalau memerlukan dana, ditembak satu-satu. Ada kebutuhan seperti ini, mau nyumbang berapa. Karena dengan sistem yang sudah berlaku, menurut saya kurang pas, karena bisa menimbulkan kecemburuan sosial.

Tapi untuk aturan harga buah anggur per kilo dan bibit tetap sama. Harga anggur per kilo semua jenis dihargai Rp100 ribu  dan bibit mulai 125 ribu untuk jenis jenis tertentu bisa beda.

Harapan ke depan?

Saya berharap bisa lepas dari eksport buah anggur. Kita bisa mendapat buah dari rumah kita sendiri jadi bisa mengurangi ketergantungan buah luar khususnya anggur.

Visi misi?

Swasembada. Saya hanya orang biasa dan bukan orang hebat. Hanya kebetulan saya dikasih kesempatan lebih awal, kalau yang pinter banyak. Saya hanya ingin berbagi.

Anna Zulfiyah