Embung, Solusi Atasi Masalah Air di Musim Kemarau

0
276

Wilayah Indonesia sebagian kini memasuki musim kemarau, seperti di Provinsi Bali dan beberapa daerah lainnya. Untuk mengatasi masalah kesulitan air di musim kemarau, salah satu upaya Kementerian Pertanian (Kementan) adalah mengandalkan embung.

Masyarakat tani, terutama petani di Kabupaten Karangasem, Bali sudah merasakan manfaat embung yang dibangun Kementan melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

Keberadaan embung mampu mampu mengatasi kekurangan air bersih selama beberapa bulan ke depan. Begitu pula dengan petani, yang tetap dapat mengaliri sawahnya dari embung yang tersebar di beberapa kecamatan tersebut.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan,  keberadaan embung memang amat penting untuk menghadapi krisis air akibat musim kemarau.

Dia menyebutkan, embung dapat menampung air pada saat musim hujan dan bisa dimanfaatkan pada musim kemarau. Dengan demikian, mampu meminimalisir kerugian petani. “Embung merupakan program strategis untuk penampungan air hujan atau sumber sumber mata air di tempat lain,” katanya.

Dirjen PSP Ali Jamil menerangkan, embung diharapkan menjadi solusi bagi petani untuk dapat berproduksi dan meningkatkan produktivitasnya di tengah situasi apapun. “Pertanian ini kan sektor yang rentan terhadap segala situasi. Saat banjir, dia bisa saja terdampak, begitu juga  ketika musim kemarau. Nah, embung bisa mengantisipasi saat musim kemarau agar sawah petani tetap dapat teraliri air,” ujar Ali.

Ali menjelaskan, embung merupakan bagian dari pengelolaan air yang menjadi kebutuhan mendasar petani dalam produksinya. Embung sangat dibutuhkan untuk mencegah lahan pertanian terendam saat musim hujan serta dapat dimanfaatkan sebagai pengairan lahan secara efektif dan efisien di musim kemarau.

“Embung ini water management. Tujuannya agar petani dapat terhindar dari dampak kerugian yang disebabkan oleh kondisi alam,” ujar Ali.

Sementara Direktur Irigasi Ditjen PSP Kementan, Rahmanto menambahkan, keberadaan embung sangat membantu sektor pertanian, khususnya dalam menyiapkan musim tanam dan sebagai antisipasi dampak iklim. “Embung pertanian dibangun untuk mempertahankan ketersediaan sumber air di tingkat usaha tani sebagai suplesi air irigasi,” kata Rahmanto.

Embung Tingkatkan Produktivitas

Air memang menjadi salah satu faktor penting untuk sektor pertanian. Agar pasokan air mengalir dengan baik, Kementan melaksanakan program pembangunan embung Desa Gunung Intan, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utar, Kalimantan Timur.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menuturkan, embung merupakan program strategis dalam konteks pengairan lahan pertanian. Embung akan menjaga irigasi pengairan pertanian, karena pertanian tak boleh terganggu oleh faktor apapun. “Ketika musim kemarau tiba, petani tak perlu khawatir karena ada embung ini yang akan memasok air, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga,” katanya.

Dia menyebutkan, jika pasokan air ke sawah cukup, maka produktivitas tanaman bisa meningkat. Begitu juga dengan adanya embung, suplai air ke sawah petani tetap tersedia.

Dirjen PSP Ali Jamil menerangkan, melalui embung nantinya pengelolaan air, baik air hujan maupun air tanah akan dikelola dengan baik sesuai kebutuhan. Embung juga akan mengatur pengairan pertanian agar tahan di segala kondisi, baik saat musim hujan maupun musim kemarau.

“Embung itu adalah water management. Embung berfungsi mengatur air, baik air hujan maupun air tanah yang nantinya akan memasok kebutuhan pertanian di sekitarnya,” ujarnya.

Menurut dia, air yang tertampung dalam embung ini bisa dimanfaatkan petani saat kemarau. Selain untuk untuk tanaman pangan, embung juga bisa dimanfaatkan untuk sektor lainnya seperti perkebunan, hortikultura dan peternakan.

“Embung bukan hanya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas perkebunan, hortikultura, juga ternak. Kita harapkan embung bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani,” harapnya.

Direktur Irigasi Pertanian Ditjen PSP Kementan, Rahmanto merinci, embung yang dibangun untuk P3A Karya Bersama itu merupakan anggaran tahun 2020.

Luas areal yang terairi hingga 50 hektare (ha) dengan sumber air dari Sungai Babulu. “Petani di sana, sebelum dibangun embung, produktivitas padinya 4 ton sekali panen. Setelah ada embung meningkat menjadi 4,5 ton sekali panen,” tutur Rahmanto.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara, Mulyono menuturkan, pembangunan embung ini amat berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas pertanian di wilayahnya.

“Embung ini tak hanya untuk pertanian, tetapi juga untuk mengairi hortikultura, perkebunan dan peternakan. Saat ini proses pengerjaannya sudah 100%. Sudah selesai sejak Agustus 2020 dan langsung termanfaatkan,” katanya.

Ketua P3A Karya Bersama, Susanto mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan embung ini. “Kami berharap keberadaan embung ini dapat menjamin ketersediaan sumber air untuk lahan pertanian di desa kami,” ucapnya. PSP

RJIT Dongkrak Indeks Pertanaman, Ogan Komering Ilir

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) melakukan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) untuk meningkatkan produktivitas dan Indeks Pertanaman (IP) petani.

Setelah melakukan kegiatan di Desa Cahya Maju, Kecamatan Lempuing dengan  Kelompok Tani Sumber Lestari, kini program RJIT diarahkan untuk Kelompok Tani Karya Tani di Desa Tebing Suluh, Kecamatan Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menerangkan, air merupakan kebutuhan utama dalam sektor pertanian. “Dalam pertanian, harus selalu ada air. Oleh karena itu, manajemen air menjadi sangat penting,” ujarnya.

Mentan menyebutkan, Kementan mempunyai sejumlah program untuk  mendukung manajemen air, salah satunya RJIT.

“Perlu ditata airnya, misalnya di mana sekundernya, di mana primernya, di mana tersiernya, di mana kuarternya, di mana irigasi cacingnya. Dengan begitu, air betul-betul dapat dimanfaatkan, sehinga mendorong indeks pertanaman,” tegas Mentan.

Direktur Jenderal PSP Kementan, Ali Jamil menambahkan, pengelolaan air irigasi harus dilakukan dari hulu sampai ke hilir. Sebab, katanya, tidak berfungsinya atau rusaknya salah satu bangunan irigasi akan mempengaruhi kinerja sistem irigasi. “Akibatnya, efisiensi dan efektivitas irigasi akan berkurang,” jelas Ali.

Melalui kegiatan RJIT, Ali berharap kondisi infrastruktur jaringan dapat ditingkatkan, sehingga mampu meningkatkan fungsi layanan irigasi yang akhirnya mampu meningkatkan provitas lahan.

“Kegiatan ini bisa meningkatkan luas areal tanam dan indeks pertanaman, termasuk meningkatkan partisipasi Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)/Gabungan (GP3A)/Kelompok Tani (Poktan)/Gabungan Poktan dalam pengelolaan jaringan irigasi,” terang Ali.

Direktur Irigasi Dirjen PSP Kementan, Rahmanto merinci, untuk kegiatan RJIT di lokasi ini sudah selesai 100% pembangunannya dengan target mengairi lahan seluas 133 hektare (ha).

“Konstruksi tahap akhir sudah selesai 100% dengan saluran irigasi panjang 431 meter, lebar 0,5 meter dengan kedalaman 0,6 meter, harapannya dapat mengairi lahan lebih dari 130 ha,” katanya.

Dia minta kepada petani — terutama yang tergabung dalam P3A — memelihara sarana pertanian yang sudah dibangun pemerintah. “Peran masyarakat dan P3A untuk perawatan irigasi tersier dan embung atau sumber air lainnya sangat diharapkan. Aset pemerintah ini untuk kepentingan bersama,” tegasnya. PSP