Memanfaatkan Teknologi, Penyuluhan Tak Henti Saat Pandemi

0
115
Tangkapan layar PKSM Deni Arifin saat beraksi memberi penyuluhan tentang budidaya lebah trigona lewat akun Youtube

Pandemi COVID-19 berdampak pada banyak aspek kehidupan masyarakat. Tak hanya kesehatan tapi juga sosial dan ekonomi. Kebijakan pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran virus corona berujung pada melambatnya perekonomian bahkan hingga di tingkat lokal.

Di sinilah penyuluhan semakin menunjukan peran strategisnya. Penyuluhan diharapkan bisa menggerakkan masyarakat untuk mendapat solusi kesejahteraan keluarga saat perekonomian sedang terpuruk.

Untuk mengatasi keharusan pembatasan sosial, kegiatan penyuluhan bisa memanfaatkan teknologi informasi guna menjangkau masyarakat target tanpa harus melakukan pertemuan tatap muka.

Itulah yang berlangsung pada penyuluhan kehutanan. Sejumlah penyuluh melakukan aktivitas penyuluhan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial. Sementara Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebagai pembina kegiatan penyuluhan kehutanan membangun ekosistem sistem informasi yang bisa meningkatkan kemampuan dan kapasitas penyuluh dan masyarakat petani hutan.

Lihat saja yang dilakukan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Deni Arifin. PKSM di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sanggau Timur, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat  itu menjangkau masyarakat binaannya dengan menggunakan aplikasi media sosial seperti Youtube, Facebook, dan Instagram.

Deni menegaskan pentingnya kegiatan penyuluhan kehutanan di masa pandemi. Menurut dia, pembatasan sosial membuat banyak pabrik tutup dan akhirnya banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan.

Daya beli masyarakat pun turun. “Akhirnya tidak dapat dipungkiri, komunitas kelompok tani hutan (KTH) pun terpengaruh, baik dari segi pengembangan maupun pemasaran hasil usaha,” katanya.

Menurut Deni penyuluh dan KTH binaan harus tetap terkoneksi agar bisa keluar dalam dalam keadaan sulit seperti saat ini. Dia menyatakan ada peluang besar yang dimiliki Indonesia untuk keluar dari situasi ini.

Peluang itu adalah sumber daya alam yang melimpah, termasuk ekosistem hutan yang bisa menghasilkan berbagai hasil hutan kayu maupun bukan kayu (HHBK). Salah satu HHBK yang bisa dikembangkan adalah madu.

“Madu adalah HHBK dengan peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan masyarakat sekaligus sarana pelestarian hutan,” kata Deni.

Potensi besar madu itu juga yang diintip Deni. Dia mengembangkan budidaya lebah madu kelulut. Deni bahkan sudah punya rumah produk madu dengan bendera “Madu Kelulut Amanah”.

Tantangannya, lanjut Deni, pembatasan sosial yang harus diterapkan demi pencegahan penyebaran virus Corona. Jika dulu tatap muka bisa dilakukan setiap saat untuk kegiatan penyuluhan, temu karya, temu usaha, pertemuan kelompok, dan praktik lapangan, maka kini harus dibatasi.

Deni menyatakan, mengalihkan kegiatan tersebut secara online (daring) tak bisa dilakukan sepenuhnya. Pasalnya, KTH binaan seringkali berada di lokasi yang remote, jauh dari sinyal internet.

Oleh sebab itu, katanya, penyuluh harus bijak dalam melakukan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan bisa dilakukan secara daring maupun luring (offline). “Pertemuan tatap muka dilakukan dengan peserta yang terbatas dan menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak,” katanya. Pertemuan itu juga sekaligus sosialiasi kepada anggota KTH tentang pentingnya penerapan protokol kesehatan.

Deni menyatakan, untuk melengkapi pertemuan luring yang berkurang intensitasnya, dirinya melakukan pertemuan daring. Plaform media sosial yang sudah ada seperti Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter bisa dimanfaatkan.

“Pertemuan virtual dilakukan untuk pembinaan berkelanjutan,” katanya

Sebagai millenial, Deni memang tak asing dengan berbagai platform media sosial. Deni yang lahir pada tahun 1993 atau baru berusia 28 tahun itu saat ini mengelola kanal Youtubenya sendiri dengan jumlah follower mencapai ratusan. Sementara di Instagram, follower Deni tembus ribuan orang.

“Saat ada (petani binaan) yang bertanya, saya buatkan video untuk membantu KTH memecahkan masalah. Link Youtube saya bagikan lewat WhatsApp,” katanya.

Pemanfaatan teknologi bukan saja dari aspek penyuluhan tapi juga pengembangan. Deni memanfaatkan marketplace untuk memasarkan madu yang diproduksi KTH binaannya.

Panen madu trigona

Deni menyatakan madu merupakan komoditas yang dicari masyarakat di tengah pandemi karena diyakini menjadi suplemen penambah daya tahan tubuh. Ini menjadikan peluang pemasaran melalui marketplace semakin besar.

Deni mengingatkan kepada petani binaannya agar selalu menjaga kualitas produk dan layanan yang diberikan dalam penjualan melalui marketplace. Jika tidak konsumen akan kecewa dan memberi rating buruk pada produk kita.

Rating buruk akan mengakibatkan pembeli lain menghindari untuk melakukan pembelian. Sementara rating baik membuat pembeli akan melakukan pembelian ulang dan mengundang pembeli lain.

“Dalam penyuluhan perlu ditekankan untuk menjaga kualitas produk yang kita hasilkan,” katanya.

Pemanfaatan teknologi informasi akhirnya menjadi solusi saat pandemi. Terbukti koloni lebah kelulut di KTH binaan terus meningkat, termasuk pada tahun 2020 lalu. Demikian juga produksi madu kelulut yang volumenya terus naik.

“Peningkatan produksi meningkatkan pendapatan masyarakat. Ini juga sedikit membantu perekonomian masyarakat di tengah pandemi,” katanya.

Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan Mariana Lubis menyatakan, apa yang dilakukan oleh Deni adalah contoh yang sangat baik untuk kegiatan penyuluhan memanfaatkan teknologi informasi.

“Memanfaatkan teknologi, Deni memperluas pengetahuan, membina, dan membantu kelompok tani membangun ilmu wirusaha trigona,” katanya.

Mariana menyatakan sejumlah sistem informasi telah dikembangkan oleh KLHK untuk mendukung kegiatan penyuluhan. Diantaranya adalah SIMLUH (Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan), SIMPING (Sistem Informasi Pendampingan) untuk Perhutanan Sosial, Cyber Extention, dan Wana Lestari.

Selain itu, juga dioptimalkan Learning Management System untuk melaksanakan E-Learning demi meningkatkan kapasitas penyuluh dan petani hutan.

“Jadi mengoptimalisasi teknologi digital dalam pelaksanaan penyuluh. Penyuluhan masuk ke ekosistem baru saat pandemi Covid dengan memanfaatkan teknologi informasi,” kata Mariana.

Mariana menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan penyuluhan di masa pandemi. Menurut dia, kegiatan penyuluhan harus tetap berlangsung meski pertemuan tatap muka dikurangi demi mencegah penyebaran Covid-19. Tujuannya memacu peningkatan kapasitas petani hutan.

Untuk diketahui, saat ini ada 30.294 KTH yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, ada 97% yang masih berada pada level pemula dan sangat butuh pembinaan.

Pemanfaatan teknologi informasi juga bisa mengurangi celah antara jumlah penyuluh dengan kebutuhan idealnya. Saat ini tercatat ada 2833 penyuluh yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Sementara kebutuhan ideal adalah 27.000 orang. Jadi jumlah penyuluh ASN saat ini hanya 10% dari kebutuhan.

AI