Optimasi Lahan Rawa Tingkatkan IP Petani

0
155
Kementerian Pertanian kembali menggulirkan program optimasi lahan rawa untuk meningkatkan produktivitas atau Indeks Pertanaman (IP) melalui kegiatan penataan sistem air dan lahan. Di Riau, optimasi dilaksanakan di lokasi Kelompok Tani Bina Usaha di Desa Kuala Mulya, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu. Target pelaksanaan optimasi lahan rawa ini seluas 101 hektare (ha) dan telah rampung dilaksanakan

Kementerian Pertanian (Kementan) kembali menggulirkan program optimasi lahan rawa. Kegiatan ini merupakan usaha untuk meningkatkan produktivitas atau Indeks Pertanaman (IP) melalui kegiatan penataan sistem air dan lahan.

Di Provinsi Riau, misalnya. Optimasi lahan rawa itu dilaksanakan di lokasi Kelompok Tani Bina Usaha di Desa Kuala Mulya, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu.Target pelaksanaan optimasi lahan rawa ini seluas 101 hektare (ha) dan telah rampung dilaksanakan. Dengan demikian, diharapkan petani bisa menanam dua kali dalam setahun. Bahkan, jika memungkinan tiga kali setahun.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, salah satu tujuan program optimasi lahan rawa adalah untuk meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia yang sudah menjadi targetnya. “Indonesia ini memiliki potensi lahan rawa seluas 33,4 juta ha. Tetapi memang dalam pengelolaannya terdapat beberapa faktor pembatas,” katanya.

Mentan menyebutkan, optimasi lahan rawa ini dimaksudkan untuk meningkatkan IP petani. Berbagai hal yang menjadi kendala diatasi agar optimasi lahan rawa ini berdampak posisif pada peningkatan IP dan produktivitas petani.

“Dalam optimasi lahan rawa ini, kita harus memerhatikan tingkat kesuburan lahan yang rendah dan beberapa faktor penghambat lainnya dalam meningkatkan IP dan produktivitas,” tegas Mentan Syahrul.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan, faktor lain yang juga harus mendapat perhatian adalah kemasaman tanah yang tinggi. Selain itu, fluktuatif air perlu diperhatikan karena akan terjadi genangan air tinggi pada saat banjir atau pasang. Jika musim kemarau atau kering akan menjadi dangkal.

“Selain itu, infrastruktur lahan dan air yang masih sangat terbatas dan belum berfungsi dengan optimal. Biaya usaha tani di lahan rawa juga tinggi,” ujar Ali.

Dia melanjutkan, optimasi lahan rawa merupakan usaha meningkatkan produktivitas atau meningkatkan IP melalui kegiatan penataan sistem air dan lahan.

“Melalui program optimasi lahan rawa ini, kami memperbaiki secara keseluruhan yang menjadi faktor perhambat produktivitas dan peningkatan IP agar petani dapat meningkatkan kesejahteraan mereka,” tegasnya.

Selain itu, optimasi lahan rawa juga merupakan jawaban untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia terus terjaga di masa depan. Terutama dengan terus meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.

Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan, Erwin Noorwibowo menerangkan, kegiatan optimasi lahan rawa di Indragiri Hulu, Riau dilakukan dalam bentuk pembangunan atau rehabilitasi  irigasi rawa di tingkat usaha tani.

“Optimasi lahan juga dilakukan dengan cara penguatan tanggul, drainase dan infrastruktur irigasi rawa lainnya,” tutur Erwin.

Optimasi lahan rawa juga dilakukan dengan pembuatan atau rehabilitasi dan penataan infrastruktur lahan sesuai tipologi. “Pada lokasi ini telah dilakukan rehabilitasi saluran irigasi rawa dan pembangunan pintu air untuk tata kelola air pada lahan rawa,” terangnya.

Konstruksi Optimasi Lahan Rawa

Sementara itu di Desa Anjir Pasar Lama, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kementan melaksanakan program pembangunan konstruksi dalam rangka optimasi lahan rawa.

Program pembangunan konstruksi optimasi lahan rawa itu untuk mendukung aktivitas pertanian Kelompok Tani Harapan Maju. Ali Jamil menyebutkan, optimasi lahan rawa salah satu upaya untuk memanfaatkan lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan (lahan tidur).

Selain itu, tentunya membantu petani agar meningkatkan produksi dengan menaikan indeks pertanaman. Jika selama ini IP hanya sekali, maka dengan program ini bisa meningkat menjadi dua atau tiga kali dalam setahun.

Untuk itu, faktor-faktor yang juga harus mendapat perhatian adalah kemasaman tanah yang tinggi rezim air yang fluktuatif sehingga genangan air biasanya tinggi pada saat banjir atau pasang, serta dangkal dan mengalami kekeringan pada saat musim kemarau.

“Selain itu infrastruktur lahan dan air yang masih sangat terbatas dan belum berfungsi dengan optimal. Biaya usaha tani di lahan rawa juga tinggi,” ujar Ali.

Melalui program optimasi lahan rawa ini, jelas Ali, Kementan berupaya memperbaiki hal-hal yang secara dominan menjadi faktor penghambat produktivitas dan peningkatan IP agar petani dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Selain itu, optimasi lahan rawa juga merupakan salah satu cara kita untuk memastikan ketahanan pangan Indonesia terus terjaga di masa depan. Terutama dengan terus meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya selalu berupaya keras untuk meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia. Salah satu tujuan program optimasi lahan rawa adalah dalam rangka hal tersebut. “Optimasi lahan rawa ini dimaksudkan untuk meningkatkan IP pada lahan yang dimiliki petani.  Dengan adanya program ini diharapkan berbagai kendala dalam pemanfaatan lahan rawa dapat diatasi sehingga peningkatan IP dan produktivitas dapat dicapai,” terangnya.

Dijelaskan, Indonesia ini memiliki potensi lahan rawa sebesar 33,4 juta ha. Hanya saja, dalam pengelolaannya terdapat beberapa faktor pembatas. “Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam optimasi lahan rawa ini adalah tata kelola air yang belum berjalan optimal yang kemudian berdampak pada munculnya berbagai faktor penghambat dalam meningkatkan IP dan produktivitas,” katanya.

Erwin Noorwibowo menjelaskan, target lahan yang dioptimasi seluas 350 ha di lokasi Desa Anjir Pasar Lama. Salah satu kegiatan yang dikerjakan adalah rehabilitasi irigasi rawa, pembuatan tanggul, pembuatan jembatan.

“Pembuatan jembatan ini untuk membantu mobilisasi petani juga peralatan (alat mesin pertanian) di lokasi pertanian rawa,” katanya.

Kegiatan optimasi lahan ini terus dilakukan Kementan dengan tujuan agar lahan yang terlantar (tidur) dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Hal ini penting, karena alih fungsi lahan pertanian, tiap tahun terus terjadi. Jika pemerintah tidak melakukan antisipasi dengan penyediaan lahan, tidak menutup kemungkin produksi pangan ke depan akan terus berkurang.

Optimasi lahan, peningkatan IP maupun program food estate yang dilakukan Kementan saat ini tidak lain untuk mengamankan produksi pangan dimasa mendatang. PSP

Pemanfaatan Lahan untuk Kedaulatan Pangan

Serikat Petani Indonesia (SPI) Banten bersama dengan Koperasi Petani Indonesia membangun upaya bersama untuk pengelolaan lahan pertanian dan kelembagaan koperasi agar bisa membantu Banten mewujudkan kedaulatan pangannya.

Dalam acara Halal bi halal DPW Serikat Petani Indonesia (SPI) Banten bersama Koperasi Petani Indonesia (KPI) Banten diusung tema “Memperkuat Organisasi untuk Meraih Kemenangan dan Mewujudkan Kedaulatan Pangan”.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Umum DPP-SPI Agus Ruli Ardiansyah, dan dihadiri oleh para pengurus SPI wilayah, cabang dan basis, serta anggota KPI Banten. Juga para tamu undangan jaringan gerakan rakyat di Banten. “Pertemuan ini membahas antara lain tentang perjuangan Reforma Agraria, kedaulatan pangan, pertanian agroekologis dan koperasi,” ujarnya.

Rais Ketua Tim Reforma Agraria Serikat Petani Indonesia (TRA-SPI) Banten menyatakan, SPI saat ini masuk ke dalam Tim Percepatan Penyelesaian Konflik Agraria dan Penguatan Kebijakan Reforma Agraria, bersama Kepala Staf Kepresidenan RI, Menteri LHK, Menteri ATR, Kepolisian, TNI dan kementerian/lembaga lainnya.

“Karena itu, SPI Banten tengah berfokus pada penyelesaian konflik agraria prioritas di Cibaliung Pandeglang, Gorda Serang, Cigemblong Lebak, Picung Pandeglang dan Banjar Pandeglang. Kita akan koordinasi terus dengan pemerintah daerah untuk mendukung Reforma Agraria,” ujar Rais.

Anie Afiana, Ketua KPI Banten, menyampaikan, “KPI Banten tengah melakukan pendataan hasil panen anggota secara presisi, penyusunan rencana usaha yang lebih sistematis, pengolahan paska panen, dan distribusi/pemasaran antar basis.”

“Dengan demikian pertanian akan terintegrasi dari hulu ke hilir, antara budidaya dan pengolahan paska panen, dengan keluarga petani sebagai aktor kunci untuk mewujudkan Kedaulatan Pangan”, katanya. Jamal/PSP