Samberembe, Kampung Mina Wisata Techno Park

0
136
Desa Wisata Samberembe

Mina padi adalah sistem pertanian yang dipadukan dengan perikanan. Teknik ini cenderung unik, karena lahan padi ditempatkan pada kolam ikan. Tanaman padi akan dibesarkan bersamaan dengan membesarkan ikan yang memiliki daya jual tinggi sehingga sekali panen untungnya dobel.

Tetapi meski teknik mina padi sudah dikenalkan lama dan bisa memberi hasil yang lebih, belum banyak yang melakukan. Karena ada yang melihat ini terlalu repot, modal banyak. Sebenarnya jika teknik ini diterapkan, keuntungan yang diperoleh jauh berlipat dibanding tanam padi secara konvensional.

Teknik ini yang kemudian dilakukan warga Dusun Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Budidaya padi yang biasa, sudah lama dilakukan warga Sambirembe, melihat keuntungan yang lebih dengan mina padi, di tahun 2011 masyarakat mulai menggunakan teknologi mina padi kolam dalam yaitu dengan dibuat kolam di sekeliling lahan.

Ternyata dengan teknologi tersebut hasil dari padi atau ikan bisa lebih meningkat jauh, operasional dalam hal panen dan pemeliharaan menjadi lebih mudah. Sehingga sampai sekarang sistem mina padi kolam dalam tersebut masih berlanjut.

Konsep seperti inilah yang ingin ditunjukkan Desa Wisata Mina Padi, Samberembe, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, kepada masyarakat bagaimana bertani dengan teknik mina padi bisa mendapat hasil yang lebih besar, berlipat.

Karena bisa mendapat hasil dari padi dan ikan, teknik mina padi ini yang menjadi dasar dan unggulan dusun Samberembe dijadikan sebagai Desa Wisata, Mina Wisata Technopark. Desa ini menjadi percontohan dan pusat pelatihan teknologi pertanian. Bukan hanya dari mina padi, tapi banyak teknik pertanian yang diterapkan di desa wisata ini.

Seperti yang sampaikan oleh penggagas desa wisata sekaligus Ketua Kelompok Pengelola Wisata di Samberembe, Ricky Wahid Syam. “Konsep ini dikembangkan dengan menggerakkan potensi SDM dan SDA yang ada di Samberembe, menekankan pada kerjasama antara petani, pokdarwis, dan pemerintah. menjadikan dusun Samberembe sebagai tempat belajar dan sebagai Kampung Wisata Mina Padi berbasis teknologi,” katanya

Sebagai Kampung Wisata Mina Padi, Samberembe menyediakan banyak pilihan wisata yang berada di satu lokasi, edukasi mengenai teknologi pertanian dan perikanan. Diperkenalkan juga sistem budidaya ikan nila dengan sentuhan kincir air. outbond, homestay, keliling desa dengan sepeda, pemancingan, pasar ikan, wisata kuliner dengan konsep persawahan yang menyajikan menu makanan dan minuman desa seperti sega liwet, botok yuyu, ikan lele, nila, produk olahan ikan, minuman segar dari rempah-rempah dan oleh-oleh hasil perikanan pertanian.

Mengaku sebagai orang kampung, Ricky melihat di dusunnya sumber daya alamnya luar biasa, air yang melimpah, tanah subur di lereng Merapi yang hijau. Kalau itu tidak digarap dengan baik, tidak dikenalkan dan diajarkan pada anak-anak generasi penerus, bagaimana mengolah sawah dengan baik, yang terjadi akan sia-sia, dan generasi muda akan pergi karena tidak bisa menempatkan, memanfaatkan dengan baik.

Warga dusun Samberembe rata-rata punya sawah dan selama ini petani di sini adalah orang tua yang menggarap sawah. Sedangkan yang muda lebih suka bekerja di kota menjadi pegawai atau karyawan, karena mereka beranggapan menjadi petani secara finansial tidak menjanjikan.

Dan itu benar, jika sawah dikerjakan secara konvensional, secara biasa, hasilnya memang kecil. Ketika orangtuanya meninggal tidak ada yang mau garap, karena tidak tahu cara menggarap sawahnya, nanti sawahnya bisa dijual, itu yang ditakutkan. Kalau sawah digarap dengan teknologi, memberi hasil yang berlipat, bisa membuat mereka tertarik. Ini bisa menarik pemuda untuk mau menggarap lahannya.

Ricky menggambarkan, tanam padi secara konvensional (hanya tanam padi saja), dengan lahan 1000 m2 waktu tanam 3-4 bulan, hasilnya kurang lebih Rp1,6-1,8 juta bersih. Paling bagus Rp2 juta. (dihitung rata-rata, biarpun tanah pribadi, dihitung sewa, dihitung tenaga).

Kalau dibagi 4 bulan, jatuhnya perbulan Rp 400-500 ribuan. Sekarang siapa yang tertarik kalau 1 bulan hanya dapat Rp 400-500 ribu? Sedangkan UMKnya lebih tinggi. Jadi wajar bila tidak tertarik menggarap sawah dan milih kerja di luar daripada jadi petani padi.
Akhirnya banyak yang tidak mau mengerjakan. Dengan tambah teknologi dalam luasan yang sama, hasil naik jadi 3-4 kali lipat. Kalau konvensional per bulan dapat Rp 400-500 ribu, dengan teknologi persekali panen dapat Rp. 5-6 juta an. Perbulan bisa Rp1,2-1,5 juta.

Ini menjadi menarik. Itu hitungan sederhana secara finansial. Dan jika aktivitas bertani itu dikemas menjadi wisata diharapkan generasi muda menjadi tertarik kembali menggeluti bidang yang sebelumnya dianggap tidak bergengsi tersebut.

“Sebenarnya persiapan untuk menjadi desa wisata, sudah dirintis beberapa waktu lalu. Melihat potensi SDA yang ada di dusun Samberembe, dan juga sudah banyak yang bertani dengan mina padi, teman-teman disini punya angan-angan kenapa tidak bikin desa wisata saja yang berbasis perikanan,” kata Ricky..

Menurutnya, waktu itu belum ketemu konsepnya. Kebetulan ada kegiatan KTNA. Ada 2 pilihan tempat Turi dan Samberembe untuk demplotnya. Seperti gayung bersambut Samberembe ditunjuk jadi tuan rumah Pekan Daerah Petani Nelayan Kontak Tani Nelayan Andalan (Peda-KTNA) DIY Juli 2019, membuat masyarakat Dusun Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, DIY, termotivasi untuk mengembangkan desa wisata secara swadaya.

Menurut Ricky acara seperti itu pasti akan ada pengunjung yang luar biasa, menjadi tempat kunjungan. Supaya tamunya tertarik ke Samberembe lagi harus dibenahi dan dilengkapi. Fasilitas dari dinas waktu hanya demplot saja, sedangkan untuk rame-rame, pasti ada fasilitas umum seperti; toilet, tempat istirahat, semacam pendopo, itu harus dipikirkan. Jadi sepakat jika ingin membangun dusun, desa wisata, ini kesempatan, untuk dijadikan tempat wisata, karena tidak perlu promosi, sudah dipromosikan secara tidak langsung dengan adanya KTNA. Langsung dikumpulkan teman-teman, tokoh masyarakat, karang taruna, membahas untuk desa wisata. Lahirlah kelompok pengelola wisata. Anna Zulfiyah

Modal Jadi Kendala

Sebagai kelompok, modal jadi kendala dalam pengelolaan wisata Samberembe. Untuk itu kelompok pengelola wisata ini memberanikan diri untuk pinjam KUR sebesar Rp50 juta. KUR ini dimanfaatkan untuk penunjang fasilitas lainnya seperti toilet, balai dan juga pendopo untuk transit ketika pengunjung beristirahat atau bersantai.

Penggagas desa wisata sekaligus Ketua Kelompok Pengelola Wisata di Samberembe, Ricky Wahid Syam menyampaikan untuk mengangsur KUR, kelompok patungan setiap bulannya, tetapi bagi yang mampu.

Karena tinggal di dusun tidak semua punya penghasilan yang sama, jadi yang mampu yang patungan. Ini akan jadi modal dasar kelompok. Sekarang modal tidak hanya dari kelompok, sudah banyak suport dari berbagai pihak.

“Ini memang ide gila. Bagaimana tidak, kita tidak punya modal tapi mau bikin desa wisata. Dan jelas akan banyak masalah yang muncul, tapi kita bertekad untuk bisa membangun bersama, “ujar Ricky
Ricky menuturkan setelah KTNA selesai kelompok dipanggil dan diminta presentasi (yang diwakili Ricky) oleh dinas, ditanya mau bikin apa, kelompok menyampaikan mau bikin desa wisata, yang berbasis teknologi pertanian dan perikanan. Karena itu jarang. Desa wisata biasanya dikombinasikan dengan pertanian dan perikanan, umumnya seperti itu. Contoh desa wisata A, ingin belajar pertanian, mereka menyiapkan apa yang diinginkan, misal bajak, tandur. Tapi di Samberembe semua itu sudah ada. Sudah menjadi kerja sehari hari. Jadi wisatanya sebagai daya tarik. Selama ini yang datang (sebelum jadi desa wisata), hanya kelompok-kelompok tertentu, seperti; kelompok tani, kelompok ikan dan belum luas. Jadi setelah dikonsep dengan wisata, menjadi luas. Keinginan kelompok direspon baik oleh Dinas.

Keberanian kelompok swadaya membangun desa dengan patungan pinjam KUR ternyata tidak sia sia dan berbuah manis, karena apa yang dilakukan kelompok mendapat banyak dukungan dari Pemerintah Kabupaten Sleman, dinas atau instansi seperti; Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Kehutanan, Dinas Pariwisata dan lainnya. Rumah Zakat, Bank Mandiri Syariah, dan yang lain suport dan bantuan dana mengalir untuk pembangunan desa wisata.

Management tertata dan untuk pengelolaan dana, supaya terdata dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, pengelolaan dana dikelola pihak ketiga Rumah Zakat. Anna Zulfiyah