Wamentan Harvick: Alsintan Mampu Genjot Produksi Pertanian

0
162
Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qalbi mengunjungi Balai Besar Pengembangan (BPP) Mekanisasi Pertanian (Mektan) dalam rangka menyaksikan secara langsung progres perkembangan penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi dan mekanisasi di Serpong, Banten, Kamis (10/6/2021).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Harvick Hasnul Qolbi berharap, penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) serta teknologi modern lainnya mampu meningkatkan produksi nasional.

“Kami optimistis bisa melangkah maju, cepat, dan progresif. Inovasi pertanian dari tradisional menuju pertanian modern berbasis teknologi dan mekanisasi adalah keniscayaan, dan saya bangga teman-teman tanpa henti melakukan inovasi dan eksperimentasi,” ujarnya.

Dia mengatakan hal itu saat mengunjungi Balai Besar Pengembangan (BPP) Mekanisasi Pertanian (Mektan) dalam rangka menyaksikan secara langsung progress perkembangan penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi dan mekanisasi di Serpong, Banten, Kamis (10/6/2021).

Harvick mengatakan, meningkatnya produksi pertanian tentu sejalan dengan keinginan Presiden, yakni menggunakan sebanyak mungkin teknologi baru untuk menghasilkan pertanian modern.

Mekanisasi pertanian di Indonesia terus meningkat sejak lima tahun terakhir. Ke depan, mekanisasi pertanian akan terus didorong untuk meningkatkan efisiensi usaha tani serta meningkatkan gairah anak muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Agro Indonesia mencatat, berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), mekanisasi pertanian nasional hanya 0,04 horse power (HP). Tahun 2019, mekanisasi sudah mencapai angka 2,15 HP.

Semakin tinggi horse power, maka semakin tinggi pula keterlibatan kerja sebuah mesin dalam kegiatan produksi, termasuk pertanian.

Mekanisasi pertanian memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani. Hal itu pula yang bakal menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian dan mengembangkan komoditas yang ada.

Berdasarkan catatan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, pemerintah telah memberikan bantuan Alsintan sekitar 720.000 unit dengan berbagai jenis. Jumlah itu diperkirakan naik hampir 500% dibanding periode sebelumnya.

Alsintan tersebut berupa rice transplanter, combine harvester, dryer, power thresher, corn sheller dan rice milling unit, traktor dan pompa air. Pada tahun 2015, bantuan Alsintan sebanyak 54.083 unit, tahun 2016 naik menjadi 148.832 unit.

Sedangkan pada tahun 2017 tercatat Alsintan yang diberikan sebanyak 82.560 unit, dan pada tahun 2018 sebanyak 112.525 unit. Tahun 2019, Kementan mengalokasikan Alsintan sebanyak 50.000 unit.

Alsintan tersebut berupa Traktor Roda-2 (20.000 unit), Traktor Roda-4 (3.000 unit), Pompa Air (20.000 unit), Rice Transplanter (2.000 unit), Cultivator (4.970 unit) dan Excavator (30 unit).

Alsintan mengubah mindset petani dari bertani secara tradisional ke pertanian modern. Usaha tani pun menjadi lebih efisien.

Alsintan Menekan Biaya

Direktur Alsitan Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Andi Nur Alam Syah mencontohkan, jika pengolahan lahan menggunakan tenaga manusia (cangkul), maka dalam 1 hektare (ha) sawah diperlukan 30-40 orang, dengan lama pengerjaan 240-400 jam/ha, dan menelan biaya mencapai Rp2-2,5 juta/ha.

Sementara dengan Alsintan (traktor tangan), jumlah tenaga kerja yang diperlukan hanya 2 orang, jumlah jam kerja cukup 16 jam/ha dan menelan biaya hanya Rp900.000-Rp1,2 juta/ha.

Begitu juga saat panen. Jika menggunakan Alsintan hanya butuh waktu 3 jam sudah selesai, sedangkan kalau menggunakan tenaga manusia perlu waktu 1 minggu.

Keuntungan lainnya adalah saat tanam bisa serentak, karena pengolahan lahan bisa cepat, sehingga petani bisa tanam 3 kali setahun. Kalkulasi pemerintah dengan mekanisasi dapat menghemat biaya produksi hingga 30% dan menurunkan susut panen 10%.

Mekanisasi juga menghemat biaya olah tanah, biaya tanam dan panen dari pola manual yang menelan biaya Rp7,3 juta/ha menjadi Rp5,1 juta/ha. Itu sebabnya, untuk optimalisasi Alsintan, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan penyuluh terus memobilisasi penggunaan Alsintan agar bisa digunakan secara optimal oleh petani.

Dia mengataku optimis untuk mewujudkan modernisasi pertanian di daerah terdepan. Pasalnya, Kementan telah memiliki modal atau pondasi yang kuat, tinggal dimantapkan organisasinya melalui Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA), sehingga modernisasi benar-benar bisa terwujud.

Pemantapan tersebut bukan hanya dari sisi kuantitas, tapi fokus kepada kualitas dari bantuan. “Ke depan, fasilitasi kita harap sekali sehingga bisa berkelanjutan karena sudah untung. Nah, kalau sudah untung, kita tak usah nyiapin Alsintannya. Makna pembangunan kan pemberdayaan, karena petani itu diberi fasilitasi supaya bergerak,” ujarnya kepada Agro Indonesia, Selasa (8/6/2021).

Andi Nur Alam menjelaskan, pemantapan Alsintan dari sisi kualitas dipastikan dapat mengurangi tindak penyelewengan bantuan Alsintan itu sendiri. Kemudian, Alsintan tidak lagi dimiliki atau dikuasai oleh ketua kelompok. “Sehingga ke depannya, yang kita bangun adalah Alsintan itu dalam satu pengelolaan melalui UPJA. Pertanian modern kita sudah jalan,” tandasnya.

Sementara Wamentan Harvick juga mengingatkan bahwa  Presiden Joko Widodo terus berpesan agar sektor pertanian digenjot dan diperkuat. Selain itu, pihaknya juga telah menyepakati kerja sama perdagangan sektor pertanian dengan Chile.

“Peluang ekspor terbuka luas. Ini kalau diperkuat dengan mekanisasi dan inovasi teknologi, pasti produksi kita lebih masif,” katanya.

BBP Mektan telah melakukan penguatan peralatan Laboratorium Desain dan Rekayasa berbasis computer numerical control (CNC) agar bisa sejajar dengan industri Alsintan di dunia.

Lab Penguji BBP Mektan memiliki fasilitas uji Lab Traktor Roda-4 dengan kapasitas sampai dengan 200 hp, Traktor Roda-2, pompa air irigasi, sprayer, dan lab Alsintan pascapanen.

Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian (Balitbang) Pertanian, Fadjry Djufry, yang mendampingi Wamentan mengatakan, pihaknya terus bekerja untuk memaksimalkan inovasi pertanian. “Sebagaimana pesan Presiden dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, kami berkomitmen terus mendorong dan memprioritaskan produksi dalam negeri,” tegasnya.PSP

Combine Harvester Tekan Kehilangan Panen

Mekanisasi di bidang pertanian sekarang ini menjadi suatu keharusan di era industri 4.0. Pemanfaatan alat mesin pertanian (Alsintan) hampir menjadi sebuah keniscayaan dalam mengoptimalkan pendapatan para petani.

Selain penggunaan traktor untuk pengolahan lahan, ada juga peningkatan penggunaan alat pascapanen combine harvester (pemanen kombinasi) pada tanaman pangan.

Kegiatan memanen secara konvensional membutuhkan waktu yang lebih lama dan kehilangan (losses) mencapai 8%. Dengan penggunaan combine harvester, kehilangan hasil bisa dikurangi hingga 6%.

Kesulitan tenaga kerja juga bisa diatasi dengan pelaksanaan panen yang lebih cepat. Panen satu hektare sawah bisa diselesaikan dalam waktu dua jam.

Mega proyek lumbung pangan Nasional atau Food Estate yang sedang digencarkan pemerintah semakin mendorong penggunaan mekanisasi pertanian di dalam negeri.

Direktur Alsintan Andi Nur Alam Syah mengatakan, kesadaran akan kebutuhan Alsintan, seperti traktor dan lainnya makin tinggi. “Kita lihat saja sekarang, hampir tidak terlihat lagi petani membajak sawah dengan ternak. Rata-rata sekarang sudah menggunakan Alsintan,” katanya di Jakarta, Selasa (8/6/2021).

Dia menyebutkan, Alsintan seperti combine harvester akan mempercepat pemanenan sehingga petani bisa lebih matang untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya. Kehilangan hasil saat panen juga turun.

“Yang perlu diperhatikan dalam pemanenan adalah waktu. Harus tepat dan cepat dilakukan pemanenan karena hasil padi akan berpengaruh pada hasil akhir menjadi beras,” tuturnya.

Sementara itu Z. Rendra Nasution, Sales Division Head PT Satrindo Mitra Utama (Distributor Alsintan) menyebutkan, varian combine harvester sudah mulai banyak tersedia di Indonesia.

Dengan begitu, kata Rendra, petani punya banyak pilihan mana yang terbaik untuk lahan yang mereka kelola. Satrindo menyediakan combine harvester untuk padi yang dapat diganti pemotongnya sehingga bisa juga digunakan untuk memanen jagung.

“Mungkin ada spesifikasi khusus untuk jagung karena di beberapa daerah, terutama di kawasan Timur sedang berkembang. Kita pun tetap melakukan inovasi dan riset dalam memproduksi combine harvester khusus jagung dengan horse power (HP) tinggi,” katanya. Jamalzen/PSP