YPHI: Cara Pandang Tentang Hutan Harus Diubah

0
279
Dr Transtoto Handadhari

Yayasan Peduli Hutan Indonesia (YPHI) ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap hutan. Kerusakan dan pengelolaan hutan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tidak bisa hanya menyalahkan pengusaha kayu atau menuding satu pihak saja.

Dibentuk dan dipimpin oleh Dr. Transtoto Handadhari dibantu oleh Dr. Asep Karsidi sebagai Sekjen YPHI menyatakan kerusakan hutan disebabkan oleh hampir semua pihak, utamanya para pihak yang berkuasa seperti oknum-oknum pemerintah, aparat daerah, pengamanan sampai rakyat dan pelaku kejahatan kehutanan.

Sebagai wujud nyata ungkapan pemikiran YPHI tersebut, akan segera dilakukan deklarasi pada akhir Juli 2021 secara hybrid di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta.

“Deklarasi tersebut akan berisi utamanya pengakuan bersama bahwa kerusakan hutan menjadi tanggung jawab bersama dan bertekad melestarikan berbagai fungsi hutan yang sangat penting bagi kehidupan,” jelas Transtoto, rimbawan senior yang mantan Dirut Perum Perhutani, Jumat, 18 Juni 2021.

Butir kedua deklarasi yang berbunyi “memperlakukan hutan dengan hati bersih, berlandaskan keilmiahan, serta tanpa kecurangan”, adalah pernyataan yang sangat tajam menunjuk pada kelemahan akhlak dan perilaku yang umum terjadi dan harus dihindari semua pihak.

Butir terakhir menurut Ketua Umum YPHI itu merupakan sikap kooperatif untuk selalu membantu pemerintah dengan tulus dalam melaksanakan pengelolaan hutan. Meski tidak jarang dilakukan dengan kritik dan saran yang tidak disukai.

Irjenpol (pur) Bekto Suprapto yang juga menjabat sebagai Sekjen Kompolnas telah ditetapkan sebagai Ketua Panitia Deklarasi dibantu oleh Dr. David (APHI), Dina Hidayana (politikus), Dr. Wandojo Siswanto (pakar kehutanan), Heri Pranyoto (ekonom UI), Ir. Masyhud (birokrat), Iis Dahlia (artis), dr. Lula Kamal (aktivis lingkungan), Dian Novarina ( swasta), Hartadi (wartawan) dan lainnya.

“Deklarasi akan dipimpin oleh Dr. Transtoto Handadhari, disertai antara lain oleh Sekjen KLHK, para Senior Rimbawan, para Ketua Asosiasi terkait hutan dan lingkungan, TNI/POLRI, politikus, Akademisi, mahasiswa/pelajar, LSM terkait Kehutanan, seniman, wartawan, dan masyarakat sekitar hutan,” pungkas Asep Karsidi.  AI