Dari Jurnalis Lompat ke Dokter Hewan

Drh Khoirul Inayah, SPsi

0
158
Drh Khoirul Inayah, SPsi

Selama delapan tahun menjadi jurnalis, tidak membuatnya semakin enjoy, namun semakin membuatnya ingin menekuni bisnis lain. Hal itu tak luput dari makin berkembangnya media online yang semakin meminggirkan dunia media cetak dan media mainstream lainnya.

Karena itulah Khoirul Inayah banting setir, kembali ke habitatnya sebagai pencinta hewan dan sesuai dengan gelar kesarjanaan yang diraihnya, yakni dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya.

Dari tulis menulis, dikejar deadline beralih menjadi dokter hewan dan membuka praktik kesehatan bagi hewan-hewan piaraan, terutama kucing dan anjing. Di rumahnya yang sejuk, Khoirul Inayah berkisah kepada Agro Indonesia tentang perjalanannya bisnis barunya.

Sejak kapan menekuni bisnis ini,?

(Tersenyum). Kalau boleh saya sampaikan, inilah berkah dari pandemi Covid-19. Saya berpikir untuk membuka bisnis rumah hewan ini sejak merebaknya pandemi Covid-19 Maret 2020 lalu. Setelah resign dari koran Radar Mojokerto (kelompok Jawa Pos grup) saya menekuni berbagai bisnis di luar jalur jurnalistik.

Bisnis saya ini hancur berkeping-keping karena adanya pandemi Corona. Sejak bisnis saya yang lain hancur lebur bahkan berkeping-keping dilanda Corona, saya hrs berpikir ulang, apa yang harus saya lakukan sekarang  Potensi apa yg masih saya miliki dan belum saya kembangkan? Usaha apa yg tidak lebur terkena krisis ekonomi?

Lalu bagaimana sampai pada keputusan membuka praktik dokter hewan ini?

Jawaban saya sampai pada kesimpulan saya harus buka praktik dokter hewan. Kasihan ijazah saya yang ‘nganggur’ selama  20 tahun di lemari karena tidak saya pakai. Memanfaatkan anak-anak di rumah saya mengurus perizinan, menyiapkan tempat obat-obatan hewan, alat, ikut webinar, membeli buku-buku literatur, pokoknya belajar, belajar dan belajar. Kata teman-teman saya gas pol pokoknya.

Dari semua yang ada lakukan pasti ada tantangannya. Apa tantangan itu?

Banyak pakai banget……Secara internal dalam diri saya sendiri, setelah sekian lama bahkan sekian puluh tahun tidak  berkecimpung dalam dunia veteriner,  awalnya ya perlu adaptasi. Biasanya saat jadi wartawan pegang pulpen, keyboard laptop, sekarang pegang jarum suntik, stetoskop, termometer, alat2 bedah. Itu sesuatu (tertawa lepas).

Profesi saya kali ini menyangkut nyawa. Nyawa hewan kesayangan yang mana pemiliknya umumnya begitu sangat mencintai.  Saya tidak boleh salah diagnosa, tidak boleh salah memberi obat, tidak boleh salah melakukan tindakan, tidak  boleh salah terapi dan lain-lain.

Dari situ setiap ada pasien datang, yang saya lakukan terlebih dahulu adalah meminta petunjuk kepada ‘Yang Pemberi Hidup’ agar memberi saya petunjuk dalam mendiagnosa, memberi terapi kepada pasien. Saya merasa jadi lebih dekat pada Tuhan. Karena kekuatan saya hanya dari-Nya.

Itu kan tantangan dari dalam, kalau tantangan dari luar diri anda seperti apa?

Kalau tantangan dari luar, ya di Mojokerto banyak dokter hewan yang lebih senior, kliniknya lebih bagus dan lain-lain.Ya kadang konsumen kan membandingkanlah. Saya dianggap anak kemarin sore, ya biarlah. Bagi saya selama saya bekerja sesuai kode etik kedokteran hewan, nggak masalah dianggap apa. Yang penting saya bekerja dengan hati, bekerja dengan cinta.

Selama saya bekerja dengan cinta, Insya Allah hal sesulit apapun dapat dilalui dengan ringan. Seperti masih menjadi wartawan dulu.

Setelah sekian tahun mengapa baru sekarang  tertarik menekuninya?

Selain berkah pandemi yang saya ceritakan di awal, sebenarnya saya sejak lulus kuliah, bahkan sejak saya masih menjadi wartawan saya pernah berujar pada diri saya sendiri, suatu saat ketika saya sudah  40 tahun ke atas, ketika saya sudah pensiun, saya ingin membuka praktik dokter hewan.

Ternyata apa yg pernah saya ucapkan dulu, sekarang ditagih sama Allah untuk saya buktikan. Selain itu saya juga ingin menunjukkan pada orang tua saya, ibu terutama yang masih bisa menemani saya sampai detik ini bahwa apa yang diusahakan dulu untuk biaya kualiah saya di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair Surabaya sudah saya amalkan sekarang. Meskipun saya tahu beliau tidak pernah menuntut apapun dari saya, mau menjadi  wartawan,  guru atau dokter hewan itu terserah.

Saat sudah menekuni seprti sekarang apa kendalanya?

Apa ya? (hahahah). Banyak ilmu kedokteran hewan sekarang jauh lebih maju dibandingkan saat saya masih kuliah, obat obatan dan alat-alatnya juga. Jadi kita dituntut harus terus mengupdate diri.

Kalau dari sisi klien atau konsumen banyak juga sih. Ada klien yang perhatian banget sama hewannya, ada yang sudah mau sekarat baru gupuh dibawa ke dokter hewan. Ada yang nawar biaya yang sudah kita tetapkan. Padahal menurut saya sudah terjangkau.  Ada yang mintanya ini itu, tapi giliran bayar mbulet. Apalagi kalau ternyata pasien opname dan meninggal, pemilik hewannya kabur tidak bayar (hahaha). Yang seperti ini  hampir dialami semua dokter hewan yang membuka praktik.

Apa asyiknya menjadi dokter hewan yang buka praktik?

Wow asyik banget. Saya nggak ngecap. Ya mungkin karena saya selalu belajar mencintai profesi apapun yg saya tekuni. Jadi dokter hewan pasiennya banyak yang lucu-lucu.  Pemilik kadang mendandani hewan kesayangannya dengan pernak pernik yg lucu2, saya sering dikirimin video hewan kesayangan yang lagi lucu-lucunya. Itu menghibur sekali bagi saya. Trus kita harus berinteraksi serta berkomunikasi dengan hewan yang tidak bisa kita ajak bicara dalam bahasa manusia haha..  Itu tantangan tersendiri. Tapi yang pasti pasien saya tidak bisa berbohong. Pemilik bisa bohong, tapi hewannya tidak  Misalnya pemilik bilang kucingnya tidak diare, eh ternyata disekitar anus ada bekas diare.

Hewan sakit dari raut mukanya udah kelihatan murung . Hewan demam dari matanya terlihat berkaca-kaca. Oiya, satu lagi asyiknya jadi dokter hewan, belum ada spesialisnya tidak seperti dokter manusia ya. Itu artinya kita para drh juga harus multi talenta. Harus bisa menangani persalinan hewan seperti bidan. Kalau distokia (kesulitan melahirkan) juga harus bisa menjadi dokter spesialis kandungan karena harus  melakukan operasi sesar. Di lain waktu jadi dokter kulit. Pada kondisi tertentu kita juga menjadi hair style. Karena pemilik minta potong seperti lion cut misalnya  Kita juga harus bisa orthopedhi untuk kasus kasus patah tulang. Kita juga harus paham ilmu perkencingan, penyakit dalam dll. Aneh tapi nyata ya? Hahaha

Sejauh ini bagaimana dukungan keluarga ?

Sangat mendukung. Suami dan anak-anak saya sangat mendukung. Secara materiil dan immateril .Suami tahu saya repot dengan pasien-pasien saya, dia berusaha mengcover kerjaan rumah yang ia bisa, bahkan kadang masak buat saya. Anak-anak juga begitu kalau ada pasien yang butuh penanganan lebih,  saya libatkan. Sampai kadang saya kasihan juga beberapa kali kena gigit atau cakar pasien. Alhamdulillah mereka semua tidak mengeluh.

Promosi bisnis pake apa?

Selain saya bikin kartu nama, ada juga papan di depan tempat praktik saya dan depan jalan raya menuju perumahan. Selain itu saya suka uplod kegiatan-kegiatan saya saat praktik sebagai dokter hewan di medsos baik FB, google map, WA. Dari situ teman-teman yang sudah kenal lama akhirnya milih ke tempat saya untuk memeriksakan hewan kesayangan. Saya juga bekerjasama dengan komunitas pecinta kucing untuk menangani kucing-kucing rescue. Akhirnya getok tular, banyak juga pasien pasien baru yang pemiliknya belum saya kenal sebelumnya. Jadi, banyak teman baru, banyak relasi baru. Itu keasyikan lagi..

Elsa Fifajanti