Misteri Ekosistem Mangrove

0
187
Penanaman mangrove
Pramono DS

Oleh: Pramono Dwi Susetyo (Pensiunan Rimbawan)

Euforia dan antusiasisme  menanam  mangrove bagi masyarakat Indonesia belakangan ini meningkat tajam, baik yang dibiayai oleh pemerintah maupun dilakukan oleh masyarakat secara swadaya (mandiri). Masyarakat juga semakin sadar betapa penting ekosistem mangrove bagi kehidupan manusia.

Contoh yang sederhana saja, musibah gempa bumi (earth quake) yang terjadi di Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) dan Palu, Sulteng yang menimbulkan bencana  tsunami  tersebut  dan menelan banyak korban karena terseret arus air laut yang masuk ke darat begitu dahsyatnya, akan berkata lain apabila hutan mangrove yang biasa tumbuh di sepanjang pantai di muara-muara sungai yang ada masih utuh dan baik. Karena sesungguhnya ekosistem hutan mangrove yang masih utuh dan baik, merupakan tembok yang sangat kokoh dalam menghadang arus air tsunami yang masuk ke darat.

Manfaat adanya hutan mangrove, sudah banyak diketahui masyarakat, di samping sebagai buffer (penyangga) arus gelombang air laut (termasuk tsunami), juga sebagai habitat ikan untuk berkembang biak.

Indonesia beruntung punya etalase hutan yang lengkap dari mulai pantai sampai hutan hujan dataran tinggi. Ada dua ekosistem hutan unik yang selalu digenangi air walaupun karakteristiknya berbeda, yaitu mangrove dan gambut. Keduanya diklaim sebagai ekosistem yang mampu menyerap emisi karbon terbesar dibanding dengan hutan tropis lainnya.

Mangrove hidup di pantai, tetapi tidak semua pantai punya mangrove. Berdasarkan tempat hidupnya, hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya terdapat sedimentasi (tanahnya berlumpur), tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama; tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat; daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat; dan airnya berkadar garam (bersalinitas) payau hingga asin.

Hutan sekunder mangrove mampu menyimpan karbon 54,1-182,5 ton karbon per hektare. Mangrove diklaim dapat menyimpan karbon 3-5 kali lebih tinggi dari hutan tropis. Kebakaran gambut di Indonesia tahun 1997-1998 telah melepaskan hingga 2,5 miliar ton karbon setara CO2, sedangkan kebakaran tahun 2002-2003 melepaskan 200 juta hingga 1 miliar ton karbon ke atmosfer.

Dari data 2019, luas tutupan mangrove Indonesia 3,56 juta hektare, yang terdiri dari 2,37 juta hektare dalam kondisi baik dan 1,19 juta hektare yang rusak. Itu sebabnya mangrove perlu direhabilitasi (revegetasi) dengan tanaman mangrove yang baru.

Revegetasi Mangrove

Selama ini banyak orang menduga bahwa tanaman mangrove sama dan indentik dengan jenis Rhizophora sp. Pemahaman dan pendapat ini, sebenarnya tidak salah sepenuhnya, karena jenis Rhizopora sp inilah yang paling mudah dan banyak ditanam masyarakat selama ini. Cara membuat bibit dalam polybag (kantong plastik) dari cabutan anakan dari alam yang banyak ditemukan dibawah pohon induknya juga dapat dilakukan dengan mudah.

Pengalaman saya mendalami tanaman mangrove lebih dari lima tahun di Sulsel (Sinjai) dan Sultra (Muna) pada waktu masih bertugas 1993-1999, hanya jenis Rhizophora itulah yang mudah dan mampu bertahan hidup untuk ditanam sepanjang habitatnya tidak tergenang oleh air laut sepanjang hari.  Kenapa demikian?

Menurut Bengen (2002), jenis-jenis pohon penyusun hutan mangrove, di Indonesia jika dirunut dari arah laut ke arah daratan dapat dibedakan menjadi 4 zonasi, yaitu:

  1. Zona Api-api – Prepat (Avicennia – Sonneratia), terletak paling luar/jauh atau terdekat dengan laut, keadaan tanah berlumpur agak lembek (dangkal), dengan substrat agak berpasir, sedikit bahan organik dan kadar garam agak tinggi. Zona ini biasanya didominasi oleh jenis api-api (Avicennia sp.) dan prepat (Sonneratia sp), dan biasanya berasosiasi dengan jenis bakau (Rhizophora sp).
  2. Zona Bakau (Rhizophora), biasanya terletak di belakang api-api dan prepat, keadaan tanah berlumpur lembek (dalam). Pada umumnya didominasi bakau (Rhizophora sp.) dan di beberapa tempat dijumpai berasosiasi dengan jenis lain seperti tanjang (Bruguiera sp.).
  3. Zona Tanjang (Bruguiera), terletak di belakang zona bakau, agak jauh dari laut dekat dengan daratan. Keadaan berlumpur agak keras, agak jauh dari garis pantai. Pada umumnya ditumbuhi jenis tanjang (Bruguiera sp.) dan di beberapa tempat berasosiasi dengan jenis lain.
  4. Zona Nipah (Nypa fructicant), zona ini terletak paling jauh dari laut atau paling dekat ke arah darat. Zona ini mengandung air dengan salinitas sangat rendah dibandingkan zona lainnya, tanahnya keras, kurang dipengaruhi pasang surut dan kebanyakan berada di tepi-tepi sungai dekat laut. Pada umumnya ditumbuhi jenis nipah (Nypa fructicant) dan beberapa spesies palem lainnya.

Jadi terjawab sudah misteri kenapa jenis Rhizophora sp tidak mampu hidup dengan terendam air laut sepanjang hari karena jenis ini merupakan jenis yang hidup pada formasi zona yang kedua yang tidak mampu hidup dengan kadar salinitas yang tinggi.

Yang unik lagi, dalam kelompok ekosistem mangrove, muncul jenis nipah yang sesungguhnya bukan merupakan kelompok tanaman mangrove (bukan tanaman berkayu), tetapi masuk dalam kelompok mangrove karena formasinya masuk dalam zonasi keempat dibelakang jenis Bruguiera sp. dengan kadar salinitas yang sangat rendah.

Tanggung Jawab Mangrove

Masalahnya adalah siapa dan lembaga/institusi mana yang bertanggung jawab terhadap kegiatan rehabilitasi mangrove ini?

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang baru dibentuk jelmaan dari Badan Restorasi Gambut (BRG) atau adakah lembaga lainnya yang juga ikut bertanggung jawab?

KLHK melalui Ditjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, yang memang sudah lama berkecimpung dalam rehabilitasi mangrove, tahun 2020 melakukan penanaman mangrove seluas 15.000 ribu hektare dengan nilai Rp406, 1 miliar, di 34 provinsi di Indonesia. Melalui kegiatan Padat Karya Penanaman Mangrove (PKPM) di seluruh wilayah Indonesia semakin meningkat dalam progres dan realisasinya. Pemerintah merencanakan akan menanam sampai 600.000 hektar. PKPM adalah program pemerintah dalam rangka mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

KKP melalui Ditjen Pengelolaan Ruang Laut juga mempunyai program rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. KKP telah menanam 572.920 bibit mangrove pada area seluas 65,65 hektare yang lokasinya tersebar di Kalimatan Barat dan Kalimantan Timur. KKP akan merehabilitasi kawasan mangrove yang rusak agar luasan hutan mangrove di Indonesia terus bertambah (Kompas, 6/1/2021).

Sementara itu, BRGM merencanakan akan merehabilitasi mangrove seluas 600.000 ha selama lima tahun dienam provinsi yaitu Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Utara dan Papua Barat.

Perlu diketahui bahwa kegiatan rehabilitasi mangrove melalui penamanan baru tanaman mangrove bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah dalam pemilihan lokasi dan pemilihan jenis yang ditanam akan berakibat fatal dan peluang untuk hidup dan berhasil makin kecil.

Mangrove memang hidup di pantai, tetapi tidak semua pantai bisa ditanami mangrove. Pertanyaannya adalah bagaimana cara pembagian kapling untuk kegiatan rehabilitasi mangrove ini, siapa leading sektornya? Bagaimana koordinasinya dan bagaimana pertangungjawaban apabila program ini mengalami kegagalan, siapa yang bertamggunjawab. Apa tanggungjawab pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota)  dalam program ini? Ini perlu diperjelas agar di kemudian hari apabila kegiatan ini mengalami kegagalan tidak ada satupun lembaga yang saling menyalahkan.