Inspirasi Keanekaragam Hayati untuk Pemberdayaan Wanita Desa

Isti Handono, Pengrajin Ecoprint

0
228
Isti Handono, Pengrajin Ecoprint

Kekayaan budaya Indonesia khususnya  kerajinan tangan dan kain olahan seolah tak pernah habis untuk dieksplorasi. Setiap provinsi memiliki ciri khas kain masing-masing untuk diangkat agar lebih dikenal masyarakatnya sendiri maupun di mancanegara.

Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati telah menginspirasi banyak kaum wanita untuk menciptakan beragam  kain olahan. Salah satunya  kain olahan berbasis pewarna alam yang mulai banyak dilirik dalam dunia fashion. Kampanye recycle dan upcyle juga turut mendorong perkembangan olahan kain dengan memanfaatkan sumber daya alam khususnya tanaman.

Ecoprint, adalah salah satu teknik menciptakan motif baru dalam mempercantik kain dengan memanfaatkan unsur tanaman. Ecoprint biasa juga disebut mencetak motif daun dalam kain melalui proses alami.

Teknik ecoprint ini salah satunya yang menginspirasi pengrajin asal Malang, Isti Handono menciptakan karya seni kain dengan motif daun dan bunga dari berbagai tanaman. Yang membanggakan teknik olah seni kain ecoprint membawa pengrajin satu ini memberdayakan wanita di desa-desa untuk lebih kreatif dan mampu meningkatkan perekonomiannya.

Nah bagaimana kiprah Isti dalam seni olah kain ecoprint? Berikut perbincangan Agro Indonesia dengan guru seni yang memiliki seabreg kegiatan di Malang-Jawa Timur pekan lalu.

Bagaimana awalnya  Anda berkenalan dengan ecoprint?

Saya mengenal ecoprint baru pada tahun 2018, dengan mempelajari teknik, mengamati pasar dan meyakinkan diri terjun ke bisnis ini walau awalnya kecil-kecilan. Bersama komunitas saya  terus melakukan eksplorasi dan riset daun dan tanaman untuk menghasilkan warna alami yang dapat mempercantik kain.

Untuk pengerjaan ecoprint cukup sederhana, hanya dibutuhkan waktu 2 sampai 3 jam saja. Prosesnya daun yang sudah dipilih ditempel ke kain, dipukul ringan untuk mendapatkan motif dan digulung dengan diikat kencang. Proses selanjutnya kain direbus untuk mendapatkan warna daun selama 1,5 jam, kemudian dibuka dan diangin-anginkan. Semua proses pengerjaannya sangat mudah hanya perlu ketelatenan. Kualitas ecoprint ditentukan kreativitas pemilihan dan penempatan komposisi daun diatas kain.

Sejak kapan Anda mulai berani membuka usaha ecoprint?

Tepatnya September 2019, dengan modal pengetahuan dan kecintaan terhadap keunikan  ecoprint, saya mulai memberanikan diri berbisnis kain olahan ini, Maklum sejak remaja saya menyukai alam dengan kegiatan kepramukaan, sehingga ketika saya berkenalan dengan ecoprint saya cukup banyak mengetahui jenis-jenis tanaman yang ada di sekitar saya.

Sayangnya pada saat saya begitu bersemangat untuk berproduksi wabah Covid 19 merebak di negeri ini. Namun saya tidak patah semangat justru bagaimana saya bisa meningkatkan perekonomian dari usaha ini serta mengajak ibu-ibu di pedesaan untuk bisa berkreasi melalui penataan dedaunan di atas kain.

Bagaimana perkembangan ecoprint di dunia fashion?

Seiring perkembangan ecoprint dalam dunia fashion,  para pelaku ecoprint diharapkan tetap ‘respect’ dengan alam. Semangat ecofriendly harus tetap dibawa untuk menjaga keberlangsungan tanaman itu sendiri. Kondisi pandemi Covid-19 memang membuat banyak bisnis cukup terpukul. Demikian juga dengan usaha  ecoprint.

Saya sempat mengalami kendala di awal pandemi Covid-19. Dengan modal seadanya saya tetap semangat berkarya. Namun demikian, dengan usaha yang giat, inovasi produk, serta strategi usaha yang disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19, membuat bisnis ini tetap bertahan.

Saya dibantu kedua putri saya. Sementara saya fokus kepada operasional inti, seperti pembelian bahan baku dari produk yang banyak terjual.  Pastinya untuk dunia craft & fashion ada penurunan di masa awal pandemi namun setelahnya tetap harus bangkit dan melakukan inovasi produk maupun jasa.

Pada tiga bulan pertama saat Covid-19 melanda, usaha saya sempat mengalami penurunan pendapatan  cukup besar. Namun setelah enam bulan perlahan mulai kembali pulih.

Bagaimana untuk penjualan produk yang anda hasilkan dalam masa pandemi ini?

Saya memanfaatkan media sosial untuk mengenalkan dan menjual hasil produksi. Dari sana pula saya mendapatkan informasi upaya pemerintah dalam menguatkan perekonomian masyarakat melalui UMKM.

Saya beberapa kali mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Dinas Koperasi UMKM Malang untuk meningkatkan kualitas produk dan memahami ilmu marketing.

Bagaimana pendapat anda mengenai Ecoprint yang mendukung slow fashion?

Ecoprint  memang mendukung slow fashion dan juga menjadi tren saat ini. Masyarakat cenderung lebih menyukai hal yang alami, dan exclusive product. Apalagi, jumlahnya terbatas jumlah pengrajinnya masih terbatas. Perkembangan ecoprint kian dikenal saat ini. Konsumen produk tekstil saat ini sudah aware, sehingga kerajinan ecorprint pun mempunyai daya tarik.

Apalagi, saat ini ecoprint tidak hanya sekedar busana saja. Sementara itu, untuk perawatan kain ecoprint tidak ubahnya dengan batik. Kain ecoprint bisa dicuci dengan tangan dan sabun khusus batik atau soft detergent. Kemudian, kain dapat dijemur di tempat teduh.

Namun, di saat pandemi Covid 19 tidaklah mudah menjual  kain dengan kisaran harga Rp250.000  sampai jutaan rupiah karena masyarakat sedang mengutamakan kebutuhan pangan, sementara saya berjuang untuk menjual produk fashion. Tetapi dari situlah saya harus berjuang untuk tetap semangat dan berkat bimbingan dari Dinas Koperasi yang selalu bersinergi dengan usaha kecil  saya bisa bangkit dari keterpurukan meskipun daya beli masyarakat belum stabil.

Apa harapan anda ke depan?

Harapan saya kain olahan ecoprint akan menjadi ladang bisnis yang diminati di mancanegara. Saya sadar apa yang telah saya lakukan hanyalah sebuah Langkah kecil. Namun, ini merupakan pengalaman besar yang tidak pernah saya rencanakan dan saya bayangkan  sebelumnya.

Menjelang peringatan Hari Kartini 2021, bersama komunitas ecoprint Malang, saya mengajak para wanita yang berminat ecoprint untuk belajar ecoprint untuk ambil andil meningkatkan kualitas diri dengan berkarya. Dengan langkah ini kami berharap wanita Indonesia bisa menambah ketrampilan yang dimiliki serta menggali potensi diri untuk meningkatkan perekonomian secara personal

Shanty