JUT Tingkatkan Kesejahteraan Petani

* Alsintan dan Distribusi Makin Lancar

0
122

Salah satu hal penting yang tengah diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) adalah pembangunan infrastruktur pertanian berupa Jalan Usaha Tani (JUT) atau jalan pertanian. Keberadaan JUT ini akan memperluas daya jangkau distribusi hasil pertanian serta meningkatkan pendapatan petani di Simalungun.

Pembangunan JUT sendiri sesuai dengan era pertanian 4.0 yang disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, yakni sektor pertanian yang ditandai dengan penggunaan alat mesin pertanian (Alsintan).

“Agar dapat menjangkau areal persawahan, maka diperlukan akses berupa jalan usaha tani agar Alsintan dapat dioperasionalkan,” katanya.

Sebagai informasi, JUT merupakan akses infrastruktur yang dibangun untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu juga tentunya agar distribusi hasil pertanian menjadi lancar.

Pembangunan JUT menjadi salah satu program strategis Kementerian Pertanian (Kementan) yang dilaksanakan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

Dirjen PSP, Kementan, Ali Jamil mengatakan, prasarana dan sarana pertanian pada era pertanian modern memang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas. “Untuk memenuhi persyaratan penggunaan Alsintan serta pengangkutan sarana produksi dan hasil panen, diperlukan fasilitas jalan, jembatan, serta kelengkapannya yang memadai,” katanya.

Menurut dia, majunya sistem pertanian tak hanya ditandai dengan penggunaan Alsintan saja, tetapi juga meningkatnya produktivitas dan kesejahteraan para petani.

Dia menyebutkan, JUT merupakan program yang sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian nasional, yaitu menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menggenjot ekspor.

“Jalan usaha tani ini akan mempermudah akses Alsintan menjangkau areal persawahan. Jalan pertanian ini akan memutus cost produksi yang besar dan memberi banyak manfaat untuk petani,” jelasnya.

Dalam konteks sistem pertanian modern, kata dia, diperlukan penambahan maupun penyempurnaan prasarana dan sarana pertanian yang dapat menunjang penggunaan Alsintan.

Selain itu, diperlukan pula penyempurnaan prasarana dan sarana pertanian untuk mengangkut sarana produksi pertanian (saprodi) dan hasil pertanian, baik dari maupun menuju lokasi.

Kukar Bakal Bangun JUT

Pembangunan JUT juga menjadi prioritas dan masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Bahkan, Bupati Kukar Edi Damansyah menyatakan bakal membangun JUT sepanjang 120 kilometer (km).

Ini adalah program Pertanian Berbasis Kawasan, dan Edi menyebutkan beberapa kawasan di Kukar, Kalimantan Timur (Kaltim) yang terkenal dengan sektor pertanianya telah ditetapkan untuk dibangun JUT.

Daerah tersebut di antaranya Kecamatan Tenggarong Seberang, Sebulu, Muara Kaman, Marangkayu, Anggana, Loa Kulu. “Secara eksisting ini sudah berjalan, sehingga tinggal upaya mekanisasi infrastruktur sarana dam prasana pada titik-titik kawasan,” kata Edi.

Pada 2022 mendatang, pihaknya akan memulai program tersebut. Ini juga berkaitan erat dengan program 120 embung. Karena harus saling terhubung dengan baik antara jalan usaha tani dengan pengairan embung dan irigasinya.

Target ini tentunya harus dengan sinkronisasi dari dua OPD, yakni Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) dan Dinas PU. “Memang selalu saya tekankan kepada jajaran, datanya harus sinkron dua OPD ini,” ucapnya.

Kata Edi, penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) pun berbasis cascading, atau melalui proses penjabaran sasaran strategis, Indikator Kinerja Utama (IKU) dan target kinerja organisasi secara vertikal dan horizontal untuk menciptakan keselarasan kerja. Oleh karenanya, kedua OPD harus saling memeriksa data, Distanak selaku leading sector-nya dan PU selaku pendukungnya.

“Mudah-mudahan dengan pola perubahan ini tidak ada lagi pekerjaan ini jalan sendiri-sendiri. Ini sudah saya evaluasi dalam penyusunan RPJMD dan rencana kerja pemerintah daerah, beserta renstra dinas-dinas,” tegasnya.

Terkait anggaran yang digelontorkan, Edi tak mengetahui berapa persis angkanya. Yang jelas, dia mengaku angkanya cukup besar. Mengingat ini adalah program prioritas yang harus segera direalisasikan.

Dia menyebutkan, selama ini pihaknya sudah cukup berhasil menangani di hulunya. Kini, ingin fokus di hilir, yakni pada industrialisasi pertaniannya.

Menurutnya, produksi sudah membaik, tapi dari segi memfasilitasi pasar hasil pertanian dirasa belum optimal. “Makanya komoditi yang menjadi unggulan kita itu saya menghendaki ke depannya harus ada kerja sama dengan pemangku kepentingan,” katanya.

Distribusi Hasil Bumi Lancar

Pembangunan JUT juga sedang dilakukan di Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sampai hari ini,  pembangunan sudah mencapai 41,1%. Jalan itu memudahkan petani untuk mengangkut hasil bumi.

Kepala Desa Jimbar Sutrisno mengatakan, JUT diprogramkan oleh pemdes sebagai prasarana transportasi di kawasan pertanian untuk memperlancar seluruh aktivitas pertanian.

Mulai saat masa tanam, pengangkutan pupuk ke tegalan hingga mengangkut hasil produk pertanian dari lahan menuju tempat pengolahan.

Rencana pembangunan JUT sendiri muncul pada 2013 silam. Saat itu, sejumlah petani harus berjalan kaki sekitar 2 km untuk mengangkut hasil panennya menuju jalan yang bisa diakses kendaraan. ”Lahan pertaniannya luas. Yang lahannya berada di ujung harus dipikul hasil panennya dan jalan sekitar 2 km. Waktu ngangkut pupuk juga gitu,” katanya.

Petani harus menerabas lahan pertanian yang berupa tanah. Pernah juga akses jalan tanah itu ambles hingga selutut petani.

Atas kondisi itu, program JUT dirancang. Antusias warga pun sangat tinggi.

Sejak 2015 hingga kini, pihaknya menganggarkan dana desa untuk pembangunan JUT setiap tahun. Mulai dari Rp150 juta hingga Rp 200 juta. Tapi, saat pegbluk (pandemi), anggaran berkurang karena diprioritaskan untuk penanganan COVID-19. ”Tahun 2021 dianggarkan Rp80 juta,” kata Sutrisno.

Dia menjelaskan, ada sekitar 250 petani yang merelakan tanahnya diperuntukkan untuk pembangunan jalan. Mereka bisa mengikhlaskan hal itu karena untuk kemudahan para petani juga.

Target JUT sepanjang 17 km. Ada beberapa jalur jalan yang jika digabungkan sekitar 17 km itu. Saat ini sudah mencapai 7 km atau 41,1%, masih tersisa sekitar 10 km.

Meski dalam satu kawasan pertanian itu pembanguan JUT belum mencapai 50%, namun para petani sudah mulai merasakan manfaatnya. Apalagi, petani yang lahannya berjarak 2 km dari jalan besar. Di lahan pertanian itu ada beberapa jalur atau jalan yang dibuat, tidak hanya satu jalur saja.

”Dulu petani yang punya lahan 5.000 m2 mengangkut hasil panen membutuhkan tenaga 10 orang dalam kurun waktu 5 hingga 6 hari. Sekarang, setelah sebagian jalan mulai tergarap, petani hanya butuh 3 hingga 5 orang untuk mengangkut hasil panen dan hanya dalam kurun waktu 2 hari selesai,” beber dia.

Hal itu menjadi bukti efektivitas dan efisiennya JUT. Banyak kemanfaatan dari sisa hasil usaha pertanian misalnya memangkas biaya pengangkut.

Kades merinci lahan pertanian itu berada di Dusun Trukan, Josari, Jimbar dan Bendungsari. Namun, lahan itu dimanfaatkan oleh seluruh warga Desa Jimbar. Tanaman pokok yang ditanam adalah palawija. Sedangkan di seperempat lahan ditanami hortikultura.

”Rencananya ke depan bakal kami prioritaskan JUT ini, demi mensejahterakan petani. Sekitar 75% warga kami bekerja sebagai petani,” katanya.

Dirjen PSP Kementan, Ali Jamil menyebutkan bahwa JUT adalah akses infrastruktur yang dibangun untuk meningkatkan produktivitas pertanian. “Dengan Akses jangkauan petani untuk mendistribusikan hasil pertanian juga semakin lancar,” katanya.

JUT juga merupakan bagian dari tujuan pembangunan pertanian nasional yakni menyediakan pangan untuk seluruh rakyat, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggenjot ekspor.

Menurut Ali Jamil, prasarana dan sarana pertanian di era pertanian modern dibutuhkan untuk mendorong terjadinya peningkatan produktivitas.

“Majunya sistem pertanian tak hanya ditandai dengan penggunaan Alsintan, tapi juga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” katanya.

Dia mengatakan, JUT akan mempermudah akses Alsintan menjangkau areal persawahan. Jalan pertanian ini akan memutus cost produksi yang besar dan memberi banyak manfaat untuk petani.

Dia mengatakan, keberadaan jalan pertanian sangat penting bagi petani dan merupakan suatu peluang yang dapat ditingkatkan kualitas dan fungsinya menjadi suatu jalan pertanian yang sesuai dengan standar dalam pembangunan dan rehabilitasinya. PSP