Kementan Apresiasi Serapan KUR Pertanian Lancar

0
101

Kementerian Pertanian (Kementan) mengapresiasi penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian yang berjalan cukup baik dan lancar di beberapa daerah, terutama di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Data Himpunan Bank Negara (Himbara) mencatat, hingga 31 Agustus 2021 penyaluran KUR pertanian di Kabupaten Malang telah mencapai Rp2,10 triliun dengan jumlah debitur 52.018 orang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa pemerintah akan mempermudah persyaratan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian. Khususnya untuk meningkatkan nilai tambah pascapanen seperti dalam pengadaan rice mill unit (RMU).

“Persyaratan KUR harus dipermudah agar bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah pascapanen, sehingga program ini semakin dirasakan manfaatnya oleh petani,” ujar Jokowi, Senin, (6/9/2021).

Presiden mengaku dirinya memiliki perhatian khusus terhadap penyaluran KUR pertanian yang mencapai Rp70 triliun. Karena itu, dia meminta semua kepala daerah memperkuat pendampingannya terhadap petani, terutama cara memanfaatkan teknologi supaya usaha mereka semakin berkembang.

“Termasuk juga platform digital untuk meningkatkan produktivitas petani dan memotong panjangnya mata rantai pemasaran UMKM pangan,” katanya.

Direktur Bisnis Mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Supari menjelaskan, selama ini salah satu kendala yang dihadapi calon debitor untuk mengajukan KUR adalah terkait jaminan atau agunan sebagai persyaratan kredit. “Permudah itu kan yang selama ini kita terjemahkan, khususnya terkait dengan agunan,” katanya di Jakarta.

Namun demikian, sejak Juli lalu, skema penyaluran KUR tanpa agunan telah disesuaikan oleh pemerintah. Terhitung sejak 1 Juli 2021, batas atas KUR tanpa agunan dinaikan dari semula Rp50 juta menjadi Rp100 juta.

“Isu tentang agunan, KUR super mikro sampai dengan Rp10 juta itu tanpa agunan, KUR mikro di atas Rp10 juta sampai Rp50 juta tanpa agunan, KUR kecil di atas Rp50 juta sampai Rp100 juta tanpa agunan,” jelas Supari.

“Yang di atas Rp100 juta sesuai dengan penilaian dan kebijakan bank penyalur masing-masing,” tambahnya.

Menurut dia, saat ini edukasi justru menjadi poin paling penting dalam mendongkrak penyaluran KUR. Sebab, masih ada masyarakat yang lebih tertarik untuk melakukan kredit di non lembaga keuangan, dengan pertimbangan pencairan uang lebih cepat.

“Masyarakat lebih senang ke pelepas uang. Oleh karena itu, Himbara sudah membangun layanan-layanan yang bisa setara dengan layanan pelepas uang atau rentenir,” katanya.

Selain itu, Supari menambah, BRI bersama dengan bank BUMN lain saat ini telah memiliki infrastruktur dan sumber daya manusia yang kuat untuk memperluas penyaluran KUR ke berbagai daerah. “BRI punya agen yang hampir 500.000. BNI punya agen, Bank Mandiri punya agen, BTN juga punya agen. Belum lagi para RM (relationship manager) yang tersebar,” ucapnya.

Perdagangan dan Pertanian

Sementara itu Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan mencatat, penyaluran KUR sepanjang Januari-Agustus didominasi sektor perdagangan dan sektor pertanian.

Tercatat, penyaluran KUR sudah mencapai Rp168,6 triliun atau 66,65% dari target 2021 sebesar Rp253 triliun dan telah diberikan pada 4,57 juta debitur.

“Dari jumlah tersebut, proporsi terbanyak penyaluran KUR tahun ini disumbang KUR Mikro, yakni 61,81%. Sementara itu, KUR Kecil berkontribusi 33,83%, KUR Super Mikro 4,34%, dan KUR Penempatan TKI menyumbang 0,01%,” demikian rilis DJPb Kementerian Keuangan, Kamis (2/9/2021).

Dari sisi sektoral, proporsi penyaluran KUR 2021 masih didominasi sektor perdagangan sebesar 44%, sedangkan sektor pertanian 30,1%, dan jasa-jasa 14,3%.

Dalam rilis itu sebutkan, saat ini pemerintah tengah berfokus untuk menggeser penyaluran KUR dari sektor perdagangan menuju sektor produktif, seperti pertanian karena memiliki daya ungkit tinggi dalam ekosistem dari hulu ke hilir di dalam ikatan rantai nilai, baik dalam penyerapan tenaga kerja maupun peningkatan ekspor.

Sementara itu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. memfokuskan penyaluran KUR sektor pertanian, termasuk kepada petani porang. Perseroan menjadikan porang sebagai salah satu klaster unggulan berorientasi global.

Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Sis Apik Wijayanto mengatakan, realisasi penyaluran KUR BNI sektor pertanian sebesar Rp5,1 triliun pada Juli 2021. Adapun realisasi KUR juga telah disalurkan kepada 116.427 penerima.

“KUR perseroan meningkat 75% secara tahunan (year on year/yoy) dari sisi volume penyaluran, dan 43% yoy dari jumlah UMKM maupun kelompok usaha kecil lainnya,” ucap Sis.

Menurutnya, penyaluran KUR kepada klaster unggulan porang ini diharapkan membantu UMKM agar mampu bertahan dalam menghadapi dampak wabah pandemi COVID-19.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, percepatan dan perluasan akses pembiayaan bukan satu-satunya masalah dalam penyaluran KUR sektor pertanian. Ada pula isu penilaian kelayakan usaha yang dinilai secara komprehensif dalam ekosistem.

Hal tersebut agar bank dapat memitigasi risiko baik secara individu ataupun kelompok, sehingga menghasilkan nilai ekonomi dalam ekosistem. Terlebih, sektor ini memiliki ruang pasar ekspor hasil pertanian sangat besar dioptimalkan.

“Untuk meningkatkan akses pembiayaan perbankan kepada para petani, OJK mengupayakan agar diperbanyak pembentukan klaster pertanian dengan menciptakan ekosistem kalangan petani yang mempermudah proses pengajuan, pencairan dan penjaminan kredit, bahkan sampai pemasaran produk pertanian,” ungkapnya.

Penopang Ekonomi Keluarga

Sementara Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan, program KUR merupakan bentuk perhatian negara terhadap nasib petani agar lebih sejahtera.

Apalagi, perkereditan KUR memiliki suku bunga rendah, yakni hanya 6%. “Negara mendorong agar kesejahteraan petani terus meningkat. Salah satunya melalui layanan program KUR pertanian yang memiliki suku bunga rendah,” katanya.

Menurut Mentan, program KUR sejauh ini dirancang untuk membuka akses skala ekonomi yang lebih terbuka dan mandiri. Artinya, tingkat usah petani nantinya tidak akan tergantung kepada negara, namun mereka memiliki cara untuk meningkatkan nilai sejahtera. “Bahkan, saat ini kita sedang mendorong klaster KUR komoditas porang dan sarang burung walet sebagai komoditas unggulan baru yang dipersiapkan untuk ekspor,” katanya.

Di sisi lain, Kementan juga mendorong para kepala daerah di seluruh Indonesia agar fokus terhadap pengembangan potensi pertanian lokal yang bisa diekspor secara serentak.

Hal ini perlu dilakukan mengingat kegiatan merdeka ekspor yang digelar pada 14 Agustus lalu sukses menghadirkan devisa negara sebesar Rp7,2 triliun.

“Merdeka ekspor itu dibuat untuk menghadirkan konsolidasi emosional semua daerah agar bisa melakukan ekspor sekaligus memberikan rangsangan agar menggali potensi yang ada,” katanya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Ali Jamil menambahkan, KUR pertanian selain mampu membuka lapangan pekerjaan, juga merupakan penyangga ekonomi keluarga dan ekonomi dasar di semua daerah, terutama petani yang merupakan sektor produksi.

Dengan sokongan dari KUR, pertanian pada akhirnya menjelma menjadi kekuatan untuk keluar dari krisis yang dihadapi saat ini akibat pandemi COVID-19.

Untuk menggairahkan sektor pertanian, Ali menyebut APBN tak cukup untuk mendanainya. Maka, diperlukan pendanaan lain di luar APBN agar sektor pertanian semakin bergairah.

“KUR adalah kebijakan pemerintah. KUR itu dana bank dengan bunga yang disubsidi pemerintah. Gunakan KUR karena dia adalah fasilitas negara,” tutur Ali.

Ali mengatakan, KUR pertanian terbukti membantu petani baik dari hulu sampai hilir. Menurutnya, perguliran KUR Pertanian di seluruh daerah harus terus didorong sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas, produktivitas, kesejahteraan dan perekonomian masyarakat, khususnya di masa pandemi COVID-19.

Direktur Pembiayaan Pertanian Kementan, Indah Megahwati mengatakan, pelaksanaan perkreditan KUR dibagi menjadi beberapa klaster. Di antaranya klaster padi, jagung, hortikultura, peternakan dan perkebunan.

“Jadi, kami infokan bahwa KUR kami ini sistemnya sudah klaster, di mana ada klaster tanaman pangan, padi, jagung dan lainnya. Dengan KUR kita akan memiliki keuntungan yang berlipat, sebab dilaksanakan secara klaster dan sudah ada off-taker” jelasnya. PSP