RI Pemasok Kobalt Terbesar Kedua di Dunia

* Ancaman Lingkungan pun Meningkat

Indonesia muncul sebagai pemasok kobalt terbesar kedua di dunia, yang berkontribusi menurunkan secara tajam harga logam batere tersebut. Namun, pada saat yang sama, negara-negara Barat pun makin khawatir dengan dominasi China di seluruh rantai pasok mobil listrik.

Kelompok industri Cobalt Institute melaporkan, tahun lalu Indonesia telah menghasilkan 9.500 ton kobalt atau 5% dari pasokan global. Angka ini naik dari volume sebelum tahun 2021. Jumlah itu berarti juga menyalip dan menyusul produsen kobalt yang sudah mapan, yakni Australia dan Filipina.

Lonjakan pasokan kobalt Indonesia — produk sampingan dari industri nikel yang memang berkembang pesat — telah membantu  menyeret turun harga kobalt internasional dari 40 dolar AS/pon pada April 2021 menjadi sekitar 15 dolar AS/pon saat ini, demikian disebutkan Fastmarkets, seperti dilansir The Financial Times.

Meski angka pertumbuhan kobalt Indonesia terbilang pesat, namun secara volume produksi Indonesia masih jauh dibandingkan pemasok kobalt terbesar di dunia, Republik Demokratik Kongo (DRC), selaku penguasa 73% pasar kobalt global.

Hanya saja, kekhawatiran terhadap hak asasi manusia (HAM) di pertambangan DRC, serta kontrol pengoperasian China atas banyak tambang di sana membuat produsen mobil listrik mencari sumber pasok alternatif atau mencoba mengubah bahan kimia batere untuk mengurangi penggunaan kobalt.

Amerika Serikat sendiri sudah memperkenalkan UU Pengurangan Inflasi (IRA) dan Uni Eropa (UE) memperkenalkan UU Bahan Baku Kritis guna mengurangi ketergantungan bahan baku mobil listrik mereka terhadap China serta untuk memperkuat pasok dari dalam negeri atau dari negara-negara sahabat.

Munculnya Indonesia sebagai pemasok kobalt besar juga tidak menyusutkan kekhawatiran tersebut, mengingat kenaikan itu juga terjadi berkat usaha patungan antara China dengan pengusaha dalam negeri.

“Dominasi China di Indonesia menimbulkan risiko untuk pasar yang lebih luas, serupa dengan dominasi produksi DRC,” kata laporan itu, seraya menambahkan bahwa hal itu bisa merusak tujuan kebijakan industri AS dan UE untuk mengurangi ketergantungan terhadap China melalui rantai pasok kendaraan listrik.

Pasokan kobalt global melonjak 21% pada 2022 menjadi 198.000 ton, atau naik 13% yang melebihi peningkatan permintaan pasar.

Harga kobalt sempat mengalami reli harga sangat tajam selama setahun sejak musim panas 2021, tapi kemudian anjlok berkat munculnya Indonesia serta pasok yang melimpah dari DRC, selain penurunan penjualan elektronik portabel.

Bersama dengan penurunan harga lithium, penurunan harga kobalt memberikan kelonggaran nafas buat para produsen batere.

Namun hal itu juga menimbulkan tantangan untuk menggarap proyek baru dan menjalankannya di Barat. Contohnya, proyek Jervois (perusahaan yang melantai di bursa Australia) di Idaho, yang jadi tambang kobalt terbuka pertama di AS dalam puluhan tahun, menghentikan sementara pembangunan final pada akhir Maret karena harga kobalt yang rendah dan tingginya biaya konstruksi.

Berdasarkan laporan, harga kobalt masih akan tetap di bawah 20 dolar AS/pon tahun ini dan pasar akan kebanjiran pasokan sampai setidaknya pertengahan dasawarsa ini karena kuatnya pertumbuhan pasok di luar DRC dan Indonesia.

Melonjaknya permintaan mobil listrik selanjutnya bakal mendorong pasar mengalami kekurangan struktural sampai akhir dasawarsa ini dengan permintaan bakal dua kali lipat lebih menjadi 400.000 ton pada tahun 2030.

Kobalt produksi Indonesia dilaporkan juga meningkatkan ancaman lingkungan buat produsen otomotif karena potensi pemanasan globalnya sebesar 36 kg CO2/kg kobalt, yang berarti hampir empat kali lipat lebih tinggi ketimbang pasokan dari DRC. AI