Spekulan Bikin Harga Kakao Cetak Sejarah Tinggi

Para spekulan yang mengelola dana investasi melalui hedge fund membanjiri pasar kakao internasional sejak akhir tahun lalu, dan membuat harga kakao makin melambung sejak buruknya panen kakao di Afrika Barat.

Para pedagang spekulan mengelontor dana taruhan 8,7 miliar dolar AS ke seluruh kontrak berjangka di bursa London dan New York sehingga harga kakao terus naik, terbesar dari sisi nilai dolar AS, demikian data dari Commodity Futures Trading Commission.

Taruhan tersebut, yang menghasilkan keuntungan besar bagi hedge fund berkat mengikuti tren sejauh ini pada 2024, telah mendorong naik harga penutupan kakao di London di posisi 4.757 poundsterling/ton pada Jumat pecan lalu, atau dua kali lipat lebih dibandingkan tahun lalu. Harga kakao berjangka di nurse New York juga telah melonjak menjadi 5.888 dolar AS/ton — angka tertinggi sepanjang sejarah.

Meski cuaca buruk dan penyakit yang menyerang tanaman kakao di Afrika Barat — sentra produksi kakao utama dunia — telah memicu reli harga, namun serbuan hedge fund ke pasar makin menambah kobaran panas kenaikan harga, demikian menurut analis, trader dan pialang.

Para hedge funds ini kemungkinan jadi “paparan risiko terbesar untuk kakao yang pernayh terjadi,” kata Martijn Bron, yang pernah menjadi kepala trading kakao dan coklat global di raksasa komoditi pertanian Cargill sampai tahun 2022. “Para hedge funds bukanlah penyebab kenaikan harga itu,” katanya, “tapi dalam kondisi pasar dengan likuiditas lebih rendah, hal itu secara fundamental dapat memperkuat pergerakan pasar sampai ke tingkat yang ekstrem.”

Menurut Justin Grandison, direktur pialang kakao di ABN AMRO Bank, ada “arus besar dana yang masuk ke soft komoditi” menjelang terjadinya krisis keuangan global. Nah, banyak dari dana ini “ditempatkan begitu dsaja sekitar 6-8 tahun lalu,” setelah berbagai bencana alam cuaca tak terduga serta krisis geopolitik yang menyebabkan taruhan mereka jeblok. “Sekarang mereka kembali,” ujar Grandison.

Saat ini, sebagian besar uang yang masuk adalah dana sistematis yang menggunakan algoritma untuk mengikuti tren pasar, katanya.

Sepanjang tahun ini, kakao sudah menjadi penyumbang keuntungan terbesar secara tunggal pada dana-dana tersebut, demikian menurut portofolio yang disusun Société Générale, yang bertujuan untuk meniru strategi umum di sektor ini.

“Berbagai trader spekulan yang sudah lama tidak memperdagangkan kakao kini sudah ikut serta,” papar Harold de Boer, direktur pelaksana Transtrend, hedge fund kuantitatif yang berbasis di Rotterdam.

Pabrikan pengolah kakao, yang mengubah biji kakao menjadi cocoa butter, berjuang keras untuk memperoleh pasokan yang cukup guna memenuhi permintaan dari para produsen coklat, kata analis dan trader.

Konsentrasi dana taruhan para hedge fund, dan volitilitas pasar yang mereka ciptakan, membuat prosesor biji kakao makin sulit untuk melakukan lindung nilai terhadap eksposur perubahan harga, kata Darren Stetzel, vice-president soft komoditi Asia dan komoditi pertanian StoneX.

Harga yang lebih tinggi di bursa berjangka memang tidak mengalir langsung ke tangan para petani di Ghana dan Pantai Gading, yang tercatat sebagai dua produsen biji kakao terbesar dunia.

Petani Ghana saat ini menerima harga antara 1.800-1.900 dolar AS/ ton kakao dan petani di Pantai Gading menerima sekitar 1.600 dolar AS/ton, kata Fuad Mohammed Abubakar, kepala Perusahaan Pemasaran Kakao Ghana, bagian dari badan yang dikendalikan pemerintah yang menetapkan harga di tingkat petani. Di Pantai Gading, Le Conseil Café-Cacao memainkan peran yang sama.

Harga di tingkat petani saat ini mencerminkan penjualan yang dilakukan antara 12 dan 18 bulan lalu, kata Abubakar. “Harga (pasar) saat ini akan tercermin di kantong petani pada awal musim baru di awal bulan Oktober.”

Namun, kata Grandison, tindakan penetapan harga ini dapat menghambat kemampuan pasar untuk merespons kenaikan harga saat ini dan mencapai keseimbangan penawaran dan permintaan yang baru.

“Pada tahun-tahun sebelumnya, harga yang lebih tinggi dipandang menguntungkan produsen dan memungkinkan dilakukannya investasi kembali. Namun, dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan penjualan ke depan pada tahun tersebut, (petani) tidak mendapatkan keuntungan,” katanya, seperti dikutip The Financial Times. AI