Tahun 2022, Pasar Mebel dan Kerajinan Terus Tumbuh

Pengrajin mebel

Meskipun secara umum pasar masih di bawah tekanan dampak pandemi Covid-19,  situasi pasar industri mebel dan kerajinan diperkirakan akan segera kembali ke situasi pra-Covid karena dinamika pasar yang terus berubah ke arah positif. Prospek pasar mebel dan kerajinan kedepan akan terus mengalami pertumbuhan.

Hal itu dilontarkan  Ketua Presidium Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur dalam “Catatan Akhir Tahun Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia 2021’ yang diterima Agro Indonesia, Sabtu (01/01/2022).

Menurutnya, ResearchAndMarkets menyatakan bahwa tahun 2021 pasar mebel global diperkirakan akan tumbuh menjadi  671,07 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya yang tercatat 564,17 miliar dolar AS dengan tingkat tahunan gabungan (CAGR) sebesar 18,9 persen. Nilai pasar global diperkirakan akan mencapai  850,38 miliar dolar AS pada tahun 2025 dengan CAGR 6 persen.

Banyak pekerja yang bekerja di rumah (WFH), mereka membeli furnitur untuk kantor rumah mereka dan untuk mengubah ruang hidup mereka, situasi ini yang membantu permintaan tetap ada,” ujarnya.

Selain itu, pasar furnitur luar ruang atau outdoor furniture tumbuh karena lebih banyak kegiatan sosial bergeser ke luar rumah (taman). Pandemi Covid-19 juga telah memempercepat tumbuhnya e-commerce produk furnitur.

mengenai pangsa pasar, Sobur memperkirakan kedepan, pasar Amerika Serikat (AS)  akan terus tumbuh dan salah satu pendorong utama tumbuhnya pasar adalah meningkatnya pasar konstruksi perumahan.

Perabotan siap pakai atau Ready-toassemble (RTA) menjadi semakin populer di kalangan pemilik dan maupun penyewa rumah di AS dengan pertimbangan biaya yang lebih rendah dan desain yang ringkas.

“Furnitur RTA, juga dikenal sebagai furnitur kemasan datar, tidak dirakit oleh pabrikan dan tersedia dalam bentuk suku cadang dengan petunjuk tentang cara merakitnya,” jelasnya.

Untuk pasar Eropa, pada tahun 2021, pandemi Covid-19 dan langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi penyebarannya di seluruh dunia terus mempengaruhi perdagangan internasional.

“Pada saat yang sama, kebijakan lockdown telah mengakibatkan peningkatan fokus pada rumah tinggal dan taman dimana situasi ini berkontribusi dalam mengkompensasi efek negatif di pasar,” papar Sobur.

Misalnya, 65 persen pemilik rumah di Inggris berinvestasi atau membelanja kan uangnya untuk renovasi selama lockdown tahap pertama, mereka menghabiskan rata-rata sekitar €4.500. Pentingya rumah dan taman diperkirakan akan tetap tinggi dan mendorong permintaan home decoration and home textile (HDHT) di tahun-tahun mendatang.

Kinerja 2021

Abdul Sobur juga menjelaskan kinerja industri mebel dan kerajinan Indonesia di tahun 2021 berjalan positif, dimana di tengah pandemi Covid-19 sektor industri mebel dan kerajinan nasional ini justru menunjukan pertumbuhan yang cukup baik yang merupakan pengaruh positif dari meningkatnya permintaan di pasar ekspor. Pada sembilan bulan di tahun 2021 permintaan ekspor mebel dan kerajinan mengalami lonjakan yang cukup signifikan terutama dari Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan perkembangan data ekspor secara historis bulanan, diperkirakan ekspor pada akhir tahun 2021 (Januari-Desember) mencapai angka  3,36 miliar dolar AS atau naik 27.76 persen dari tahun sebelumnya.

“Akan tetapi pertumbuhan 27,76 persen tersebut tergantung pada seberapa jauh barang ekspor bisa terkirim di tengah kelangkaan kontainer dan ketersediaan space cargo di kapal,” ucapnya.

Dari total ekspor mebel dan kerajinan, kelompok produk mebel masih menjadi kontributor ekspor terbesar, yakni 72,62 persem, sementara produk kerajinan berkontribusi 27,38 persen terhadap total ekspor produk mebel dan kerajinan nasional.

Sedangkan untuk kelompok produk mebel kontribusi ekspor terbesar masih tempati oleh produk wooden furniture, yakni 57,14 persen diikuti oleh rattan furniture 6,48% dan metal furniture 3,85 persen.

Sobur mengatakan, naiknya permintaan produk mebel dan kerajinan dari AS merupakan pengaruh dari kebijakan stimulus fiskal yang berdampak positif terhadap peningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendukung pengeluaran masyarakat yang berkelanjutan untuk semua barang, termasuk impor mebel dan kerajinan. “Selain itu adanya kekurangan pasokan mebel dari Tiongkok dampak trade war memaksa AS melakukan shifting order ke negara diluar Tiongkok al. Vietnam, Meksiko, Kanada, Malaysia, Taiwan dan Indonesia,” tuturnya.

Namun sangat disayangkan, adanya lonjakan permintaan tersebut belum dapat dimanfaat-kan secara optimal oleh Indonesia akibat masih banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku industri mebel dan kerajinan tanah air, seperti adanya kelangkaan kontainer dan terbatasnya space kapal yang mengaibatkan melambungnya biaya freight cost.

Selain itu adanya hambatan proses pengurusan Serifikat Laik Fungsi; serta beban biaya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) terutama bagi pelaku UKM—telah mempersulit ruang gerak pelaku usaha industri ini untuk tumbuh dan berkembang.

Masalah utama lainnya adalah stabilitas harga dan pasokan kayu, kelangkaan bahan baku rotan yang disinyalir akibat maraknya penyelundupan, dan prosedur importasi bahan penunjang/ asesoris al. hardware sepeti mur, baut, rivet, washer, nut, pin, clip, stamping part, turned part, dan juga kain tekstil.

“Masalah lain yang juga menganggu aktifitas industri adalah ijin keimigrasian bagi Inspektor buyer luar negeri, dan adanya razia Limbah B3 yang menimbulkan kegaduhan,” katanya.

Impor meningkat

Di sisi lain, Sobur juga mengungkapkan laju impor mebel dan kerajinan pada periode Januari-September 2021 (yoy) meningkat cukup signifikan yakni 34,10 persen dari  659 juta dolar AS ke  883,7 juta dolar AS.

Kenaikan impor terbesar terjadi pada kelompok produk mebel yang meningkat 44,12 persen sedangkan produk kerajinan naik 21,75 persen. Dari kelompok produk mebel kenaikan impor terbesar terjadi pada produk bamboo furniture 140,16 persen diikuti oleh metal furniture 57,14 persen.

Dari hasil perdagangan luar negeri (ekspor-impor) produk mebel dan kerajinan secara umum mengalami surplus sebesar  1,64 miliar dolar AS atau naik 28,12 persen dari surplus periode yang sama tahun sebelumnya. Kelompok produk mebel masih sebagai kontribusi terbesar dengan nilai surplus  1,31 miliar dolar AS atau naik 31,92 persen, sementara kerajinan menyumbang  331,3 juta dolar AS atau naik 15,07 persen. Buyung N