Ternyata bambu memiliki multifungsi yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri. Sebut saja untuk konstruksi, peralatan rumah tangga, peralatan makan, tekstil, alat musik, kertas, makanan, hingga bahan pengganti kayu.
Selain itu dari sisi alam, ternyata tanaman bambu juga berperan untuk konservasi tanah dan air di daerah rawan banjir dan tanah longsor. Bahkan bambu juga mampu menyerap karbon dan menyimpannya hingga 3,33 ton CO2 eq.
Di Samping itu bambu dapat digunakan sebagai bahan energi terbarukan yaitu berupa arang, bioetanol, dan biomassa. Sayangnya, dari pasar bambu dunia (tahun 2024) sebesar Rp1.205 triliun, yang kita (Indonesia) dapatkan baru 1% dari total ekspor dunia.
Kita tahu bahwa potensi bambu paling banyak berada di kawasan Asia, sekitar 65% sumberdaya bambu berada di kawasan ini. India, China, Indonesia, Myanmar, dan Vietnam adalah lima negara Asia yang hutannya paling bambu.
Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian, Dr Krisna Septiningrum menjelaskan, data tanaman bambu di Indonesia sebesar 11.043.320 batang/tahun. Di mana sebaran yang paling besar pertama 5.625.200 batang/tahun di kawasan Sulawesi. Kedua, terdapat di Kalimantan 4.340.015 batang/tahun. Ketiga, terdapat di Jawa dengan total 848.794 batang/tahun. (Sumber: Kemenhut, UPI).
Kekuatan komoditi produk bambu di Indonesia kata Krisna, sesungguhnya didukung oleh potensi alam sebagai penyediaan bahan baku yang masih sangat luas dan besar. Dan dukungan kebijakan dan pemberian intensif dan fasilitas pemerintah.
Namun sisi lain kelemahannya penyediaan bahan baku bambu belum optimal dan semua itu masih menunggu kepastian permintaan pasar serta komonitas industri berbasis bambu belum terbina dengan baik. Belum kuatnya indentifikasi produk priotritas berserta teknologi pendukungnya serta keterbatasan sumber daya manusia (SDM) pada industri berbasisis bambu.
Menurut Krisna peluang Indonesia untuk menguasai pasar internasional sangat menjanjikan. Kenapa tren penggunaan bahan baku alternatif termasuk bambu pada produk furnitur, kontruksi, inyterior, aksesoru otomotif, akseseris elektronik semakin diminati pasar. Tren penggunaan kemasaran ramah lingkungan (eco friendly packaging) menggantikan plastik di sektor e-commerce.
Tren green building, serta meningkatnya permintaan akan produk ramah lingkungan dan industri kecil menengah bambu siap dikembangkan menjadi skla besar mengingat protensi produk bambu berbasis semakin besar.
Tetapi Krisna juga mengakui ancaman terhadap produk bambu, salah satunya sisis persaingan dengan oproduk dari Chna dan Vietnam dan negara lain juga kian ketat. Belum lagi isu geopolitik, proteksionisme dan perang dagang serta isu keamanan investasi di Indonesia.
Akan tetapi pemerintah tetap optimis bahwa produk bambu akan menjadi salah satu yang mampu bersaing di pasar global. Hal itu diungkapkan Krisna Septiningrum pada makalahnya pada webinar yang digelar oleh Pusat Pengkajian Strategis Kehutanan (PUSKASHUT), Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ) dngan topik “Strategi Pengembangan Bambu sebagai Komoditas Komersial yang Terabaikan”, minggu lalu.
Strategi Pengembangan Bambu
Target dan strategi yang akan dilakukan untuk jangka panjang maupun dalam waktu lima tahun kedepan, dapat diketahui bahwa utilisasi untuk bambu masih cukup rendah, yaitu 30-40%, sehingga perlu menetapkan untuk meningkatkan utilisasi dengan bambu ini menjadi 60-70% pada tahun 2029.
Untuk meningkatkan kinerja ekspor bambu pada tahun 2024 sebesar 16,5 juta dolar AS di tahun 2029 pemerintah menargetkan menjadi 19,1 juta dolar AS. Dari sisi tenaga kerja akan mengalami peningkatan yang di mana pada tahun 2024 sebesar 203.000 orang menjadi 1,2 juta orang tahun 2029. Dari segi investasi, berada di Rp0,5 – 1 triliun, dan apabila bisa melaksanakan terkait dengan strategi di tahun 2029 bisa memperoleh invesitasi yang lebih besar, sekitar Rp3 triliun.
Untuk mencapai harapan tersebut fokus tahun 2025 -2029 akan diarahkan untuk penguatan eco sistem industri, peningktan ragam produk dan peningkatan produktivitas. Untuk bahan baku akan dilakukan ekstensifikasi, intensifikas, peningkatan kualitas benih bambu, organisasi petani, pemdampingan praktik pertanian berkelanjutan, sistem agroforestry. Hilirisasi bambu untuk menjamin ketersediaan bahan baku bambu dan peningkatan utilitas dan investasi, adopsi teknilogi, jaminan kualitas, penumbuhan wirausaha baru dan praktik berkelanjutan dan serkular. Di samping itu juga akan dilakukan promosi dan branding untuk memasarkan produk di luar negeri.
Pemerintah juga akan serius memberikan arahan seperti jaminanan ketersedian bahan baku bambu, peningkatan pasar produk berbasis bambu, peningkatan koppetensi SDM industri berbasis bambu. Penguatan produk prioritas dan peningkatan produktivitas industri berbasis bambu dan penguatan produk prioritas dan peningkatan produktivitas industri berbasis bambu.
Pusat logistik bambu
Dalam upaya untuk memperkuat Pusat Logistik Industri yang akan berfungsi sebagai penghubung utama antara industri bambu di Indonesia, sebuah inisiatif strategis tengah digagas untuk mendirikan pengusaha, produsen bahan baku, dan pasar global. Lokasi pusat logistik ini akan dipilih dengan cermat, berdekatan dengan sentra-sentra penghasil bambu yang telah berkembang, seperti di Jawa Barat (Tasikmalaya, Jonggol), Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pusat logistik ini bertujuan untuk mendukung sektor industri bambu dengan produk-produk bernilai tinggi yang telah teridentifikasi melalui pemetaan industri bambu, yakni furniture, bahan bangunan, dan kerajinan tangan. Sebagai salah satu sumber daya alam yang ramah lingkungan dan memiliki potensi ekonomi yang besar, bambu menjadi pilihan utama dalam upaya memperkuat sektor industri berkelanjutan di Indonesia.
Namun, untuk mewujudkan pusat logistik yang efisien, salah satu langkah awal yang perlu dilakukan adalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola industri bambu. Oleh karena itu, selain mendirikan pusat logistik, program Bamboo Academy juga akan diluncurkan sebagai bagian dari penguatan SDM. Program pelatihan ini akan dilaksanakan di berbagai sentra industri bambu yang ada, seperti di Jonggol, Jawa Barat, serta di NTT.
Bamboo Academy bertujuan untuk mencetak tenaga kerja terampil yang dapat mendukung kelancaran operasional pusat logistik bambu dan berperan aktif dalam mengembangkan industri bambu nasional. Program ini juga akan menjadi sarana untuk meningkatkan kompetensi para pelaku usaha, pengrajin, dan tenaga kerja lokal, agar mereka lebih siap menghadapi tantangan pasar global.
Dengan adanya pusat logistik ini, diharapkan industri bambu Indonesia dapat berkembang lebih pesat, mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku, serta meningkatkan daya saing produk bambu Indonesia di pasar internasional. AI


















