Siklus El Niño dan La Niña Sejak 1979

https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

El Niño adalah salah satu pola iklim di Bumi yang paling banyak dipantau karena perubahan suhu Samudra Pasifik yang relatif kecil pun dapat mengubah cuaca di seluruh dunia.

Visualisasi ini melacak setiap fase ENSO musim dingin Belahan Bumi Utara dari tahun 1979-80 hingga perkiraan musim 2026-27, menyoroti hampir lima dekade pergantian kondisi El Niño, La Niña, dan netral.

Dibuat oleh Julie R. Peasley menggunakan data dari Golden Gate Weather Services, National Centers for Environmental Information, dan NOAA — yang dimuat Visual Capitalist — grafik ini menempatkan perkembangan El Niño 2026 dalam konteks sejarah bersama beberapa peristiwa terkuat yang pernah tercatat.

Hampir Lima Dekade Siklus El Niño dan La Niña

Dari tahun 1979-80 hingga perkiraan musim 2026-27, Samudra Pasifik mengalami perubahan kondisi yang bergantian antara lebih hangat, lebih dingin, dan netral. Data lengkap per musim dingin ditampilkan di bawah ini.

Meskipun La Niña terjadi sedikit lebih sering sejak tahun 1979, episode El Niño terkuat umumnya menghasilkan dampak global yang paling luas. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas suatu peristiwa seringkali lebih penting daripada seberapa sering peristiwa itu terjadi.

Fase-fase ENSO yang ditampilkan dalam visualisasi didasarkan pada anomali suhu permukaan laut Pasifik tropis. Kondisi netral berkisar dari sekitar -0,4°C hingga +0,4°C, sedangkan El Niño dimulai di atas +0,5°C dan mencapai kategori “sangat kuat” pada +2,0°C atau lebih tinggi.

Peristiwa El Niño yang Membentuk Sejarah Iklim Modern

Beberapa episode El Niño menonjol karena konsekuensi globalnya. Peristiwa tahun 1982-83 membawa kekeringan parah di seluruh Australia dan Indonesia sekaligus memicu banjir di beberapa bagian Amerika Serikat bagian selatan. Peristiwa ini juga memicu badai terkuat yang pernah tercatat di Hawaii pada saat itu.

Baca juga:  AgroIndonesia, Edisi No. 793 (25-31 Mei 2021)

Fenomena El Niño “super” tahun 1997-98 menjadi salah satu yang terkuat yang pernah diamati, menyebabkan banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan di berbagai benua. Suhu laut yang mencapai rekor tertinggi selama peristiwa itu diperkirakan telah membunuh sekitar 16% terumbu karang di dunia.

Baru-baru ini, El Niño dahsyat tahun 2015-16 bertepatan dengan rekor suhu global, badai dahsyat di Pasifik Utara, kebakaran hutan di Indonesia, kekeringan di Ethiopia dan sebagian Karibia, serta peningkatan tahunan terbesar dalam CO₂ atmosfer yang tercatat pada saat itu. Perubahan iklim ini juga membantu menjelaskan pergeseran jangka panjang dalam emisi global .

Apa yang Akan Terjadi di Tahun 2026?

Menurut NOAA, El Niño baru secara resmi terbentuk pada Juni 2026 setelah perairan tropis Pasifik menghangat melebihi ambang batas kondisi El Niño. Para peramal memperkirakan peristiwa ini akan menguat sepanjang musim dingin Belahan Bumi Utara 2026-2027, meskipun intensitas akhirnya masih belum pasti.

El Niño tidak menyebabkan cuaca yang sama di semua tempat, tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya iklim ekstrem di banyak wilayah. NOAA dan Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan bahwa peristiwa yang berkembang pada tahun 2026 ini dapat memengaruhi pola panas, curah hujan, dan badai selama musim dingin Belahan Bumi Utara mendatang, dengan dampak yang bervariasi menurut lokasi.

Dengan lautan yang sudah mengalami peningkatan suhu luar biasa, para ilmuwan mengamati dengan cermat apakah El Niño terbaru ini akan semakin meningkatkan suhu global selama akhir tahun 2026 dan memasuki tahun 2027. AI