Perang Iran-AS Ancam Pangan dan Pasok Pupuk Global

Kapal-kapal tanker tertahan di Selat Hormutz

Jika konflik Iran dengan AS-Israel masih berlangsung dalam beberapa minggu ke depan, maka dunia harus siap-siap menghadapi ancaman yang lebih parah dari krisis energi yang mulai terjadi: krisis pangan.

Setelah krisis energi, dunia kini harus siap-siap menghadapi krisis pangan akibat tindakan Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran. Pasok pupuk global menyusut dan harga pupuk berbasis nitrogen dan posfat/fosfor bakal meroket. Ujungnya? Hasil panen menurun, harga pangan naik dan tekanan fiskal makin berat terhadap negara-negara produsen pertanian.

Gangguan yang terus berlangsung pada pengiriman dan aliran energi melalui Selat Hormuz akibat perang Iran telah mengguncang pasar pupuk global, yakni pasokan yang dibatasi, biaya logistik naik, dan meningkatkan harga energi. Kawasan Teluk merupakan pusat penting bagi perdagangan pupuk global, sehingga setiap gangguan di wilayah ini memiliki konsekuensi besar.

Menurut kajian Stratfort.com, platform intelijen geopolitik swasta terkemuka asal AS, sekitar sepertiga dari total pupuk yang diperdagangkan secara internasional dan hampir separuh volume urea yang diperdagangkan di dunia diproduksi di kawasan ini atau bergantung pada jalur transitnya. Secara spesifik, kawasan Teluk ini menyumbang sekitar 45% ekspor urea global, sekitar 30% ekspor amonia, dan sekitar 25% pupuk fosfat.

Pengiriman melalui Selat Hormuz biasanya memuat sekitar 25%-30% ekspor pupuk nitrogen global. Namun, serangan Iran terhadap kapal komersial secara signifikan telah mengganggu lalu lintas ini. Sejak perang dimulai pada akhir Februari, harga acuan urea telah naik 30%-40% di pasar ekspor utama, sementara tarif pengiriman di beberapa rute Timur Tengah meningkat beberapa kali lipat karena premi asuransi risiko perang dan perubahan rute.

Di pasar spot, harga melonjak dari sekitar 400-450 dolar AS/ton menjadi 600 dolar AS/ton atau lebih dalam beberapa transaksi. Hal ini mencerminkan terjadinya pembelian panik (panic buying) dan ketersediaan yang ketat. Pergerakan ini menunjukkan adanya guncangan input pertanian global yang dapat memicu tekanan harga pangan pada 2026, terutama jika perang berlangsung lama.

Sebelum perang, sekitar 20-21 juta barel minyak dan produk minyak melewati Selat Hormuz setiap harinya, bersamaan dengan sebagian besar ekspor komoditas regional, seperti bahan baku pupuk (terutama belerang, yang digunakan untuk memproduksi pupuk fosfat).

Guncangan pupuk global didorong oleh gabungan gangguan, mulai dari pasokan fisik, kenaikan biaya input, dan ketidakpastian logistik. Negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab merupakan eksportir utama pupuk nitrogen dan pemasok penting amonia serta belerang, yang menjadi bahan baku utama bagi produksi turunannya di seluruh dunia.

Dengan pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz hampir terhenti dan beberapa fasilitas menghadapi gangguan operasional, pasar global kini kehilangan akses terhadap beberapa juta ton pasokan tiap bulannya. Pada saat yang sama, produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada gas alam, sehingga kenaikan harga minyak dan gas alam cair (LNG) secara global, yang juga dipicu oleh gangguan di Hormuz, jelas meningkatkan biaya produksi dari Eropa hingga Asia.

Hambatan pengiriman memperparah masalah karena memaksa kargo menempuh rute yang lebih panjang atau tertunda di pelabuhan regional, menyita kapasitas kapal, dan menambah waktu pengiriman hingga berminggu-minggu. Karena permintaan pupuk sangat musiman dan terkait dengan siklus tanam, maka keterlambatan singkat bisa memicu lonjakan harga dan perilaku penimbunan oleh importir.

* Qatar mengekspor sekitar 5,5-6 juta ton urea dan amonia setiap tahun, menjadikannya salah satu eksportir global terbesar. Arab Saudi juga mengekspor sekitar 4-5 juta ton/tahun urea dan amonia.

* Kawasan Teluk juga menangani 44% perdagangan belerang dunia melalui jalur laut. Sebagai produk samping minyak dan gas, belerang penting untuk memproduksi asam posfat, yang digunakan untuk “mengolah” batuan posfat menjadi pupuk jadi. Gangguan pengiriman belerang melalui Selat Hormuz menciptakan putusnya rantai pasok vertikal untuk fosfor, sehingga pusat pengolahan utama di Maroko dan Cina kekurangan pasokan, meski mereka memiliki cadangan mineral mentah sendiri.

* Karena gas alam merupakan input utama pupuk nitrogen, lonjakan harga gas global (khususnya di Eropa yang meningkat 70%) membuat produksi di tempat lain menjadi lebih mahal. Selain itu, hilangnya amonia Teluk — bahan baku utama produksi nitrogen — menciptakan defisit di Belahan Bumi Timur yang sulit diatasi oleh produsen di Barat yang lebih mahal harganya.

* Guncangan global ini diperparah oleh keputusan terbaru Cina untuk menghentikan semua ekspor urea dan posfat hingga Agustus 2026. Langkah ini menghapus sekitar 5-7 juta ton urea dari “buffer” global tepat saat pasokan dari Teluk menghilang. Akibatnya, Cina bisa memainkan peran penting dalam stabilitas pangan global, karena sedikit pelonggaran kuota ekspornya dapat menurunkan harga, sementara larangan berlanjut bisa memperburuk kekurangan yang sedang terjadi.

Pangan Terancam

Dampak negatif paling tajam kemungkinan dirasakan di ekonomi pertanian yang bergantung pada impor pupuk dengan populasi pedesaan besar, cadangan fiskal terbatas, dan pasar pangan yang sensitif secara politik. Di sini, pemerintah akan menghadapi keputusan yang sulit terkait anggaran belanja dan risiko kerusuhan pun meningkat.

Kekurangan pupuk atau lonjakan harga bisa berdampak signifikan secara ekonomi dan sosial bagi negara-negara Asia Selatan, seperti India, Pakistan, dan Bangladesh — tempat puluhan juta petani skala kecil bergantung pada input nitrogen bersubsidi untuk menjaga hasil panen. Pemerintah di negara-negara ini sudah menghabiskan miliaran dolar AS setiap tahun untuk subsidi pupuk, sehingga kenaikan harga yang berkelanjutan akan menekan keuangan publik, berpotensi memaksa pilihan sulit antara memperluas subsidi, menjaga stabilitas mata uang, dan pengeluaran pembangunan.

Jika subsidi tidak mampu sepenuhnya menutupi biaya yang naik, penggunaan pupuk yang berkurang dapat menurunkan hasil padi dan gandum, memicu inflasi pangan yang paling dirasakan oleh rumah tangga miskin perkotaan dan berisiko memicu protes atau reaksi politik.

Di negara eksportir komoditas pertanian besar seperti Brasil — yang mengimpor sekitar 80%-85% pasokan pupuknya — biaya input yang lebih tinggi dapat menekan margin keuntungan pertanian dan mengurangi insentif menanam tanaman seperti kedele dan jagung. Dampak lanjutan sangat jelas, pendapatan ekspor dan lapangan kerja pedesaan menurun, dan harga komoditas global.

Di banyak negara Afrika (termasuk Kenya, Ethiopia, Tanzania, dan Sudan), dampaknya bisa lebih parah karena lonjakan harga pupuk dapat langsung menurunkan tingkat aplikasi, menurunkan produksi jagung, dan meningkatkan tagihan impor pangan. Tekanan seperti ini memperburuk kerentanan yang ada, termasuk depresiasi mata uang, lonjakan inflasi, dan meningkatnya risiko ketidakstabilan politik, terutama di negara yang keterjangkauan pangan terkait erat dengan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Bahkan di sebagian Eropa, seperti Jerman dan Italia, efek tidak langsung melalui kenaikan harga gas alam bisa memaksa pabrik pupuk berhenti beroperasi dan meningkatkan biaya operasional petani, memperkuat ketidakpuasan pedesaan, dan memperumit debat kebijakan terkait subsidi pertanian, transisi energi, dan daya saing perdagangan.

* Laporan PBB terbaru memperingatkan bahwa gangguan pengiriman yang sedang berlangsung melalui Selat Hormuz bisa menaikkan harga pangan global. Stabilitas pertanian sangat terancam di Sudan, Tanzania, Somalia, Mozambik, Kenya, Pakistan, dan Sri Lanka, yang sangat bergantung pada jalur ini untuk impor pupuk penting. Ditambah lagi, lanskap energi yang volatil dengan kenaikan tajam harga minyak dan gas alam menciptakan tekanan fiskal ganda di wilayah Asia Selatan dan Afrika: inflasi input pertanian dan energi secara bersamaan meninggalkan pemerintah dengan ruang anggaran yang sangat terbatas, sehingga rawan memicu kerusuhan sosial.

* Pabrik pupuk di India, Bangladesh, dan Pakistan dilaporkan telah berhenti beroperasi karena hilangnya pasokan gas alam yang biasanya berasal dari Qatar.

* Kenya Tea Development Agency (KTDA) memperingatkan bahwa biaya pupuk untuk lebih dari 700.000 petani kecilnya bisa naik lebih dari 25% jika blokade Hormuz berlangsung hingga April. Sementara itu, Ethiopian Agricultural Business Corporation (EABC) menyatakan bahwa keterlambatan pengiriman pupuk fosfat dan nitrogen bisa menurunkan hasil panen dari perkiraan.

* Gangguan pasokan pupuk global yang berkepanjangan akan berdampak paling langsung pada negara-negara di Belahan Bumi Selatan. Di Belahan Bumi Utara (AS, Eropa, dan Cina), sebagian besar pupuk dasar sudah tertanam pada bulan Maret, sehingga gangguan pasokan hanya menaikkan biaya atau sedikit menurunkan hasil panen 2026. Namun, di Belahan Bumi Selatan (khususnya Brasil dan Argentina), Maret dan April adalah periode kritis untuk tanam jagung kedua dan gandum musim dingin. Karena wilayah ini sangat bergantung pada impor dan tidak memiliki cadangan strategis besar seperti Belahan Bumi Utara, keterlambatan pengiriman 20 hari melalui Tanjung Harapan bisa melewatkan masa kritis biologis tanaman sepenuhnya.

Perubahan Struktutal

Sebaliknya, negara-negara eksportir pupuk yang berada di luar Selat Hormuz bisa mendapatkan keuntungan dari harga yang lebih tinggi dan meningkatnya permintaan untuk pasokan alternatif, terutama jika perang Iran dan dampaknya berlangsung beberapa minggu lagi. Eksportir besar seperti Maroko (yang menguasai sebagian besar cadangan posfat global) bisa mendapatkan manfaat dari harga yang tetap tinggi dan meningkatnya permintaan dari importir yang ingin mendiversifikasi rantai pasokan.

Namun, produsen Maroko sangat bergantung pada belerang elemental yang diimpor dari Uni Emirat Arab dan Qatar untuk memproduksi pupuk, sehingga ada batasan atas kapasitas mereka untuk meningkatkan output. Meskipun Maroko telah mendiversifikasi sebagian sumber sulfurnya ke Kazakhstan, blokade Selat Hormuz yang berkepanjangan kemungkinan akan menghabiskan cadangan strategisnya dan memaksa pembatasan ekspor pupuk.

Sementara itu, rantai pasok potash — pupuk utama lainnya — relatif terlindungi dari dampak perang Iran, karena pusat produksi utamanya di Belahan Bumi Utara yang secara geografis terpisah dari ketergantungan energi dan bahan baku Teluk. Negara kaya potash seperti Kanada tetap akan menghadapi kenaikan harga pupuk akibat pembelian panik dan lonjakan tarif pengiriman laut global, tetapi kenaikannya kemungkinan lebih moderat karena pasokan pupuk dasarnya tidak bergantung pada bahan baku Teluk.

Namun, karena nitrogen adalah penggerak utama pertumbuhan vegetatif, kekurangan urea yang berkepanjangan tetap bisa membuat petani di seluruh dunia mengurangi aplikasi potash. Eksportir nitrogen seperti Rusia dan Amerika Serikat mungkin melihat perbaikan kondisi perdagangan, meningkatkan keuntungan bagi perusahaan pupuk mereka.

Bagi eksportir pupuk yang berada di luar titik Hormuz, perkembangan ini juga bisa mendukung lapangan kerja pedesaan dan penerimaan fiskal, sambil memungkinkan pemerintah memperdalam hubungan komersial jangka panjang dengan negara importir pangan yang ingin memastikan pasokan yang andal. Namun, apakah tren ini terjadi, sangat tergantung pada durasi konflik Iran. Jika pengiriman melalui Hormuz kembali normal dalam beberapa minggu, keuntungan bagi pemasok alternatif hanya terbatas pada laba sesaat dan pergeseran pangsa pasar yang kecil.

Sebaliknya, gangguan yang berlangsung beberapa bulan atau lebih bisa mempercepat perubahan struktural dalam perdagangan pupuk, mendorong ekspansi kapasitas besar-besaran, dan menanamkan aliansi geopolitik baru dalam pertanian global, sehingga memberikan pengaruh jangka panjang bagi eksportir non-Teluk terhadap harga, keamanan pasokan, dan stabilitas sistem pangan.

Bahkan jika Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepakat menghentikan permusuhan, gangguan pengiriman di Selat Hormuz kemungkinan akan tetap berlangsung beberapa minggu lagi karena hambatan residual berupa premi asuransi tinggi, backlog kapal yang mendalam, dan kekhawatiran yang tersisa tentang keamanan jalur tersebut. Ini berarti gangguan pasokan pupuk bisa tetap ada, meski ketegangan di Hormuz mulai mereda. AI