Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai program pompanisasi yang dilakukan Kementerian Pertanian, di saat banyak negara di dunia dilanda kekeringan panjang dan menurunkan produksi pertanian, merupakan solusi tepat untuk mengatasi kekeringan. Apalagi, pompa bisa dipasang di seluruh Indonesia.
“Sekarang ini semua negara produksinya turun gara-gara gelombang panas dan kekeringan panjang. Karena itu, pompanisasi ini untuk mengantisipasi kalau terjadi kering panjang, terjadi gelombang panas, dan kita harus siap dulu sehingga produktivitas petani, produksi beras kita tidak turun,” ujar Presiden saat meninjau pompanisasi Kementan di Desa Bandan Hurip, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, beberapa waktu lalu.
Presiden memuji sistem irigasi dan saluran air sekunder maupun tersier persawahan di Provinsi Lampung dalam kondisi baik, sehingga memungkinan para petani untuk bertanam lebih dari satu kali. Presiden berharap Lampung terus menjadi salah satu penyangga utama bagi ketersediaan pangan Indonesia.
“Saya lihat di sini (Lampung) irigasinya baik. Ini kita tarik airnya dari irigasi yang lebih rendah untuk masuk ke irigasi sekunder, tersier, bisa lari ke sawah sehingga kita harapkan yang biasanya tanam panen sekali bisa dua kali, yang sudah dua kali bisa tiga kali,” katanya.
Sebagai informasi, sebaran pompa di Provinsi Lampung dari tahun 2019 hingga 2024 mencapai 2.606 unit. Sementara untuk Kabupaten Lampung Selatan dialokasikan 150 unit pompa di tahun 2024. Adapun luas baku sawah di sana mencapai 38.688 hektare (ha) dengan potensi sawah tadah hujan mencapai 30.976 ha.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mendampingi Presiden mengatakan, penambahan pompa untuk Lampung Selatan mencapai 150 unit dan diharapkan mampu menjangkau 1.650 ha dengan rata-rata provitas mencapai 5 ton/ha.
“Dengan bantuan ini diharapkan potensi produksinya mencapai 16.500 ton gabah kering giling (GKG) dengan Indeks Pertanaman 300 (IP-300) atau terjadi peningkatan 5,6% dari tahun sebelumnya,” katanya.
Sebagai informasi, pada tahun 2023, luas panen padi di Provinsi Lampung mencapai 530,11 ribu ha dengan produksi padi sebesar 2,76 juta ton GKG dan menjadi produsen beras terbesar ke-6 di Indonesia.
Kalteng 20,000 Unit Pompa
Sementara di Kalimantan Tengah pemerintah juga sudah mendistribusikan 20.000 unit pompa untuk memastikan kelancaran pengairan sawah. Ke depan, pompa akan ditambah sampai 70.000 unit.
Penyediaan pompa yang kerap diistilahkan dengan pompanisasi ini diharapkan dapat menaikkan produktivitas pertanian pada saat Indonesia tahun ini akan mengimpor beras sampai 5,17 juta ton.
Guna memastikan pompanisasi di sektor pertanian, Presiden Joko Widodo meninjau kawasan persawahan di Desa Bapeang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah,
Selain mengecek pompa yang sudah dipasang untuk mengairi persawahan, Presiden juga berinteraksi dengan para petani setempat.
Turut hadir dalam kunjungan ini antara lain Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran, dan Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor.
Presiden Jokowi mengatakan, penyediaan pompa ini dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan yang diperkirakan berlangsung dari Juli hingga Oktober 2024.
Indonesia tak bisa melulu mengandalkan impor beras sebab semua negara terdampak gelombang panas dan kekeringan panjang. Semua negara mengalami penurunan produksi beras.
”Banyak negara yang sebelumnya eksportir beras menjadi (tak mengekspor beras) dan dipakai untuk dirinya sendiri. Negara kita juga sama. Perkiraan dari BMKG nanti Juli, Agustus, September, Oktober — dan mudah-mudahan enggak terus — itu akan ada gelombang panas, kekeringan, yang itu harus diantisipasi,” kata Presiden Jokowi.
Pompa akan disediakan di kawasan-kawasan pertanian di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, akan disiapkan 20.000 unit pompa. Ke depan, pompa yang akan disalurkan akan berkisar 70.000 unit.
”Untuk apa? Ya, seperti ini. Air yang (berada) di bawah, (tapi) sawahnya agak ke atas. Jadi, (air) enggak bisa naik ke atas gara-gara enggak ada hal kecil, (yaitu) pompa. Tapi ini menjadi sangat krusial,” kata Presiden.
Di Kotawaringin Timur saat ini baru didistribusikan 30 pompa yang mencakup lahan pertanian seluas 435 ha. Sementara itu luas lahan sawah tadah hujan di kabupaten ini 7.600 ha, sehingga masih diperlukan lebih banyak pompa.
“Kebutuhan pompa nanti akan dikerjakan dari Kementan (Kementerian Pertanian) agar semuanya tercukupi,” kata Presiden.
Dalam rapat tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, beberapa solusi untuk mendorong produksi pangan ditetapkan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan empat solusi untuk mengatasi musim kering panjang yang menjelang.
Empat solusi dimaksud adalah pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, insentif benih, dan penambahan pupuk. Dengan langkah ini, diharapkan produksi meningkat sehingga harga komoditas beras bisa turun.
Di sisi lain, pemerintah juga menggencarkan impor beras. Kuota impor beras tahun 2024 yang awalnya 3,6 juta ton pun ditambah menjadi 5,17 juta ton. Hal ini disampaikan Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Sarwo Edhy dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara daring.
”Ya, yang dulunya dua (kali panen) bisa jadi tiga. Yang sebelumnya satu (kali panen) bisa jadi dua atau tiga,” kata Presiden menyebutkan harapan peningkatan produktivitas pertanian.
Presiden juga menyampaikan harapan agar Kotawaringin Timur ataupun wilayah-wilayah lain di sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN) bisa berperan sebagai penyangga.
Bila produksi padi di Kotawaringin Timur meningkat, demikian pula di wilayah-wilayah lain yang berdekatan IKN, maka ketersediaan pasokan pangan di ibu kota negara tersebut akan semakin baik.
”Kalau nanti indeks (pertanaman)-nya naik dari yang biasanya panen satu kali jadi tiga kali, artinya ada kelebihan produksi, dari situlah nanti akan dibawa ke IKN. Tidak hanya Kotawaringin Timur saja, tapi juga kabupaten-kabupaten lain yang kelebihan produksi,” katanya. YR
KTNA Nilai Pompanisasi Upaya Nyata Hadapi Kekeringan Panjang
Program pompanisasi yang digencarkan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama TNI terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Terbaru, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Yadi Sofyan Noor mengatakan, program tersebut merupakan upaya nyata dari pemerintah dalam menjaga pangan dan petani agar terus berproduksi.
Menurut Yadi, program pompa merupakan solusi cepat yang ditawarkan di waktu yang tepat. Terlebih saat ini hampir semua sentra tengah dilanda kekeringan panjang yang bisa mengakibatkan gagal panen. Karena itu, dia mendukung penuh kegiatan yang dijalankan Kementan sejak awal tahun 2024.
“Saya mendengar Mentan Amran Sulaiman berpindah-pindah tempat hingga ke Merauke memasang pompa. Keseriusan seperti ini yang kita butuhkan. Semestinya PUPR juga aktif seperti Kementan,” katanya.
Saat ini, kata Yadi, KTNA sudah melihat dampak baik dari pompanisasi yang dilakukan Kementan bersama TNI. Di antaranya beberapa daerah yang awalnya hanya bisa tanam satu kali, kini bisa tanam dua hingga tiga kali.
“Saya melihat banyak daerah yang sudah meningkatkan indeks pertanamannya. Padahal, tadinya hanya satu kali tetapi dengan pompanisasi bisa 3 kali,” katanya.
Diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) terus melaksanakan perluasan areal tanam atau PAT melalui program pompanisasi yang dipasang di sejumlah daerah sentra. PAT sendiri adalah instruksi Menteri Pertanian melalui Kepmentan No. 243/2024 tentang Satgas Antisipasi Darurat Pangan untuk melakukan pertambahan areal tanam.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa pompanisasi adalah solusi cepat dalam memperkuat pangan nasional. Dia berharap lewat program tersebut Indonesia mampu swasembada dan juga menjadi lumbung pangan dunia.
“Kami optimasi melalui pompanisasi Indonesia dapat memperkuat pangan yang jauh lebih kuat. Kita yakin Indonesia bisa swasembada dan juga menjadi lumbung pangan dunia,” ujarnya.
Menurutnya, pompanisasi adalah solusi cepat dalam mengantisipasi kekeringan panjang yang telah menurunkan produksi dalam negeri beberapa waktu lalu. Dia ingin, ke depan petani terus bergerak meningkatkan produktivitas sehingga mampu mewujudkan swasembada dan juga lumbung pangan dunia.
“Saat ini seluruh jajaran kementan bergerak di lapangan memastikan solusi cepat pompanisasi terpasang secara baik, terutama di daerah-daerah sentra seluruh Indonesia,” ujarnya. YR


















