Mengubur Limbah Kayu Demi Emisi Nol Persen

Limbah kayu hasil kebakaran hutan di Montan, AS, yang akan dikubur di tanah.
Murah, mudah dilakukan, dan bisa diterapkan secara luas. Kini para peneliti mengklaim bahwa jika Amerika Serikat mengubur 66% limbah kayunya, negara tersebut dapat mencapai net-zero atau nol emisi karbon pada tahun 2050.

Mengubur limbah kayu hasil tebangan hutan yang dikelola secara lestari (berkelanjutan) ke dalam tanah sedalam dua meter punya “potensi luar biasa untuk menyerap karbon”, dan karenanya bisa menjadi solusi rendah teknologi, berkelanjutan, serta relatif sederhana untuk mencapai target emisi nol.

Itulah kesimpulan riset terbaru dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di jurnal Nature pekan lalu.

Dalam studi bertajuk Large CO₂ removal potential of woody debris preservation in managed forests yang dipimpin Yiqi Luo, Ning Wei, dan Benjamin Houlton ditemukan, bahwa mengubur limbah kayu mulai dari sekarang hingga tahun 2100 dapat menyerap antara 770 hingga 937 gigaton karbon dioksida dari atmosfer. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk menurunkan suhu global hingga 0,420 Celsius.

“Berdasarkan pengetahuan saya, ini merupakan cara paling efektif, paling murah, dan mungkin juga yang paling berkelanjutan untuk menyerap karbon,” ujar Luo. Dia menambahkan, jika Amerika Serikat — negara penghasil produk kehutanan terbesar di dunia — mengubur dua pertiga dari limbah kayunya ke dalam tanah, maka target emisi nol pada 2050 sangat mungkin dicapai. “Potensinya sangat besar,” tegasnya.

Saat ini, sebagian besar limbah kayu dari proses penebangan pohon dibakar sebagai bahan bakar atau dibiarkan membusuk di alam. Luo menegaskan, jika limbah ini dikubur, karbon yang terkandung di dalamnya akan tersimpan di tanah dan tidak akan terlepas ke atmosfer. “Tanah merupakan insulator alami yang sangat baik dan mampu mengurangi kadar oksigen sehingga mencegah pelapukan kayu dan pelepasan karbon dioksida,” jelasnya.

“Jadi, jika kayu dikubur sedalam dua meter, dia dapat bertahan di sana selama ratusan bahkan ribuan tahun.”

Fokus utama penelitian Lou sedniri adalah pada limbah kayu dari hutan produksi, pabrik penggergajian, dan furnitur yang dibuang — yang dianggap sebagai sumber limbah kayu terbesar. Namun, metode ini juga bisa diterapkan pada pengelolaan kota, kebun buah, hingga lahan pertanian.

“Praktik ini bahkan dapat mendorong pembersihan bahan bakar alami dari hutan di wilayah rawan kebakaran, sehingga selain menangkap karbon, risiko kebakaran hutan pun dapat dikurangi,” ujar para peneliti dari New York tersebut.

Tahun lalu, Wood Central melaporkan bahwa metode ini — yang juga dikenal dengan istilah wood vaulting — telah mulai diterapkan Dinas Kehutanan Amerika Serikat untuk membersihkan vegetasi berlebih dan mengurangi risiko kebakaran hutan di kawasan rawan.

Para ilmuwan dan perusahaan teknologi iklim meyakini bahwa teknik ini dapat membantu menyimpan sejumlah besar karbon dalam bentuk vegetasi mudah terbakar, yang diperkirakan mencapai 2,2 miliar ton setara karbon. Jumlah ini setara dengan emisi karbon dari seluruh produksi semen global pada tahun 2016, dan setara pula dengan total karbon yang diserap hutan-hutan dunia sepanjang tahun lalu.

“Di hutan ada kayu yang lebih banyak ketimbang pasar yang mampu menyerapnya,” ujar Nate Anderson, peneliti kehutanan dari Rocky Mountain Research Station, yang mengkaji rantai pasok produk hasil hutan.

Menurutnya, apabila nilai karbon yang tersimpan dalam wood vaults diakui, maka insentif ekonomi terhadap metode ini bisa berubah drastis. Jika dilakukan dengan benar, penguburan limbah kayu ini bisa menjadi salah satu cara paling signifikan untuk membatasi pelepasan gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.

“Saya tidak melihat alasan mengapa metode ini tidak bisa mencapai skala yang besar, bahkan hingga menyerap jutaan ton karbon dioksida per tahun hanya di Amerika Serikat saja,” ujar Sinéad Crotty, direktur Carbon Containment Lab, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang penyerapan karbon. AI