Kawan dan Sahabat Tidak Akan Pernah Mempercayai Amerika Lagi

"Selamat datang di kantor saya, kalian para hamba, budak, dan pengikut." Foto: Daniel Torok/The White House

Presiden Donald Trump terus memperlakukan sekutu-sekutu Amerika dengan penghinaan sedemikian rupa sehingga konsekuensinya akan bertahan lama dan buruk. Berikut tulisan menarik kolumnis Bloomberg, Andreas Kluth, yang biasa meliput diplomasi AS, keamanan nasional, dan geopolitik.

“Kami dengan hormat mengajukan permintaan…,” demikian bunyi surat yang dikirim sekelompok orang yang mewakili lebih dari 300 veteran diplomasi, intelijen, dan keamanan nasional Amerika, dan ditujukan kepada para pemimpin komite intelijen di Senat dan DPR. Sesaat, saya mengira — atau berharap? — bahwa saya sedang membaca sebuah satire ala A Modest Proposal karya Swift. Lalu saya tersadar sepenuhnya bahwa permohonan itu sangat serius, mencerminkan kekhawatiran saya dan para pengamat kebijakan luar negeri AS lainnya selama berbulan-bulan di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Surat tersebut meminta Kongres untuk menuntut penilaian intelijen yang bersifat rahasia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. Apakah sekutu-sekutu Amerika masih menganggap AS sebagai demokrasi yang stabil? Apakah mereka masih melihat AS sebagai mitra yang dapat dipercaya? Apakah mereka sedang mencari aliansi alternatif di luar AS untuk mengamankan diri mereka? Bahkan, apakah mereka sedang menyusun rencana darurat untuk perang “di mana, untuk pertama kalinya dalam beberapa generasi, mereka mungkin harus bertempur melawan pasukan AS jika Amerika memutuskan untuk bersekutu dengan Rusia melawan NATO atau Ukraina, misalnya.” Mari kita renungkan sejenak.

Tentu saja, penilaian intelijen semacam itu kecil kemungkinannya untuk terwujud. Komite-komite yang relevan, seperti juga Kongres secara keseluruhan, dikendalikan oleh Partai Republik, yang tunduk pada Trump. Begitu juga dengan komunitas intelijen yang akan melaksanakan analisis tersebut, yang kini sedang mengalami pembersihan oleh pemerintahan Trump terhadap siapa pun yang dianggap tidak loyal, meskipun harus mengorbankan keahlian penting.

Namun, kekhawatiran itu tetap ada dan semakin mendesak dari satu siklus berita ke siklus berikutnya. Pertimbangkan kiriman drone militer Rusia ke Polandia, yang kemudian ditembak jatuh oleh jet-jet NATO. Tampaknya Presiden Rusia Vladimir Putin sedang menguji sistem pertahanan udara NATO, prosedur krisis, dan keteguhan aliansi tersebut — merasa semakin percaya diri, terutama setelah pertemuan santai di Alaska — bahwa Trump bersikap goyah terhadap komitmen pertahanan bersama NATO, dan justru memanjakan sahabat karibnya di Kremlin.

Atau pertimbangkan aksi pengeboman Israel terhadap Qatar, dengan tujuan membunuh para pemimpin Hamas. Baik Israel maupun Qatar, dalam jargon resmi, adalah “Sekutu Utama Non-NATO” AS. Qatar bahkan menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer terbesar AS di kawasan tersebut dan baru-baru ini menjamu Trump dengan janji-janji besar soal kesepakatan serta hadiah pribadi berupa jet mewah. Semua itu tampaknya tidak berarti apa-apa saat Perdana Menteri Israel sekali lagi mengabaikan Trump, yang tak mampu — atau enggan — melindungi kedaulatan sekutunya, Qatar, dan hanya bisa menggerutu bahwa serangan itu membuatnya “sangat kecewa.”

Jika insiden di Polandia menyoroti inkonsistensi Trump dalam NATO, sementara insiden di Qatar menunjukkan kelemahannya terhadap Benjamin Netanyahu, maka tindakan AS di Greenland malah menunjukkan sikap yang benar-benar bermusuhan. Wilayah semi-otonom itu jelas milik Denmark, salah satu sekutu tertua dan terdekat Amerika. Namun, Trump terus mengancam akan merebut Greenland “dengan cara apa pun.” Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Denmark memanggil diplomat tertinggi AS di Kopenhagen — untuk kedua kalinya tahun ini — guna memprotes operasi rahasia yang terbongkar. Beberapa warga AS menyusup ke Greenland untuk membuat daftar orang-orang yang mungkin akan berpihak pada AS dan mendukung pengambilalihan wilayah tersebut. Ini jelas bukan tindakan yang bersahabat.

Daftar teman dan sekutu yang dihina, dipermalukan, dan diremehkan terus bertambah. Trump ingin mencaplok Kanada, negara yang berbagi perbatasan tak dijaga terpanjang di dunia dengan AS, dan kini menganggap Washington sebagai salah satu ancaman utamanya. Direktur intelijen Trump telah memblokir informasi tentang Rusia agar tidak diteruskan kepada “Five Eyes” — sebuah perjanjian berbagi informasi intelijen antara Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada — yang merupakan salah satu aliansi intelijen paling erat dan berguna bagi Amerika (dan yang konon telah menyelamatkan banyak nyawa warga AS dengan menggagalkan rencana teroris).

Trump juga meragukan AUKUS, aliansi baru antara AS, Inggris, dan Australia, serta meremehkan Quad, kemitraan antara AS, Jepang, Australia, dan India — yang diharapkan suatu hari akan tumbuh menjadi aliansi nyata. Dari Taiwan dan Filipina hingga Estonia dan Jerman, tak ada satu sekutu Amerika pun yang bisa benar-benar yakin bahwa Washington akan membela mereka jika terjadi krisis.

Perusakan disengaja terhadap modal aliansi Amerika oleh Trump sangatlah merugikan diri sendiri hingga membuat kita “kebingungan,” kata Graham Allison dari Universitas Harvard, seorang pakar hubungan internasional terkemuka. AS mampu mencegah perang dunia lain selama delapan dasawarsa dan membatasi jumlah negara pemilik senjata nuklir hanya menjadi sembilan sejak Perang Dunia II, berkat upaya memperluas dan memperdalam aliansinya — tingkat stabilitas geopolitik yang dianggap Allison “tidak wajar” menurut standar sejarah. Trump tidak memahami hal ini dan malah memperlakukan para sekutu layaknya tuan tanah ala Dickens yang menekan para penyewa, atau bos mafia yang memeras korbannya.

Untuk kepentingan argumen, abaikan dulu faktor seperti kehormatan, kredibilitas, idealisme, dan nilai-nilai. Pikirkan hanya dari sudut pandang riil politik dan persaingan besar yang akan datang dengan China komunis. Bahkan, dan justru dalam konteks ini, kebijakan Trump yang secara de facto menghina para sekutu terlihat sangat tidak masuk akal.

Kurt Campbell dan Rush Doshi, dua pakar utama urusan luar negeri di pemerintahan Joe Biden, mencatat bahwa China sudah melampaui AS dalam banyak ukuran penting dalam peperangan — dari jumlah kapal, pabrik, paten hingga jumlah penduduk. Padahal, jika AS lebih bekerja sama dengan sekutunya, kekuatan ekonomi dan militer gabungan — yang disebut Campbell dan Doshi sebagai allied scale — akan jauh melampaui China.

Dengan arah yang ada sekarang, skala gabungan tersebut hanya akan menjadi angan-angan. Alih-alih, para sekutu AS kini bereaksi sesuai prediksi teori balance of threats dalam hubungan internasional. Mereka malah membentuk jaringan perdagangan dan keamanan baru yang mengecualikan AS, sebagai langkah antisipasi terhadap permusuhan dari Trump atau presiden AS di masa depan. Uni Eropa (UE) yang terkenal sulit bersatu kini mulai merapatkan barisan. Inggris, Prancis, dan Jerman menandatangani perjanjian pertahanan cadangan jika NATO gagal. Mereka semua mulai membicarakan bagaimana menyesuaikan kebijakan nuklir mereka untuk menghadapi dunia di mana “payung” perlindungan AS mungkin tidak akan hadir saat hujan turun.

Beberapa warga Amerika sadar bahwa arah yang dituju saat ini adalah bencana. Minggu ini saya menemui Gregory Meeks, anggota senior dan mantan ketua Komite Urusan Luar Negeri DPR. “Trump sedang mengisolasi Amerika,” katanya. “Dia tidak memimpin. Kalau Anda memimpin, orang lain akan mengikuti Anda, tapi dia justru menjauhkan orang-orang. Dia memperlakukan sekutu-sekutu kita seolah-olah mereka adalah musuh.”

Saya bertanya kepada Meeks, dari semua masalah yang dia hadapi, apa yang paling mengganggunya. Dia termenung cukup lama, sementara pandangan saya tertuju pada jendela di belakang mejanya, yang membingkai gedung Capitol dengan indah. “Yang paling membuat saya tak bisa tidur,” akhirnya dia menjawabnya, “adalah apakah teman dan sekutu kita akan pernah bisa mempercayai Amerika Serikat lagi.” Cara dia mengucapkannya, pertanyaan itu terasa retoris. Saya khawatir jawabannya sederhana dan menyedihkan: Tidak akan. AI