El Nino ‘Godzilla’ Mengancam Petani dari India sampai Australia

Seorang gembala minum di dasar waduk yang kering di wilayah Marathwada, negara bagian Maharashtra, India, pada Mei 2016. Terpukul parah oleh El Nino, lebih dari 400 petani di daerah itu meninggal karena bunuh diri dalam lima bulan pertama tahun 2016. Foto: AP

Waktu tanam hampir tiba di Botolan, sebuah kota pertanian di Filipina — sekitar 200 km arah barat laut Manila. Biasanya, hujan musiman sudah turun pada akhir Mei. Namun, sejauh ini, cuacanya malah cukup kering. Buat petani padi yang bergantung pada curah hujan untuk mengairi sawahnya, ini jelas pertanda buruk.

Dan, Froilan Dilag pun tak bisa menutupi kekhawatirannya. Bagaimana nasib tanaman padinya.

Kekeringan yang dialami Botolan mungkin baru permulaan. Ramalan kembalinya El Nino — pola cuaca Pasifik yang berulang dan dikenal membawa kekeringan dan menyebabkan kebakaran hutan ke sebagian besar wilayah Asia Selatan dan Tenggara serta Australia — semakin menguat setiap harinya. Ketika El Nino muncul terakhir kali pada tahun 2023-2024, kata Dilag, “Tanah menjadi sangat kering.”

“Saya khawatir hal itu akan terulang tahun ini. Akibat El Nino, kemungkinan kami hanya bisa memanen 50% dari apa yang kami tanam,” katanya seperti dilaporkan Nikkei Asia, Sabtu (30/5/2026).

Kecemasan munculnya El Nio tahun ini meningkat di kalangan petani, mulai dari India hingga Australia. Apalagi, beberapa ahli meteorologi memperingatkan bahwa kondisi sudah matang untuk terjadinya El Nino super kuat yang belum pernah terjadi dalam 150 tahun terakhir atau dijuluki El Nino “Godzilla”.

El Nino parah yang akan menghancurkan banyak tanaman ini terjadi pada saat para petani di wilayah tersebut sedang berjuang menghadapi kekurangan pupuk akibat perang Iran. Peningkatan suhu laut juga kemungkinan akan memengaruhi populasi ikan, membunuh atau mengusir spesies utama dari wilayah biasanya, dan pada gilirannya memberikan pukulan bagi para nelayan yang sudah terbebani oleh peningkatan biaya bahan bakar yang menyulitkan mereka untuk melaut. Konsumen Asia, yang sudah berurusan dengan inflasi yang kembali meningkat, akan menghadapi tagihan belanjaan yang lebih tinggi.

Kekeringan dan kebakaran hutan juga akan merusak kualitas udara dan infrastruktur, jaringan transportasi, serta pariwisata di wilayah tersebut. Pembangkit listrik tenaga air, pusat data, dan pabrik yang bergantung pada pasokan air yang stabil juga dapat terancam. Dan, seperti yang terlihat pada El Nino sebelumnya di wilayah ini, gejolak politik dapat menjadi risiko lain.

“Apa yang diprediksi oleh model-model tersebut sebenarnya adalah peningkatan suhu yang melebihi 20 Celcius di Pasifik tropis,” kata Andrea Taschetto, profesor yang mempelajari El Nino di Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas New South Wales di Sydney.

Para ilmuwan mendefinisikan kategori El Nino tertinggi sebagai kemunculan suhu permukaan yang berkelanjutan lebih dari 20 C di atas rata-rata jangka panjang Pasifik — suatu kondisi yang telah tercapai empat kali dalam 50 tahun terakhir.

Seorang petani mengamati sawahnya yang tidak ditanami di Zambales, Filipina, pada bulan Mei. Beberapa warga di daerah tersebut khawatir pompa air tidak akan mampu menyediakan air yang cukup untuk penanaman padi mendatang guna mengimbangi dampak El Nino. Foto: Nikkei/Ramon Royandoyan

Per tanggal 14 Mei 2026, Pusat Prediksi Iklim dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memperkirakan peluang terjadinya El Nino selama periode Mei-Juli sebesar 82% dan peluang mencapai tingkat “kuat” atau “sangat kuat” pada bulan September sebesar 57%.

“Meningkatnya kemungkinan kondisi gelombang panas selama Juni 2026 dapat berdampak besar pada kesehatan masyarakat, ketersediaan air, konsumsi listrik, dan layanan penting,” kata Departemen Meteorologi India dalam pembaruan prakiraan bulanannya pada hari Jumat (29/5/2026).

Penelitian terbaru memperkirakan biaya keseluruhan dari setiap peristiwa El Nino mencapai triliunan dolar.

Menelaah kembali dampak jangka panjang El Nino sebelumnya, sebuah studi yang dilakukan peneliti Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong, Yi Liu, bersama para sarjana lainnya memperkirakan total biaya ekonomi dari kejadian El Nino tahun 1997-98 mencapai 2,1 triliun dolar AS. Perkiraan sarjana iklim Amerika (Christopher W. Callahan dan Justin S. Mankin) pada tahun 2023 malah lebih besar lagi senilai 5,7 triliun dolar AS, seraya juga memperkirakan bahwa El Nino yang saat itu baru dimulai akan menimbulkan biaya kumulatif bagi dunia setidaknya 3,4 triliun dolar AS selama lima tahun berikutnya — tanpa memperkirakan fenomena tersebut akan muncul kembali dalam jangka waktu tersebut.

Selain pemanasan global, efek pengeringan El Nino tahun ini di Asia Tenggara dan Australia juga dapat diperparah oleh Indian Ocean Dipole (IOD) “positif” — pola cuaca terpisah tetapi serupa yang berulang. Dalam pembaruan terbarunya, Departemen Meteorologi India mengatakan, “kondisi IOD netral” kemungkinan akan berlanjut setidaknya hingga September, sebuah perubahan dari perkiraan sebelumnya bahwa dipol positif “kemungkinan akan berkembang.”

Sebuah waduk di provinsi Nueva Ecija, Filipina, mengering akibat kekeringan pada April 2024. Foto: Getty Images

Peter Holding, yang beternak domba dan menanam kanola serta gandum di lokasi yang berjarak 100 km barat laut Canberra, terus memantau prakiraan El Nino dan Indian Ocean Dipole. “Keadaannya tidak terlihat baik,” kata Holding, petugas penghubung untuk kelompok Australia Farmers for Climate Action.

Dampak cuaca mungkin paling terasa di Indonesia, Malaysia, dan Filipina karena ketiga negara tersebut — bersama dengan Singapura dan Brunei — terletak di zona di mana dampak pengeringan dan pemanasan El Nino biasanya tumpang tindih.

Mengingat ketidakpastian dan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini, para petani di Malaysia juga sudah menunda penanaman padi berikutnya selama satu atau dua bulan dengan harapan kondisi akan membaik, kata Abdul Rashid Yob, ketua Pertubuhan Persaudaraan Pesawah Malaysia atau Pesawah, sebuah kelompok advokasi untuk petani padi.

“Cuaca tidak stabil,” kata Rashid, seraya mencatat bahwa beberapa waduk utama di Malaysia kini kurang dari 10% terisi. “Tanpa dukungan air dari bendungan, pasti akan ada masalah bagi tanaman.”

Sapi-sapi dipelihara di tempat penampungan pemerintah India di Marathwada untuk diberi makan karena kekeringan parah pada Mei 2016. Foto: AP

Air dari waduk bahkan bukan pilihan bagi jutaan petani di India, di mana 45% lahan pertanian hanya diairi oleh air hujan, terutama monsun musiman. Dalam prakiraan terbarunya pada hari Jumat, Departemen Meteorologi India memproyeksikan bahwa curah hujan musim monsun Juni-September secara rata-rata akan 10% di bawah tingkat normal.

Akibatnya, para petani di negara bagian Maharashtra yang kering di baratdaya kini mempertimbangkan apakah akan menanam kedele atau kapas, menurut Vijay Jawandhia, seorang aktivis di daerah tersebut. Kapas kemungkinan akan lebih tahan terhadap cuaca, tetapi pertumbuhannya yang lambat akan menghilangkan kesempatan untuk menanam tanaman lain di akhir tahun.

Namun, cuaca panas bisa berdampak buruk pada tanaman apa pun.

“Pada tahun-tahun El Nino tertentu, curah hujan terkadang tidak terlalu rendah karena faktor-faktor seperti Indian Ocean Dipole,” kata Pranjul Bhandari, kepala ekonom HSBC untuk India. “Namun, suhu selalu meningkat. Dan sekarang suhu telah melampaui ambang batas di mana dampaknya bukan hanya pada tanaman yang mudah rusak seperti sayuran, tetapi juga tanaman tahan lama seperti serealia, kacang-kacangan, biji-bijian penghasil minyak (oilseed), dan yang terbaru bahkan protein hewani seperti telur dan daging.”

Selama El Nino 2015, India secara keseluruhan menerima curah hujan 14% lebih sedikit dari biasanya, tetapi kekurangan tersebut mencapai 40% di beberapa bagian Maharashtra. Pada tahun itu, lebih dari 4.000 petani di negara bagian tersebut bunuh diri.

Sebuah kereta khusus membawa air ke Marathwada pada April 2016. Foto: AP

“Manusia berhenti menjadi dirinya sendiri,” kata Kedar Sirohi, kepala ranting partai Kongres Nasional India di negara bagian tetangga, Madhya Pradesh. Di negara bagian itu, lebih dari 1.000 petani meninggal karena bunuh diri pada tahun 2015.

Petani Malaysia juga mengalami kerugian besar pada tanaman padi dan kelapa sawit selama El Nino 2015. Negara bagian Johor — produsen pertanian terkemuka di negara itu — terpaksa melakukan penjatahan pasokan air.

Seorang petani mencabut tanaman padi yang rusak akibat kekeringan di Aceh Besar, Indonesia, pada Juli 2024. Foto: Reuters

El Nino yang akan datang bisa berdampak lebih buruk bagi petani, terutama petani padi, kata Rashid dari Pesawah. “Di masa lalu, kami pernah mengalami kekeringan, tetapi tidak disertai dengan kenaikan biaya seperti sekarang,” katanya.

Para petani padi di Malaysia sangat tertekan karena pemerintah menetapkan harga pembelian hasil panen mereka. “Kami menanam padi, tetapi kami tidak dapat menentukan harganya,” kata Rashid. “Pemerintah yang menetapkannya, sementara biaya kami terus meningkat.”

Kebakaran semak di Newcastle, Australia, pada Desember 2023. Foto: Getty Images

Baik di Malaysia maupun Indonesia, petani sering mengeringkan lahan gambut untuk digunakan sebagai lahan budidaya kelapa sawit, dan sering menggunakan api untuk mempercepat pengeringan dan membersihkan lahan. Hal ini dapat menjadi bencana selama El Nino, ketika lahan gambut yang kering bahkan dapat terbakar dengan sendirinya dan api dapat menyebar di bawah tanah. Pada tahun 2023, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.051 kebakaran terjadi di pedesaan.

Pada tahun 2015, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menghasilkan kabut asap tebal yang menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan sekitarnya. Sebuah studi oleh para peneliti dari universitas Harvard dan Columbia memperkirakan bahwa lebih dari 100.000 warga Asia Tenggara meninggal sebelum waktunya akibat polusi dari kebakaran tahun itu.

Pada tahun itu, sekolah SMA Muhammad Ramadhan di Pekanbaru, Sumatera, ditutup selama seminggu karena kabut asap yang bertahan di kota tersebut selama lebih dari dua bulan. Dia tinggal di rumah karena merasa sulit bernapas di luar. “Asap bahkan masuk ke dalam rumah,” kenangnya. “Lampu bisa dinyalakan, tetapi tetap terlihat berkabut.”

Pusat kota Jakarta diselimuti kabut asap pada Juni 2023. Foto: Getty Images

Meskipun El Nino tahun ini berpotensi lebih parah daripada tahun 2015, Asia juga telah meningkatkan kemampuannya untuk melindungi produksi pertanian.

Arthur Joseph Kurup, Menteri Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia mengatakan kepada Nikkei Asia bahwa pemerintahnya sedang mempersiapkan langkah-langkah darurat potensial, seperti manajemen permintaan dan sistem penjatahan air.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga mengaku pemerintah terus memantau dengan cermat permukaan air tanah, terutama di sekitar lahan gambut. Jika permukaan air turun di bawah titik pemicu, pihak berwenang akan mengambil langkah-langkah seperti menutup kanal dan menyemai awan untuk memicu hujan.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional Indonesia menyalurkan air di desa Lambaro Seubun, Aceh, di tengah kekeringan pada Juli 2024. Foto: Reuters

Melalui langkah-langkah mitigasi untuk menjaga pasokan air, Indonesia mampu meminimalkan impor beras selama El Nino 2023, kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seraya menyatakan keyakinan bahwa stok pangan akan tetap aman tahun ini.

India juga telah mengambil langkah-langkah yang seharusnya membantu mengurangi dampak El Nino. Lebih banyak petani telah mendapatkan akses ke air bersih yang dialirkan melalui pipa. Varietas tanaman tahan iklim juga telah berkembang, menurut Subash Pillai, ilmuwan fisika pertanian utama di Institut Penelitian Pertanian India di New Delhi.

Para petani India yang berunjuk protesting mencoba berbaris menuju New Delhi pada Desember 2024. Foto: Reuters

Dampak El Nino tahun ini kemungkinan juga akan dirasakan oleh industri nonpertanian.

Di negara-negara seperti Malaysia, bendungan PLTA mungkin terpaksa mengurangi operasinya. “Dengan El Nino, ada kecenderungan besar mereka (pihak berwenang) akan kembali beralih ke bahan bakar fosil,” kata Hamizah Shamsudeen, aktivis iklim dan energi Greenpeace di Kuala Lumpur.

Posisi Malaysia sebagai pusat data center juga bisa terancam. “Pendinginan air adalah masalah nyata di pusat data,” kata Jemilah Mahmood, direktur eksekutif Sunway Centre for Planetary Health di negara bagian Selangor. “Anda membutuhkan banyak air untuk mendinginkan sistem. Jika Anda tidak memiliki cukup air, dan Anda perlu mendinginkan sistem AI, maka itu akan menjadi ketegangan nyata antara masyarakat dan dunia usaha.”

Ketegangan terkait pasokan air dan bantuan pemerintah dapat menciptakan kombinasi yang mudah meledak.

Pada tahun 2016, ribuan petani Filipina yang kelaparan di Kidapawan — sebuah kota 40 km sebelah barat Kota Davao — memblokir jalan raya untuk menuntut bantuan beras dari pemerintah. Konfrontasi yang meningkat dengan polisi mengakibatkan tiga orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka. India mengalami protes petani dalam skala yang lebih besar selama El Nino tersebut, yang bertepatan dengan upaya pemerintah untuk memberlakukan reformasi undang-undang yang mengatur penjualan tanah.

Fenomena El Nino tahun 1997-98 memiliki dampak yang jauh lebih luas bagi Asia Tenggara. Akibat kekeringan parah, lahan sawah seluas 88.467 hektare (ha) hancur di Indonesia saja, menyebabkan penurunan stok pemerintah sebesar 70% karena para petani menahan pasokan untuk memberi makan keluarga mereka sendiri atau menjual langsung kepada warga kota yang membutuhkan.

Kabut tebal yang menyesakkan memaksa maskapai penerbangan untuk membatalkan penerbangan dan menyebabkan tabrakan kapal di jalur pelayaran dengan jarak pandang rendah. Penderitaan diperparah oleh krisis keuangan dan mata uang di kawasan tersebut, yang memicu kerusuhan yang akhirnya menggulingkan diktator Indonesia, Suharto, dari jabatannya.

Bagi Jawandhia yang berasal dari Maharashtra, El Nino tahun ini bisa menjadi krisis yang memicu perubahan di pedesaan India.

“Tentu saja, musim hujan yang lebih lemah akan berdampak buruk bagi para petani,” katanya. “Apalagi mereka sudah terbebani utang, dan kami merasa hanya krisis harga pangan yang akan membuka mata para administrator dan konsumen perkotaan terhadap penderitaan para petani. … Ada begitu banyak keputusasaan yang mungkin akan kami temui akibat dampak buruk El Nino.” AI