Dewan Penebang Kayu Amerika (American Loggers Council) mengecam keras aturan deforestasi Uni Eropa sebagai aturan yang tidak dapat dijalankan, sementara Washington mendorong adanya “jalur hijau” dalam perundingan perdagangan trans-Atlantik.
Menurut Dewan Penebang Kayu Amerika (ALC), undang-undang anti-deforestasi Uni Eropa (UEDR) “sudah berantakan di mana-mana” dan harus dibatalkan. Dalam pernyataan kerasnya seperti dimuat Wood Central, ALC menuduh Brussel mengejar “upaya yang salah arah” yang berisiko merusak perdagangan dan kepercayaan.
ALC menyatakan bahwa sejak disahkan, EUDR telah diganggu oleh “penundaan, perubahan, penolakan, ketidakpastian, dan masalah hukum”.
“UE mencoba terus untuk merajut aturan EUDR yang sudah retak di mana-mana,” kata Dewan tersebut. “Jelas dari gerakan maju satu langkah, mundur dua langkah, Uni Eropa sedang menari dalam lingkaran kekhawatiran internal dan eksternal. Jika mereka terus mundur, pada akhirnya mereka akan sampai ke titik di mana mereka seharusnya berhenti dan tidak lagi bertempur melawan bayang-bayang.”
Saat ini, EUDR yang akan mulai berlaku akhir tahun ini, mewajibkan perusahaan untuk membuktikan bahwa produk mereka tidak terkait dengan deforestasi sebelum memasuki pasar UE — sebuah kerangka kerja yang menurut ALC sangat cacat.
“Sudah waktunya untuk mengakhirinya, semuanya sudah jelas, musik sudah berhenti, dan permainan sudah usai. Sudah waktunya untuk mempelajari tarian baru,” tambah pernyataan tersebut.
Perundingan Dagang dan Potensi ‘Jalur Hijau’
Pernyataan ini muncul di tengah sorotan baru terhadap EUDR dari kedua sisi Atlantik. Pekan lalu, Wood Central melaporkan bahwa produsen pulp, kertas, dan kayu terbesar di dunia bisa diklasifikasikan sebagai “bebas deforestasi” — langkah yang dapat memicu kembali perdebatan tentang potensi “jalur hijau” bagi pemasok tertentu untuk memenuhi persyaratan regulasi tersebut.
Menurut laporan, pejabat Uni Eropa (UE) dan AS sedang menyusun Kesepakatan Kerangka Kerja UE-AS untuk “menangani kekhawatiran produsen dan eksportir AS terkait Peraturan Deforestasi Uni Eropa,” dengan tujuan “menghindari dampak yang tidak semestinya terhadap perdagangan AS-UE.”
Saat ini, Amerika Serikat termasuk dalam 141 negara yang diklasifikasikan sebagai “berisiko rendah” berdasarkan sistem penilaian UE. Namun, pejabat perdagangan AS sedang melobi agar dibentuk kategori baru, yaitu “risiko sangat rendah” — sebuah penetapan yang akan menyederhanakan proses uji tuntas untuk semua produk asal AS.
Pihak yang menentang perubahan ini berpendapat bahwa memberikan status “risiko sangat rendah” kepada AS dapat melemahkan penegakan aturan. Secara teori, produk yang terkait dengan deforestasi ilegal dari negara berisiko standar seperti Meksiko bisa dialihkan melalui AS, lalu dikirim ke Eropa dengan pemeriksaan minimal.
Para analis perdagangan juga memperingatkan potensi konsekuensi diplomatik dan hukum. Menurut Palm Oil Monitor, sebuah platform industri kelapa sawit, mewanti-wanti bahwa terjadinya perlakuan istimewa terhadap AS kemungkinan harus diberlakukan pula untuk negara-negara eksportir besar lainnya, termasuk kepada Indonesia dan Malaysia. Hal itu guna menghindari terjadinya keretakan hubungan dan pelanggaran terhadap aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Gampangannya, semua orang dapat penyederhanaan kepatuhan atau tidak semuanya sama sekali. Tidak ada jalan tengah yang bisa lolos dari pengawasan WTO,” tulis mereka, seraya mengingatkan bahwa perlakuan yang tidak setara bisa memicu gugatan hukum. AI


















