Surplus Perdagangan China Cetak Rekor Nyaris 1 Triliun Dolar AS

Foto: Antara

Tindakan cepat pemerintah China mengantisipasi terjadinya perang dagang dengan AS membuat rekor baru dalam neraca perdagangan. Menurut data resmi yang dirilis pada Senin (13/1), surplus perdagangan China tahun 2024 mencetak rekor hampir 1 triliun dolar AS. Yang patut diwaspadai, ekspor China ke pasar ASEAN juga meningkat.

Surplus besar China ini hanya berjarak seminggu sebelum Donald Trump dilantik menjadi Presiden AS untuk masa jabatan kedua. Trump sudah berjanji akan memberlakukan tarif bea masuk hukuman terhadap rival ekonomi terbesar mereka ini.

Surplus perdagangan China yang mencapai 992 miliar dolar AS, di mana lebih dari sepertiganya surplus dengan AS, diperkirakan akan memperburuk ketegangan lebih lanjut dengan Washington dan mitra perdagangan lainnya, yang telah menanggapi lonjakan ekspor China tahun ini.

Kalangan ekonom menyebut angka surplus tersebut dipengaruhi oleh ‘front-loading’ ekspor, di mana produsen berusaha mengirimkan barang-barang mereka besar-besaran sebelum diperkirakan terjadinya perang dagang dengan pemerintahan baru Trump.

“Mengingat ancaman tarif, kami memperkirakan pertumbuhan ekspor akan tetap kuat dalam waktu dekat karena front-loading,” demikian catatan riset ekonom Nomura.

Trump, yang akan dilantik untuk masa jabatan kedua sebagai presiden AS pada 20 Januari, terpilih kembali setelah berjanji akan menerapkan tarif bea masuk hingga 60% pada barang-barang China dan tarif 20% secara umum terhadap semua mitra dagang AS.

Sementara itu, produsen China terus menggenjot ekspor untuk mengimbangi lesunya permintaan domestik, di mana pendapatan rumah tangga masih harus pulih dari kehancuran pasar properti selama tiga tahun di negeri dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia ini.

Ekspor Terus Meningkat

Impor China juga melambat seiring dengan ekspor yang terus berkembang, yang memicu tuduhan dari mitra dagang bahwa surplus negara tersebut tidak berkelanjutan (unsustainable) dan mengancam terjadinya deindustrialisasi di seluruh dunia. Surplus perdagangan China pada bulan Desember mencapai 104,8 miliar dolar AS. Ini angka rekor untuk bulan tunggal dan meningkat dari 97,4 miliar dolar AS pada November.

Sementara angka ekspor — dalam denominasi dolar AS — meningkat 10,7% pada Desember dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, demikian menurut data bea cukai. Sementara angka impor naik 1%, melebihi perkiraan analis rata-rata dari Reuters yang memprediksi kenaikan 7,3% dan penurunan 1,5%, berturut-turut.

Pada bulan November, ekspor naik 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara impor menyusut 3,9%.

Berkat dorongan kebijakan besar Presiden Xi Jinping — yang telah berjanji untuk berinvestasi dalam “kekuatan produktif baru”, atau industri-industri mutakhir — China juga menjadi produsen utama produk energi hijau seperti panel surya dan batere untuk kendaraan listrik.

China juga berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir untuk menjadi kekuatan otomotif global, melampaui Jepang sebagai eksportir mobil terbesar di dunia.

Data Bea Cukai China juga mencatat surplus perdagangan China dengan AS meningkat 6,9% pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 361,03 miliar dolar AS.

Namun, analis Nomura mencatat bahwa porsi ekspor ke pasar AS dalam pengiriman China secara perlahan menurun, menjadi 14,7% pada 2024 dari 14,8% pada tahun sebelumnya, yang didorong oleh front-loading.

Banyak produsen juga mulai mendiversifikasi produksi dari China ke negara-negara sahabat di kawasan untuk menghindari tarif perdagangan dan pembatasan lainnya. Porsi ekspor China ke negara-negara Asia Tenggara naik 16,4% pada 2024, dari 15,5% pada tahun sebelumnya.

“Penurunan porsi ekspor ke AS dan peningkatan signifikan porsi ekspor ke ASEAN dapat memberikan beberapa perlindungan terhadap ekspor China yang menghadapi ketegangan perdagangan yang mungkin terjadi,” kata Nomura.

Namun mereka juga menambahkan, jika AS menargetkan pengalihan ekspor ke Asia Tenggara dari China, porsi kawasan tersebut juga bisa terpengaruh.

Ekonom HSBC mengatakan, dorongan ekspor ini mungkin akan memudar seiring berjalannya waktu ketika tarif mulai diterapkan, yang menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan China yang sedang berjuang dengan permintaan domestik yang lesu.

“Dengan ketidakpastian perdagangan global yang kemungkinan akan meningkat, dorongan dari front-loading bisa memudar, dan lebih banyak dukungan kebijakan akan dibutuhkan untuk mendorong permintaan domestik,” tulis mereka dalam sebuah catatan. AI