Transtoto: Pemerintah Mengutamakan Peningkatan Ketahanan Pangan di Pulau Jawa

Transtoto Handadhari

Pilihan Presiden Prabowo untuk mengintensifkan ketahanan pangan di wilayah Jawa relatif tepat. Pasalnya, Jawa adalah tanah yang paling subur di Indonesia diikuti Sulawesi Selatan, Bengkulu dan seterusnya.

Kesuburan tanah Jawa terjadi karena memiliki karakteristik curah hujan yang cukup (tipe A), jenis tanahnya gembur serta berlereng, meskipun banyak lokasi yang erosivitasnya cukup tinggi.

Ketahanan pangan antara lain dapat ditempuh dengan cara menyetarakan nilai tanaman jati Perhutani yang mahal dan bersifat lindung itu dengan memanipulasi
perolehan nilai jual komoditi tertentu dan nilai rupiah.

Itu yang dilakukan oleh Transtoto Handadhari, rimbawan bersama temannya Acil Bimbo dalam surat terbuka yang disampaikan 2 tahun yang lalu kepada pemerintahan sebelumnya untuk membantu mengoreksi pemberlakuan SK Kawasan Hutan Dengan Perlakuan Khusus.

Surat terbuka itu sebagai saran agar pengelolaan hutan di Jawa tidak diubah tergesa-gesa dengan melalui cara pemanfaatan sistem KHDPK menggunakan kawasan hutan Perhutani dan menguranginya untuk diubah sebagai lahan tanaman pangan.

Cara ini dapat dilakukan dengan mengurangi luas kawasan hutan jati prima di Jawa umur 70 tahun tapi masih cukup memenuhi kebutuhan dunia untuk mendapatkan magic land yang langka dari hutan Jawa tersebut dan menetapkan luas hutan jati yang umurnya lebih rendah dalam skala tertentu yakni antara lain skala manggala, sedang dan kualitas jati rakyat dan jati kebon sehingga masih diperoleh jati yang kualitasnya masih bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan rakyat sesuai fungsinya.

Sedangkan untuk mengatasi kemungkinan efek negatif kerusakan ekosistem digunakan antara lain sistem penanaman “Hutan Kebon” di seluruh daratan untuk seluruh kawasan daerah aliran sungai di Jawa.

Transtoto mengatakan bahwa dengan sistem kesetaraan nilai komoditas akan diperoleh juga ketahanan di bidang konservasi lahan namun perlu pencermatan dalam menentukan komoditas apa yang sesuai.

Transtoto menyatakan komoditi yang bernilai mahal seperti tambang (antara lain minyak, batu bara, emas), hasil laut atau sungai atau yang lain seperti getah tanaman jaranan yang melimpah, pemanfaatan lintah untuk pengenceran darah yang diperlukan untuk mencegah stroke, ekspor kera ekor panjang, porang dan unagi yang sangat dibutuhkan di Jepang, herbal, jejamuan dan empon-empon yang banyak di Jawa yang kalau dibudayakan mempunyai nilai hasil Rupiah yang dapat dikonversi untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyat.

Dengan demikian kebutuhan pangan akan diperoleh, dan juga kebutuhan konservasi alam.

Transtoto menjelaskan bahwa upaya penggunaan kawasan hutan Jawa masih mungkin dilakukan meskipun hutan Perhutani luasnya hanya sekitar 2,4 persen dari luasan pulau Jawa yang hanya 6 persen dari Indonesia namun perlu perhitungan yang tepat sesuai kapasitas hutan Jawa, jumlah penduduk dan kesetaraan nilai komoditas yang ada.

Demikian diungkap Transtoto yang lulusan UGM dan Universitas Wisconsin Amerika itu kepada Agro Indonesia disela-sela menjalani fisioterapi untuk pengobatan sakitnya didampingi oleh anaknya Gebyar Transtoto. ***