Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) dengan langsung turun ke beberapa daerah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bantuan alat mesin pertanian (Alsintan) sampai kepada petani dan tepat sasaran.
“Monev dilakukan untuk memastikan bantuan Alsintan yang diberikan pemerintah kepada kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan) telah tepat sasaran dan tepat guna,” kata Dirjen PSP Kementan Sarwo Edhy di Jakarta, Senin (8/4/2019).
Menurut dia, yang paling penting dengan monev ini adalah memastikan bahwa tidak ada bantuan Alsintan yang nganggur atau bahkan dijual. “Monev akan kita lakukan di seluruh daerah,” tegasnya.
Dari hasil monev di sejumlah daerah, Dirjen bersyukur tidak menemukan adanya bantuan yang diselewengkan ataupun dijual. Dia menyebutkan, bantuan Alsintan, baik yang bersumber dari pemerintah pusat melalui Kementan, masih dapat dimanfaatkan dengan baik oleh petani.
“Alhamdulillah kita melihat bantuan yang diberikan telah tepat sasaran. Tetapi memang ada di beberapa tempat yang belum secara optimal dapat dipergunakan karena kondisi alamnya yang tidak cocok dengan bantuan yang didapat,” sambungnya.
Sarwo Edhy menambahkan, bantuan Alsintan sangat membantu petani dalam mengolah lahan pertanian yang ada di masing-masing poktan. Kini, dengan adanya bantuan alat modern tersebut, proses menanam dan memanen padi semakin mudah dan cepat.
“Harapannya, dengan adanya bantuan Alsintan ini, kesejahteraan petani semakin baik dengan hasil pertanian yang semakin meningkat. Sehingga ketahanan pangan bisa betul-betul terjaga,” ucapnya.
Selain itu, Sarwo Edhy juga menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui secara detail setiap persoalan yang dialami petani secara riil. Sehingga, bantuan yang akan diberikan kepada petani bisa tepat sasaran dan tepat guna.
“Ke depan, diharapkan bantuan untuk petani akan terus dapat kita tingkatkan. Kebutuhan pupuk juga akan kita cukupi, sehingga produksi pertanian kita semakin meningkat,” tegasnya.
Sarwo Edhy menyebutkan, Alsintan semakin berpengaruh pada kesejahteraan petani. “Alsintan mampu menekan biaya operasional 35%-48% dalam produksi petani. Dulu, petani bisa membajak sawahnya satu hektare selama berhari-hari. Kini cukup dua hingga tiga jam selesai,” ucapnya.
Dengan perkembangan positif tersebut, dia berharap bantuan Alsintan pada 2019 semakin banyak dan kian menyejahterakan petani. Sebagai contoh, dengan combine harvester panen bisa secara otomatis dalam sekali jalan. Alat tersebut dilengkapi penebas, perontok, yang kemudian keluar dalam bentuk gabah.
Petani bisa langsung memasukkan gabah ke dalam karung, sehingga waktu bisa terpangkas dengan efisien. “Di beberapa tempat, luasan panen mencapai 3 hektare dan bisa dilakukan dalam waktu 3 jam saja asalkan cuaca bagus dan tanah tidak lembek,” ujarnya.
Petani Desa Mundu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (Jabar) sudah memanfaatkan alat dan mesin pertanian (Alsintan) kurun 2-3 tahun terakhir.
Petani pun merasakan manfaat langsung dari aneka Alsintan, salah satunya menjadi solusi mahalnya ongkos buruh tani di Kecamatan Mundu, Cirebon.
“Penggunaan Alsintan sangat membantu petani, mulai dari olah tanah hingga panen. Kami bisa olah tanah, tanam dan panen lebih cepat sehingga lebih efektif dan efisien,” papar Ketua Kelompok Tani Cikendal Makmur Desa Mundu, Kecamatan Mundu, Cirebon, Maman Suherman.
Menurut Maman, petani di Desa Mundu sangat terbantu dengan tersedianya Alsintan dari UPJA. Sebab untuk mendapatkan buruh tani di sini sangat sulit dan ongkosnya mahal. “Nah, dengan adanya Alsintan justru memudahkan petani olah tanah, tanam maupun panen. Sewa Alsintannya juga sangat terjangkau,” papar Maman.
Bapak empat anak ini juga mengakui, setelah menggunakan Alsintan kurun 2-3 tahun terakhir, usaha taninya lebih bagus. Misalnya saja, produktivitas padi yang ditanam sebanyak 5-6 ton/ha gabah kering panen (GKP). Sedangkan harganya Rp3.700-Rp3.800/kg.
“Kalau gabah kering giling (GKG) Rp4.500/kg. Semua gabah dari petani di sini umumnya dijual melalui koperasi,” ujarnya.
Maman menyebutkan, petani Mundu bisa tanam padi 2 kali/tahun, yakni pada Januari-Maret. “Memang sawahnya sebagian besar sudah irigasi. Namun, di musim kemarau (April-Juli), petani di sini lebih suka menanam palawija seperti jagung. Setelah musim penghujan, petani menanam padi lagi,” kata Maman.
Menurut Maman, di Desa Mundu masih banyak tengkulak yang membeli padi atau jagung dengan cara ijon. Sehingga, padi atau jagung dijual petani dengan harga murah. “Karena itu, kami minta pemerintah atau Bulog turun tangan mengatasi masalah ini, ” ujar Maman. PSP


















