Indonesia pemilik hutan tropis terbesar ke 3 di dunia setelah Brasilia dan Republik Kongo. Meskipun sekarang hutan kita sangat memprihatinkan. 60 persen hutannya (60 juta hektare) rusak binasa. Perum Perhutani (BUMN)masih relatif tegak sejahtera sebagai pengelola Sumber Daya Hutan dan Èkosistem Indonesia milik pemerintah terbesar yang punya kewajiban menyejahterakan masyarakat melalui usaha kehutanan sambil menjaga kelestarian hutan dengan (melalui PHBM Plus) mengajak rakyat bersama mengelola hutan.
Jati:( Tectona grandis) menjadi tulang punggung kekayaan hutan Indonesia, adalah ikon yang pàntas dijadikan Ikon Utama hutan, kayu terbaik Indonesia dengan kualitas terbaik dan elegan.
Patut dikembangkamendampingi hasil hutan yang sangat penting di sámping (MKP) minyak kayu putih terbaìk di dunia, Cendana, Kayu hitam Sulawasi,
Ulìn Kalimantan, dan Getàh (Copal) pohon Pinus merkusii terbaik yang mampu menggumpalkan tinta Monc Ɓlanc dan berbagai spesies khas Indonesia, seperti kàyu wewangiàn termahal (Gaharu terbaik) yang hàrganya bisa sangat mahal dan banyàk diburu warga Timur Tengah,
tumbuh di hutan-hutan negeri di Borneo, Aceh, Nusa Tenggara, Papua, Sumatera, dan Tarakan, tersebar di mana saja.
Jati Jawa adalah selalu disebut “magic wood” dunia. Sebaran yang tampak dan diketahui cocok sesuai habitatnya di Jawa Tengah, Jawa Timuur, sebagian Jawa Barat, Banten. Juga dimungkinkan Bali, NTB, NTT,
Sumba, Timor Indonesia, Flores, Sulawesi (hampir seluruhnya), mungkin juga Kepulauan Ambon, Maluku, Ternate, Kei
Kekuatannya kayu Jati itu (tercatat no 1 sangat kuat) dan kelembutan/mudàh diolah (no 2) adalah ciri keistimewaannya di dunia. Karena mengandung minyak khusus
yang mampu mengawetkan kayu, tahan air, tahan dipendam ratusan tahun dan tidak pecah, mudah dikerjakan. Cocok untuk kapal besar sebagaimana telah digunakan ratusan tahun untuk Armada Kapal Perang Majapahit dan lainnya.
Harganyapun pasti sangat tinggi. Sebagai contoh, kayu bekas disambar petir tingginya tidak sampài 20 meter bekas disambar petir 2 tahun dan growong sàja di KPH Cepu di daerah Pasar Sore (2006-2007) dibeli orang Rp.1 Milyar bersih hanya sebatang kayu growong.
Belakangàn banyàk peminat lain pesan untuk petì mati warga Tionghoa dengan harga yang fantastis.
Tapi dibalik itu degradasi kualitas jenis pohon hutan tropis Indonesia pàska tebangan HPH nampak negatif merosot sècara signifikan dan berubah murah dominan . Antara lain munculnya jenis pionir non- komersial (Firman Fahada, 2026) yakni mahang atau Macarangga sp. dan jenis rawa-rawa, gamal, yang tumbuh subur dan sangat cepàt. Namun tak bernilai ekonomis, hanya sebagai kayu ringan pembungkus rokok/sabun yang murah.
TetapiTanaman Jati, peninggalan kolonial Belanda 300 tahun lalu di Jawa tetap unggul terpelihara sampai kini meski umurnya banyak yang dikurangi.
Saya harapkan Perum Perhutani bisa membuka diri mengembangkan hutan Jati Jawa di loikasi yang memiliki kasamaan habitat atau relatif identik untuk dikembangksn sebagaimmana Perum Perhutani dan secara khusus memfokuskan mengelola Jati Jawa (Tectona grandis sp.) secara khusus dengan kualitas yang unggul sama, umur sama setara 60-70an tahun, tanpa kecurangan,tanpa korupsi, untuk kesejahteraan serta kebanggaan bangsa dan masyarakat Indonesia.
Diperlukan kesepahaman dalam Tim Ahli Pengembangan Jati serta perhitungan yang tepat.
Diharapkan pengembangan Jati Jawa, bersama para ahli hutan ini baik dari UGM Yogyakàrta maupu IPB Bogor dan lainnya, akan sukses menyejahterakan Indonesia.
SALAM
Dr.Transtoto H








