Akibat El Nino, IMF Peringatkan Ketahanan Pangan Global Memburuk

Waduk Jatigede, Jawa Barat di tengah kekeringan pada 1 Oktober 2026. Foto: Reuters
https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Pola iklim El Nino yang sedang berlangsung saat ini berkontribusi terhadap kenaikan harga pangan dan memperburuk kerawanan pangan global. Penegasan itu disampaikan IMF dalam sebuah pertemuan di Thailand, dan para pakar ekonomi menyerukan skema pembiayaan untuk mendukung negara-negara yang rentan.

Rodrigo Valdes, direktur departemen urusan fiskal Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan, Kamis (16/10) dalam sesi pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia bahwa harga pangan global pada bulan Agustus mencapai titik tertinggi sejak akhir tahun 2022 karena kekeringan terus-menerus yang merusak tanaman di Asia dan Afrika.

Dia mengatakan, harga beras telah naik 50% tahun ini, sementara harga gandum naik 37% dan kedele 21%, seraya menambahkan bahwa El Nino — yang diperkirakan akan berlangsung hingga kuartal pertama tahun depan — memperburuk situasi yang telah terpengaruh oleh tingginya harga pupuk akibat konflik di Timur Tengah.

“Fenomena El Nino yang sedang berlangsung diperkirakan akan semakin menguat, dengan dampak berupa pemanasan cuaca yang cepat, defisit air, dan suhu yang lebih tinggi di Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, serta Asia Tenggara,” kata Valdes dalam sesi panel tentang ketahanan pangan.

Indeks harga pangan yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) — yang melacak harga daging, sereal, produk susu, minyak nabati, dan gula – mencetak angka 136 pada bulan September, naik dari 124,1 pada bulan Januari.

Di seluruh dunia, negara-negara Afrika merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak buruk dari cuaca kering yang berkepanjangan, karena sebagian besar merupakan importir bersih pangan pokok.

Selama sesi tersebut, Menteri Keuangan Somalia, Bihi Iman Egeh mengatakan, El Nino yang parah telah merusak produksi pertanian. Pada saat yang sama, perang di Timur Tengah dan Ukraina secara signifikan mengganggu pasar untuk pangan, energi, pengiriman, dan pupuk.

Baca juga:  Dirut PalmCo: Kolaborasi Kunci Wujudkan Ketahanan Pangan dan Energi

“Dan ini terjadi pada saat banyak negara memiliki cadangan devisa yang melemah, utang yang tinggi, dan biaya bunga yang tinggi, sehingga meningkatkan tekanan fiskal,” kata Egeh.

Untuk mengatasi masalah tersebut, katanya, Somalia menggunakan uang digital untuk menjangkau orang-orang yang kesulitan membeli makanan, dan mengatakan bahwa hampir 90% warga Somalia terhubung ke sistem tersebut. “Kami memanfaatkan bantuan tunai melalui sistem digital, dan itu hemat biaya,” katanya.

Dengan pola cuaca buruk yang semakin parah, PBB telah berupaya mengumpulkan dana untuk mencegah dan mengurangi risiko yang disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem.

Rania al-Mashat, sekretaris eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Barat (ESCWA) mengatakan, pembiayaan iklim dan pembiayaan untuk sistem pangan akan menjadi agenda utama pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) bulan depan di Turki.

Pendanaan iklim merujuk pada pendanaan lokal, nasional, atau transnasional — yang bersumber dari saluran publik, swasta, dan alternatif — yang mendukung tindakan untuk mengatasi perubahan iklim dan mengurangi risikonya.

“Ini adalah sesuatu yang perlu terus kita perjuangkan, dan krisis iklim saat ini menciptakan alasan yang sangat kuat bahwa kita membutuhkan lebih banyak pendanaan,” kata al-Mashat.

Dia menambahkan, model Somalia, yang memberikan bantuan melalui infrastruktur digital untuk menjangkau kelompok sasaran, merupakan model menarik yang dapat diterapkan ESCWA untuk mendistribusikan dana bantuan melalui saluran digital.

ESCWA telah berupaya untuk memulai pembiayaan inovatif yang dapat meringankan tekanan fiskal, kata al-Mashat, khususnya di beberapa negara di mana pemerintah memiliki anggaran terbatas untuk membantu mensubsidi pangan ketika negara-negara tersebut dilanda perubahan iklim ekstrem yang mengurangi produksi pangan.

“Kami sedang berupaya menciptakan instrumen pembiayaan yang dapat meringankan tekanan pada anggaran negara. Mudah-mudahan, kami dapat meluncurkannya pada kuartal pertama tahun 2027,” katanya, seperti dikutip Asia.Nikkei. AI

Baca juga:  Teknologi Rawa Kunci Sukses Program SERASI