Akibat PMK dan LSD, Populasi Sapi Indonesia Anjlok?

Harga daging sapi terus merangkak naik. Di Lampung, sapi potong jantan kini diperdagangkan di angka Rp50.750/kg, atau sekitar 4,62 dolar Australia (AUD). Harga di Jawa tetap lebih mahal, mencapai Rp52.000/kg, yang mencerminkan harga premi khas pasar sentral dengan permintaan lebih kuat.

Harga ritel menunjukkan pola yang sama. Daging sapi di pasar tradisional stabil di harga Rp135.000/kg (11,82 AUD), sementara harga di supermarket seperti has luar bergerak naik ke Rp179.500/kg. Sementara itu, harga ayam masih tetap jauh lebih murah di kisaran Rp36.900/kg. Hal ini menjelaskan mengapa unggas masih menjadi protein utama bagi sebagian besar rumah tangga di Indonesia.

Ada banyak alasan untuk memperkirakan tekanan kenaikan harga daging sapi ini akan terus berlanjut, kata Michael Patcing dalam laporannya di beefcentral. Harga sapi Australia sedang panas, dan pasar Indonesia harus menyesuaikan diri. Jika pembeli ingin mengamankan pasokan, terutama untuk kebutuhan pasar tradisional, mereka harus mengikuti kenaikan biaya impor. Tekanan harga itu kini mulai terlihat di seluruh rantai pasok.

Populasi Sapi

Patching mengaku sudah lama mengikuti perkembangan populasi sapi Indonesia. “Meskipun saya selalu menyikapi angka utama dengan hati-hati, tren tahun ini sulit diabaikan,” katanya.

Menurut Kementerian Pertanian, kata Patching, populasi sapi nasional turun menjadi 11,75 juta ekor pada 2024, dari 17,6 juta hanya dua tahun sebelumnya. Bahkan, dengan mempertimbangkan catatan soal akurasi data, ini menunjukkan terjadi penurunan sekitar 6 juta ekor, atau sepertiga dari total populasi.

“Kita semua tahu menghitung sapi di 17.000 pulau adalah tantangan besar, dan saya tidak terlalu mengandalkan angka absolutnya. Namun, metodenya tidak banyak berubah selama bertahun-tahun, jadi ketika kita melihat perubahan sebesar ini, itu menandakan sesuatu yang nyata terjadi.”

“Dalam kasus ini, saya yakin LSD (lumpy skin disease) dan PMK (penyakit mulut dan kuku) telah menghantam populasi sapi, bukan hanya melalui kematian langsung, tetapi juga lewat penjualan darurat, pembatasan pergerakan, dan peternak yang enggan melakukan penggantian populasi,” paparnya.

Menurutnya, kondisi tersebut memberi implikasi besar buat eksportir sapi Australia.

Indonesia, katanya, tidak punya industri ekspor daging sapi. Semua sapi lokal masuk ke konsumsi domestik, sebagian besar dalam bentuk daging segar yang dijual di pasar tradisional. Di pasar ini pula sapi hidup asal Australia juga berakhir.

“Jadi, jika angka populasi ini mendekati kenyataan, maka ini makin menegaskan betapa pentingnya peran ekspor sapi hidup Australia dalam pasokan daging sapi Indonesia. Saya tidak berharap Jakarta menyatakannya secara terbuka, tetapi angka-angkanya sudah berbicara sendiri.” AI