ASMC: Kekeringan Asia Tenggara Tingkatkan Risiko Karhutla

Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat, menyusul kekeringan dan El Nino yang menguat. Foto: Antara
https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan mengalami kondisi yang lebih kering dan lebih panas dari biasanya mulai bulan Agustus ini hingga Oktober, seiring menguatnya fenomena El Niño yang akan meningkatkan ancaman kebakaran hutan tak terkendali serta kerusakan tanaman.

Sebagian wilayah Asia Tenggara, termasuk sebagian besar wilayah Indonesia, memiliki peluang tinggi menerima curah hujan di bawah normal, demikian menurut analisis beberapa model iklim yang dilakukan oleh Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC). Suhu juga diperkirakan akan berada di atas rata-rata untuk wilayah tersebut selama periode tersebut, kata pusat meteorologi regional di bawah ASEAN yang memantau cuaca, iklim dan kebakaran hutan dan lahan untuk mendeteksi dini kabut asap lintas batas.

“Kondisi El Niño cenderung menyebabkan peningkatan kemungkinan curah hujan di bawah normal untuk sebagian besar wilayah ASEAN selatan selama Agustus-Oktober,” kata pusat tersebut dalam prakiraan musiman terbarunya pada Selasa (4/8/2026), seperti  dikutip Bloomberg. Selain itu, risiko kebakaran dan kabut asap lintas batas juga dapat meningkat.

Para petani padi di wilayah ini juga sudah bergulat dengan musim kemarau yang terjadi di tengah tingginya harga bahan bakar dan pupuk yang dipicu oleh perang di Iran, di mana harga di Thailand baru-baru ini mencapai level tertinggi dalam 18 bulan. Periode panas dan kekeringan yang berkepanjangan mengancam akan memperburuk situasi, berpotensi mengurangi hasil panen dan mendorong harga naik lebih tinggi lagi.

Fenomena iklim El Niño yang mengacaukan cuaca diperkirakan akan terus meningkat intensitasnya dalam beberapa bulan mendatang, dan kemungkinan akan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun, demikian menurut para pakar prakiraan cuaca AS. Meskipun tidak ada dua El Niño yang sama, peristiwa yang lebih kuat meningkatkan kemungkinan dampak yang parah, seperti kekeringan berkepanjangan di Asia Tenggara.

Indonesia sendiri, menurut BMKG, telah meningkatkan operasi penyemaian awan, termasuk di wilayah Kalimantan yang merupakan penghasil kelapa sawit utama, untuk mengisi kembali waduk dan mencegah kebakaran.

Prakiraan terbaru ini muncul di tengah kebakaran hutan yang melanda Eropa dan Amerika Utara. Gelombang panas berturut-turut dan kekeringan yang semakin parah telah mengubah lanskap menjadi lahan yang mudah terbakar, memaksa ratusan ribu penduduk untuk mengungsi dari sebagian Eropa dan wilayah barat laut AS. AI