China Kuasai dan Kendalikan Persaingan Logam Tanah Jarang

Para pekerja di lokasi tambang tanah jarang di Nancheng, Provinsi Jiangxi, China. Foto: Financial Times

Upaya Barat untuk menciptakan rantai pasok tandingan guna mematahkan dominasi Beijing akan menghadapi tantangan besar dari segi biaya dan skala.

Baru-baru ini, pimpinan salah satu perusahaan tambang logam tanah jarang (rare earths) terbesar di China menyombongkan dominasi negaranya dalam industri mineral kritis tersebut. Kepada para investor dia mengatakan, upaya Barat untuk melemahkan cengkeraman Beijing ditakdirkan untuk gagal.

“Kemajuan teknologi kami akan mengukuhkan kekuatan China dalam menentukan harga logam tanah jarang. Pasar internasional akan tetap bergantung pada rantai pasok logam tanah jarang China untuk masa mendatang,” tegas Xigang Zhang, kepala dari Rising Nonferrous Metals Share Co — anak perusahaan dari salah satu raksasa logam tanah jarang milik negara China.

Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang kini berlomba-lomba mengembangkan rantai pasok mineral dan magnet yang terpisah dari China. Mineral dan magnet ini sangat penting bagi beragam teknologi, mulai dari telepon pintar, kendaraan listrik, hingga jet tempur. Saat ini, industri Barat hampir sepenuhnya bergantung pada China untuk pasokan logam tanah jarang.

Namun, para analis dan pelaku industri secara luas sepakat dengan penilaian Zhang.  Mematahkan cengkeraman China akan jadi tantangan besar. Beijing telah memantapkan posisinya sebagai produsen dengan biaya terendah di setiap tahapan rantai nilai logam tanah jarang. Semua itu berkat perencanaan negara dan akuisisi strategis selama puluhan tahun.

Cengkeraman China terhadap logam tanah jarang telah mempengaruhi negosiasi perdagangan global. China telah menggunakan kendali ekspor untuk memaksa konsesi dari Washington. Sementara itu, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen malah teriak-teriak dan menuduh Beijing melakukan “pola dominasi, ketergantungan, dan pemerasan” untuk menjatuhkan pesaing-pesaing industri.

Meski pejabat AS dan Eropa mengeluh terjadinya kelangkaan, namun aliran logam tanah jarang sudah kembali normal. Namun, data perdagangan dan survei menunjukkan bahwa Beijing secara ketat mengelola ekspor untuk mencegah penimbunan di luar negeri.

Menjaga Harga

Meskipun memiliki kendali penuh atas logam tanah jarang — di mana 70% penambangan, 90% pemisahan dan pemrosesan, serta 93% manufaktur magnet — namun Beijing secara umum juga menjaga harga tetap cukup rendah untuk mencegah munculnya pesaing baru. Hal ini memberikan pelajaran bagi berbagai rantai pasok strategis lainnya dan menggarisbawahi betapa sulitnya bagi Barat untuk bersaing.

“Mereka tidak serta-merta mengekang produksi untuk menaikkan harga. Sebaliknya, mereka menggunakan dominasi pasar ini untuk mempertahankan daya tawar dan kemudian menjadikan sumberdaya ini sebagai senjata,” ujar Gracelin Baskaran, pakar mineral kritis di Center for Strategic and International Studies.

“Ini bukan hanya tentang logam tanah jarang — ini adalah cerita yang terulang di berbagai komoditas,” ujarnya sepeti dikutip The Financial Times.”

Berkat Deng Xiaoping

“Timur Tengah memiliki minyak, China memiliki logam tanah jarang.”

Dominasi China dalam industri ini telah digagas puluhan tahun lalu, ketika pemimpin China saat itu, Deng Xiaoping, memuji kekayaan mineral negaranya dengan mengatakan, “Timur Tengah memiliki minyak, China memiliki logam tanah jarang.”

Penambangan meledak pada tahun 1990-an, sebagian berkat peraturan lingkungan yang longgar yang memungkinkan ekspansi tanpa batas. Ribuan penambang ilegal di Mongolia Dalam di utara mengekstraksi unsur ringan, sementara di selatan, operator kecil menggunakan peluruhan kimiawi dan kolam terbuka untuk mengisolasi unsur yang lebih berat dari endapan tanah liat yang kaya.

Ketika para pesaingnya tutup, China mengalihkan fokusnya untuk meningkatkan rantai nilai dengan memproduksi magnet logam tanah jarang.

Dua perusahaan yang didukung negara, China Nonferrous Metals Industry Corp dan Beijing San Huan New Materials — yang saat itu dijalankan oleh menantu Deng Xiaoping — bergabung dengan investor AS pada tahun 1995 untuk membeli divisi magnet milik GM, Magnequench, dan pabriknya di Indiana.

Magnequench kemudian mengakuisisi divisi logam tanah jarang dari produsen magnet Prancis, Ugimag, yang juga memiliki pabrik di Indiana. Pada tahun 2004, lini produksi AS dari kedua fasilitas tersebut telah ditutup, pekerja Amerika di-PHK, dan mesin-mesinnya dikirim ke pabrik di kota Tianjin dan Ningbo di China.

Beijing juga menggunakan kebijakan pajak dan kuota ekspor untuk mempersulit produsen magnet asing bersaing dengan produsen China.

“Ada masanya, jika Anda memasok pelanggan otomotif, mereka akan pergi ke China, mendapatkan penawaran harga, dan Anda harus menyamai harga itu, dan itu benar-benar tidak mungkin,” kata John Ormerod, seorang ahli industri magnet.

Pada tahun 2010, dua produsen magnet AS yang tersisa telah tutup karena tak sanggup bersaing dengan produsen China.

Terguncang oleh embargo tidak resmi logam tanah jarang China terhadap Jepang pada tahun yang sama, industri Jepang mulai membangun stok. Mereka juga melakukan upaya ekstensif untuk mendaur ulang logam tanah jarang dari produk bekas seperti magnet yang ditemukan di mobil hibrida Toyota Prius.

Kendali Negara

Sementara itu, otoritas China perlahan-lahan membawa industri ini di bawah kendali negara, menutup atau mengkonsolidasikan ribuan tambang menjadi dua perusahaan milik negara yang besar, China Northern Rare Earth (Group) High-Tech Co. dan China Rare Earth Group, perusahaan induk dari Rising Nonferrous Metals Share Co. milik Zhang.

Ketika para penambang pesaing di AS dan Australia mulai beroperasi, Beijing menaikkan kuota produksi, menekan harga meskipun permintaan dari industri kendaraan listrik yang sedang booming meningkat, dan membatasi keuntungan bagi kelompok penambangan Barat maupun China.

“Mereka telah menekan harga,” kata Baskaran. “Alasan terbesar mengapa kita tidak memiliki sumber alternatif logam tanah jarang di luar sana adalah karena secara komersial tidak menguntungkan.”

Namun, kelompok-kelompok logam tanah jarang yang didukung negara China terus berinvestasi, meskipun keuntungannya rendah. Mereka sekarang mendapatkan keuntungan dari skala yang sangat besar dan keunggulan teknologi dalam tahapan seperti pemrosesan logam tanah jarang — yang dilarang pemerintah Beijing untuk dibagikan ke luar negeri.

“Tidak mungkin menyamai tingkat harga China,” kata Ormerod. “Pembeli magnet harus menerima bahwa akan ada premi di atas harga pasar China.”

Pada bulan Juni, negara-negara G7 mengumumkan niat mereka untuk menjajaki mekanisme penetapan standar, yang menurut para analis suatu hari nanti dapat digunakan untuk membatasi magnet logam tanah jarang China yang sangat murah.

Washington mengambil langkah lebih jauh pada bulan Juli, dengan menjamin harga dasar untuk MP Materials yang berkantor pusat di Las Vegas. Pemerintah berjanji untuk membeli neodymium-praseodymium sekitar dua kali lipat harga pasar. Mereka juga berkomitmen untuk membeli semua magnet dari fasilitas AS di masa depan.

Namun, Gareth Hatch, pendiri perusahaan Technology Materials Research, meragukan permintaan untuk magnet non-China yang harganya lebih tinggi, selain di sektor pertahanan.

“Slogan sebagian besar perusahaan Barat selalu: ‘biaya terendah dengan cara apa pun’,” katanya. “Mengapa Anda harus membeli dari produsen dengan biaya lebih tinggi jika tersedia alternatif dengan biaya lebih rendah?” AI