Exxon Mobil Corp. memperkirakan target net zero untuk sektor energi global kemungkinan besar bakal meleset dari target tahun 2050. Hal ini disebabkan oleh konsumen yang menolak biaya tinggi dan bangkitnya kembali permintaan batubara, sang bahan bakar fosil paling berpolusi.
Dalam laporan Global Energy Outlook yang diterbitkan Kamis (27/8), Exxon menyatakan bahwa emisi global hanya akan turun seperempat saja pada tahun 2050. Angka ini jauh dari target yang ditetapkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang membutuhkan penurunan lebih dari dua-pertiga.
Proyeksi emisi untuk pertengahan abad ini hampir 4% lebih tinggi dari perkiraan tahun lalu. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya penggunaan batubara sebagai cadangan daya untuk mengatasi fluktuasi pasokan dari pembangkit listrik tenaga angin dan surya, serta melambatnya penjualan kendaraan listrik di AS dan Eropa yang turut menopang permintaan minyak.
“Jika dunia terlalu memaksakan penggunaan sumber energi yang lebih mahal, akan ada reaksi dari konsumen,” ujar Chris Birdsall, Direktur Perencanaan Ekonomi, Energi, dan Strategi Exxon, dalam jumpa pers seperti dikutip Bloomberg. “Dalam masyarakat demokratis yang menggelar pemilu, hasil pemilu jelas punya konsekuensi. Kita bisa melihat perubahan politik yang pada akhirnya memperlambat kemajuan.”
Perusahaan minyak terbesar di Amerika ini telah berulang kali menyatakan bahwa mereka melihat masa depan yang panjang untuk bahan bakar fosil dan bahwa dunia tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai net zero pada tahun 2050. Dalam beberapa bulan terakhir, Exxon semakin vokal menentang kebijakan dekarbonisasi yang mereka klaim menaikkan biaya pasokan energi, terutama di Eropa.
Sementara itu, para aktivis mengkritik proyeksi Exxon karena dianggap terlalu pesimistis. Mereka berpendapat bahwa skenario yang menunjukkan penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi di masa depan dapat memperlambat aksi iklim — membuat dunia harus menghadapi kenaikan suhu yang jauh lebih dramatis dan dampaknya, seperti gelombang panas dan kebakaran hutan yang lebih hebat, curah hujan yang lebih intens, serta kenaikan permukaan air laut.
Exxon memperkirakan permintaan minyak kemungkinan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2030, kemudian stabil, dan tetap di atas 100 juta barel per hari (bph) hingga tahun 2050. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan permintaan minyak akan mencapai 104,4 juta bph pada tahun 2026, dengan pertumbuhan yang melambat dari tingkat historisnya.
Perubahan terbesar dari Energy Outlook tahun lalu adalah konsumsi batubara, yang menurut IEA naik ke rekor 8,8 miliar ton pada tahun 2024. Meskipun banyak negara berkomitmen untuk menghentikan penggunaan batubara secara bertahap, Exxon melihat bahan bakar fosil yang paling berpolusi ini akan tetap menyumbang 14% dari bauran energi global pada tahun 2050. Sebagian alasannya adalah kemampuannya untuk menyediakan listrik saat angin tidak bertiup dan matahari tidak bersinar.
“Kita melihat dunia menggunakan lebih banyak batubara untuk pembangkit listrik, dan ini adalah cerita tentang menurunnya efisiensi pembangkit listrik karena PLTU-PLTU batubara harus berputar untuk menyeimbangkan energi terbarukan,” kata Birdsall.
Exxon juga merevisi naik perkiraan permintaan gas alam, yang mereka perkirakan akan meningkat lebih dari 20% pada pertengahan abad ini karena naiknya penggunaan listrik global. AI


















