
Singapura siap-siap menghadapi ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan, Singapore Institute of International Affairs (SIIA) telah menaikkan peringkat risiko terjadinya kabut asap parah ke tingkat tinggi — tingkat tertinggi dari tiga kategori — untuk pertama kalinya sejak 2023.
Mereka mengingatkan bahwa Agustus dan September bisa menjadi bulan-bulan berbahaya bagi Singapura, Indonesia, Malaysia, dan Brunei.
Asia Tenggara mengalami kabut asap hampir setiap tahun, yang biasanya disebabkan oleh kebakaran yang diduga dilakukan oleh perusahaan dan petani kecil yang melakukan pembukaan dan membersihkan lahan dengan cara membakar untuk perkebunan kelapa sawit. Tahun ini, para ahli khawatir bahwa cuaca yang lebih panas dan kering yang terkait dengan El Niño super dapat memungkinkan kebakaran tersebut menyebar lebih mudah dan mengirimkan asap melintasi perbatasan.
“Ada risiko nyata terjadinya kabut asap parah,” kata ketua SIIA Simon Tay kepada wartawan. “Penyebab utamanya adalah cuaca,” tulis Bloomberg.
El Niño super jelas dapat memperburuk masalah yang sudah ada.
Pada tahun 2015, El Niño yang kuat turut memicu salah satu krisis kabut asap terburuk, yang menimbulkan kerugian sekitar 16 miliar dolar AS di Indonesia dan memicu ketegangan diplomatik antara pemerintah negara-negara tetangga.
Mungkinkah tahun ini akan terulang? Masih terlalu dini memang, tetapi kawasan Pasifik sudah menunjukkan beberapa tanda peringatan.

Suhu permukaan laut di bagian Pasifik khatulistiwa yang dipantau secara ketat berada pada 29,40C, atau 1,70C di atas rata-rata 30 tahun, demikian data terbaru dari US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Angka tersebut berpotensi menjadi anomali Juni terbesar sejak tahun 1981.
Perairan yang luar biasa hangat itu menciptakan kondisi yang berpotensi menjadi El Niño yang kuat, atau bahkan “super”. Meskipun peristiwa yang lebih kuat tidak secara otomatis berarti cuaca yang lebih buruk, namun hal itu meningkatkan kemungkinan kondisi yang lebih panas dan kering di seluruh Asia Tenggara.
Itu sebabnya SIIA pun menyuarakan peringatan. El Niño kemungkinan akan meningkatkan suhu, menekan curah hujan, dan meningkatkan risiko kebakaran lahan yang menyebar di seluruh wilayah. Jika Indian Ocean Dipole — pola iklim lain yang memengaruhi cuaca — juga bergeser ke fase yang lebih kering, panas dan kekeringan bisa menjadi lebih intens.
Perubahan iklim dapat menambah lapisan risiko lain. Meskipun tidak menyebabkan El Niño, dunia yang lebih hangat dapat menambah intensif suhu ekstrem dan mengeringkan lanskap lebih cepat, sehingga meningkatkan risiko kebakaran yang sulit dikendalikan.
Bagi Singapura, itu berarti risikonya lebih dari sekadar langit berkabut. Cuaca yang lebih panas dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, seperti serangan jantung dan stroke, terutama di kalangan orang lanjut usia. “Kemungkinan besar Anda secara fisiologis memiliki kecenderungan terhadap komorbiditas tingkat tinggi,” kata Prof. Winston Chow, guru besar iklim perkotaan di Singapore Management University.
Bagi Tay, prospeknya cukup mengkhawatirkan, sehingga dia harus mulai mempersiapkan diri sejak sekarang juga.
“El Niño telah tiba dan El Niño yang parah kemungkinan besar akan terjadi,” kata Tay. “Jika perubahan cuaca menguntungkan kita, itu bagus, tetapi saya pikir kita harus bersiap untuk skenario terburuk.” AI






