Lanskap Antropogenik Meluas, Taman Kehati Jadi Salah Satu Solusi

Taman Kehati di Indramayu/dok. KLHK
Hendra Gunawan

Keanekaragaman hayati Indonesia semakin terancam seiring dengan intervensi aktivitas manusia di lanskap-lanskap alami. Lanskap alami, terutama hutan dan vegetasi alami lainnya semakin menyusut luasnya, terdegradasi dan terfragmentasi.

Contoh aktivitas manusia yang mengganggu lanskap alami, antara lain: Mengkonversi hutan untuk permukiman, pertanian, perkebunan; Perambahan/perladangan di kawasan hutan; Pertambangan terbuka, seperti batubara; Perubahan peruntukan kawasan hutan; dan penggunaan kawasan hutan untuk non kehutanan, seperti untuk pembangunan jalan yang memfragmentasi hutan. Akhirnya terciptalah lanskap antropogenik, dengan keanekaragaman biodiversitas rendah, kualitas lingkungan yang menurun dan rentan terhadap bencana (seperti banjir, longsor, kekeringan, abrasi pantau, intrusi air laut, pencemaran, dll.)

Apa Lanskap Antropogenik?

Lanskap antropogenik adalah areal darat di Bumi di mana terjadi perubahan nyata yang diakibatkan oleh kegiatan manusia terhadap pola ekologi dan proses di dalamnya, dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia terhadap pangan, hunian dan kebutuhan lain (Ellis et al. 2006).

Contoh lanskap antropogenik antara lain: Hunian perkotaan; Perkotaan, non-hunian; Hunian suburbia; Perdesaan yang telah berkembang; Perdesaan agraris; Perdesaan-peternakan; Pertanian dengan industri intensif; Perkebunan; Peladangan berpindah; Peternakan ekstensif; dan Non permukiman dengan gangguan intensif.

Apa dampak yang mengintai di lanskap antropogenik?

Aktivitas manusia mengubah lanskap alami, jika tidak dilakukan dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik maka dapat menimbulkan Kerusakan lingkungan seperti masalah air bersih, kekeringan, banjir, longsor, kesuburan tanah, intrusi air laut, abrasi; Pencemaran air, udara, tanah; Ruang terbuka hijau menghilang/menyempit; Hilangnya habitat bagi beraneka satwa; Hilangnya/menurunnya populasi biota air, satwa darat; Hilangnya/menurunnya spesies pohon lokal; menurunnya Estetika (keindahan) dan Amenity (kenyamanan)

Perlunya Mengembalikan Ruang Hijau dan Melestarikan Biodiversitas di Lanskap Antropogenik

Kita sebagai mahluk tertinggi memiliki tanggungjawab moral untuk menjaga dan melindungi bumi tempat kita hidup. Ini adalah alasan etik atau alasan moral, yang dalam etika lingkungan juga dikenal paham ekosentrisme, dimana kita memandang dan memperlakukan semua ciptaan Tuhan dengan respek, baik biotik maupun abiotik. Menjaga, melindungi, melestarikan dan mengelola lingkungan dengan baik juga bagian dari peningkatan indeks kualitas lingkungan, yaitu Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL). Lingkungan yang berkualitas akan mendukung kehidupan yang bekualitas pula.

Mengembalikan Ruang Hijau dan Melestarikan Biodiversitas di Lanskap Antropogenik merupakan upaya meningkatkan (Kembali) kualitas lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerinitah dalam pencapaian tujuan global pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama tujuan 11.7. yaitu pada tahun 2030, menyediakan ruang publik dan ruang terbuka hijau yang aman, inklusif dan mudah dijangkau terutama untuk perempuan dan anak, manula dan penyandang difabilitas.

Juga tujuan 15.1 Pada tahun 2030, menjamin pelestarian, restorasi dan pemanfaatan berkelanjutan dari ekosistem daratan dan perairan darat serta jasa lingkungannya, khususnya ekosistem hutan, lahan basah, pegunungan dan lahan kering, sejalan dengan kewajiban berdasarkan perjanjian internasional. Serta tujuan 15.5 Melakukan tindakan cepat dan signifikan untuk mengurangi degradasi habitat alami, menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati, dan, pada tahun 2020, melindungi dan mencegah lenyapnya spesies yang terancam punah.

TAMAN KEHATI: Mengambalikan Keanekaragaman Hayati di Lanskap Perkotaan

Banyak bentuk ruang terbuka hijau dapat dibuat di lanskap antropogenik perkotaan, antara lain: Taman Kehati; Arboretum; Kebun Raya; Hutan Kota; dan Kawasan Perlindungan Setempat seperti jalur hijau sempadan pantai, sungai dan danau. Taman kehati adalah ruang terbuka hijau yang dapat memberikan multi fungsi dan beragam manfaat seperti:

  1. Koleksi tumbuhan, khususnya tumbuhan lokal dan langka
  2. Tempat pengembangbiakan tumbuhan dan satwa yang mendukung kelestarian ekosistem dan bermanfaat bagi manusia
  3. Penyedia bibit berbagai tanaman yang sudah mulai langka
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal yang saat ini sulit dijumpai dan terancam punah
  5. Sarana pendidikan bagi generasi muda untuk menanamkan rasa cinta alam dan tanah air
  6. Wahana penelitian dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan baru.
  7. Tujuan ekowisata untuk kampanye konservasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.
  8. Sumber bibit dan benih unggul bagi pengembangan budidaya pertanian di sekitarnya.
  9. Ruang terbuka hijau yang dapat memperbaiki iklim mikro di sekitarnya sehingga memberikan keteduhan, kesejukan, keasrian, keindaha, kesehatan dan kenyamanan bagi masyarakat sekitar.
  10. Menambah tutupan vegetasi yang berperan perbaikan sistem hidrologi, menambah daerah tangkapan air atau reservoir, mencegah erosi dan tanah longsor serta memberikan habitat berbagai jenis satwa.

Multi fungsi dan manfaat dari taman kehati, dimungkinkan karena konsep dan prinsip pembangunan dan pengelolaan taman kehati adalah

(1) Mengkonservasi spesies asli dan ekosistemnya sekaligus.

(2) Menciptakan replika ekosistem hutan atau melestarikan ekosistem hutan yang tersisa

(3) Menjaga dan meningkatkan keanekaragaman spesies

(4) Menjamin berlangsungnya proses-proses ekologis berjalan alami (siklus air, siklus hara, dekomposisi, rantai makanan, dll)

(5) Memberikan impact positif bagi perbaikan lingkungan (iklim mikro, kesuburan tanah, penciptaan habitat, meningkatnya populasi satwa, keseimbangan hidrologi, meningkatnya kualitas air)

(6) Pemanfaatan berkelanjutan: untuk edukasi, riset, dan wisata

(7) Melibatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat

Dukungan Riset Dan Periset

Membangun Taman Kehati dengan konsep dan prinsip tersebut, diperlukan dukungan riset dan periset. Pertama adalah tersedianya Manual, Pedoman, atau Best Practices yang dapat menjadi panduan praktis pembangunan taman kehati.

Kedua, dalam konteks mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati, Periset menjadi sumber utama segala informasi valid yang disosialisasikan kepada masyarakat umum. Oleh karena itu Periset dapat ikut aktif dalam Sosialisasi pentingnya dan manfaat Membangun Taman Kehati bagi Daerah, Perusahaan atau Kampus; Memberikan konsultasi, motivasi dan advokasi; serta Ikut membuat rencana, desain dan pendampingan.

Dalam hal, Taman Kehati dibangun oleh korporasi sebagai bentuk penaatan lingkungan (compliance) untuk mencapai peringkat PROPER Hijau, periset dapat membantu menyiapkan dokumen taman kehati (baseline, rendana aksi, data base, dan biodiversity monitoring), serta melakukan riset di taman kehati yang hasilnya dipublikasikan di jurnal ilmiah. kegiatan riset dan publikasinya juga termasuk dalam kriteria penilaian PROPER.

Karena begitu banyak manfaat yang didapat dari Taman Kehati, maka sangat direkomendasikan agar pembuatan ruang terbuka hijau perlu diperbanyak dan dalam bentuk Taman Kehati.

***

Oleh: Hendra Gunawan (Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Email: hendragunawan1964@yahoo.com)