Cicipi Mi Singkong-Tempe, Menperin Sarmuji: Strateginya Bukan Sekadar Jual Komoditas

https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Mi berbahan sagu, mi dari kombinasi singkong dan tempe, hingga kolagen dari kulit, sisik, dan tulang ikan menjadi sorotan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam Pameran Krista Interfood 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Rabu (4/11/2026). Menurut Sarmuji, inovasi semacam ini menunjukkan komoditas lokal berpotensi besar diolah menjadi produk pangan modern yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen.

“Tadi saya melihat mi dari sagu dengan kemasan yang sudah sangat baik dan produknya tidak kalah dengan mi biasa. Saya juga mencoba mi berbahan baku singkong dan tempe yang dikombinasikan sehingga memiliki kandungan protein dan serat lebih tinggi serta bebas gluten,” ungkap Sarmuji pada Pembukaan Pameran Krista Interfood dan Penganugerahan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026.

Sarmuji menegaskan, pengembangan industri berbasis sumber daya alam tidak cukup hanya mengandalkan penjualan komoditas mentah. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat keunggulan khas yang sulit ditiru negara lain, dengan potensi besar dari kelapa sawit, kelapa, rumput laut, sagu, serta berbagai komoditas alam lainnya.

“Strateginya bukan sekadar menjual komoditas, tetapi memperdalam hilirisasi serta memperkuat riset dan inovasi. Dengan demikian, keunggulan komparatif yang kita miliki dapat ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan,” tegasnya.

Surplus Hampir USD 25 Miliar

Sarmuji menyebut industri mamin sebagai salah satu penopang utama industri pengolahan nonmigas. Pada semester I 2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen, naik 0,68 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Realisasi investasinya mencapai Rp47,74 triliun, 59 persen di antaranya dari penanaman modal dalam negeri.

Pada Januari–Agustus 2026, ekspor industri mamin mencapai USD34,65 miliar, sedangkan impornya USD9,7 miliar, sehingga membukukan surplus hampir USD25 miliar. Sektor ini juga menyerap sekitar 6,9 juta tenaga kerja.

Baca juga:  Pelaku Industri Apresiasi Keberhasilan Prabowo dalam Negosiasi Tarif Impor ke AS

“Capaian tersebut perlu terus kita tingkatkan melalui penguatan produktivitas, inovasi, pemanfaatan bahan baku lokal, peningkatan nilai tambah, serta perluasan akses pasar. Utilisasi industri makanan dan minuman juga harus terus dipacu agar kapasitas produksi yang tersedia dapat dimanfaatkan lebih optimal,” kata Sarmuji.

Kinerja tersebut sejalan dengan penguatan manufaktur nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0, lebih tinggi dibandingkan PMI manufaktur Jepang (53,3), Vietnam (52,3), Tiongkok (52,0), Korea Selatan (51,3), Malaysia (51,0), dan Australia (49,6). Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 juga menguat ke level 53,77.

“Ini merupakan modal yang sangat baik. Kita harus memanfaatkan momentum ekspansi ini untuk bekerja lebih cepat dan lebih kuat. Kementerian Perindustrian siap bukan hanya menjadi fasilitator dan regulator, tetapi juga menjadi akselerator bagi pertumbuhan sektor industri yang lebih tinggi,” ujar Sarmuji.

Dari Limbah Jadi Bernilai

Sarmuji juga menekankan pentingnya memperkuat industri produk antara (intermediate product), yakni bahan olahan yang dipasok ke industri lain.

“Produk antara memungkinkan pelaku usaha pangan mengambil peran lebih luas dalam rantai nilai, tidak hanya menjual produk akhir kepada konsumen, tetapi juga memasok kebutuhan bagi usaha dan industri lain,” jelasnya.

Ia menyoroti inovasi pengolahan alga menjadi ekstrak untuk bahan pangan fungsional, serta pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan menjadi bahan baku kolagen.

“Inovasi-inovasi seperti ini akan terus kita dorong. Bahan baku yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan menjadi limbah, ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Sarmuji, pemanfaatan hasil samping produksi ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan membuka peluang usaha baru bagi pelaku IKM. Di luar pangan, ia juga mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia sebagai bahan baku industri farmasi untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku obat.

Baca juga:  Menperin Tantang Industri Kembangkan Keju Khas Indonesia dan Es Krim

Sarmuji turut memandang pangan sebagai sarana diplomasi lunak. Ia mendorong kolaborasi pelaku industri pangan dengan diaspora Indonesia di berbagai negara untuk memperkenalkan produk dan kuliner Nusantara di pasar global.

“Makanan sekarang bukan hanya kebutuhan primer, tetapi juga sudah menjadi simbol suatu negara, bahkan dapat menjadi sarana diplomasi lunak atau soft diplomacy. Kita memiliki keanekaragaman kuliner yang luar biasa dan masih banyak yang belum diperkenalkan kepada masyarakat internasional,” ungkapnya.

IFI Fokus Produk Antara

Untuk mendorong inovasi IKM pangan, Kemenperin menjalankan program Indonesia Food Innovation (IFI), akselerator bisnis bagi IKM pangan agar menghasilkan produk yang marketable, profitable, dan sustainable. Pada penyelenggaraan keenam tahun ini, IFI mengusung fokus Intermediate Product Edition dan melibatkan 30 IKM pangan terpilih dari 1.139 pendaftar untuk mengikuti pembinaan melalui Food Camp. IFI 2026 juga untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan Krista Interfood untuk memperluas promosi produk dan mempertemukan IKM dengan mitra bisnis potensial.

Selain IFI, Kemenperin mengembangkan program One Village One Product (OVOP) untuk mendorong produk unggulan daerah, dengan fokus pada lima kelompok komoditas: makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, dan gerabah.

“Kita harus terus memperkuat kolaborasi dan inovasi dengan memanfaatkan potensi sumber daya Indonesia. Harapannya, produk pangan nasional semakin maju, memiliki nilai tambah tinggi, serta mampu bersaing di pasar internasional,” pungkas Sarmuji.Buyung N