Tujuh tahun lalu, Melony Sellars memperkenalkan teknologi baru yang mengubah secara fundamental bagaimana cara mengelola tambak-tambak udang.
Awalnya, teknologi yang ditawarkan mendapat sambutan skeptis. Kini, teknologinya sudah digunakan di 54 negara, yang memberikan deteksi dini adanya penyakit bagi tambak-tambak udang di seluruh dunia, dengan jangkauan yang sangat luas di kawasan Asia Tenggara.
Genics, yang didirikan Melony pada 2018, adalah perusahaan teknologi pertanian bermarkas di Brisbane yang berakar dari Commonwealth Scientific Industrial Research Organization (CSIRO) — lembaga ilmu pengetahuan nasional Australia. Produk unggulannya, Shrimp Multipath, mampu mendeteksi 18 patogen udang yang umum hanya dengan satu kali pengujian — berminggu-minggu sebelum hewan tersebut menunjukkan tanda-tanda sakit. Para petambak di seluruh dunia mengumpulkan dan mengirimkan sampel jaringan udang ke laboratorium Genics di Brisbane untuk diuji, dengan waktu penyelesaian tipikal 48 jam dan tidak lebih dari lima hari.
Melony mengembangkan teknologi ini setelah menyadari adanya “celah besar” di pasar. Alat pengujian konvensional yang ada umumnya mahal, kurang sensitif, gagal mendeteksi virus cukup cepat untuk mencegah penyebaran infeksi, dan “paling banter hanya bisa mendeteksi empat patogen dalam satu PCR,” ujarnya kepada Nikkei Asia, merujuk pada polymerase chain reaction, sebuah uji laboratorium yang umum digunakan.
“Agar petambak dapat mengelola hasil panennya dengan baik — dalam hal deteksi dini dan mitigasi dini sebelum hewan-hewan itu benar-benar sakit parah atau mati seluruhnya — mereka perlu untuk bisa menguji profil patogen secara menyeluruh,” katanya. Pasalnya, udang bisa membawa beberapa patogen sekaligus.
Ide Gila
Melony mengaku pada awal-awal menjual konsep ini kepada para petambak terasa seperti “ide yang cukup gila.” Pasalnya, kata dia, petambak harus mengubah pola pikir dan kebiasaan tradisional mereka. “Selama ini, kita selalu menunggu sampai udang-udang itu sakit sebelum bertindak, karena kita bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan bisa merasakannya dari angka-angka produksi.”
Namun dengan teknologinya, pendekatan yang diambil lebih bersifat “berbasis pengawasan dan proaktif, sehingga kita sudah bergerak jauh sebelum masalah itu muncul.”
Selain menguji spesimen itu sendiri, Genics juga menggunakan teknologinya untuk mengidentifikasi sumber datangnya patogen, termasuk lumpur atau air kolam yang terkontaminasi, sehingga membantu petambak mencegah penyebaran penyakit.
Genics sejak itu menemukan ceruk pasarnya di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Vietnam, dan Thailand — yang secara historis menghadapi “banyak tantangan penyakit akibat kepadatan produksi yang tinggi,” ujar Dirk Krueger, Chief Commercial Officer Genics kepada Nikkei. “Banyak tambak berada dalam satu kawasan, sehingga di situlah kami merasa bisa memberikan dampak terbesar.”
Penyakit udang yang umum ditemukan di Asia Tenggara antara lain virus white spot syndrome dan infectious myonecrosis, dua virus dengan tingkat kematian tinggi.
Tambak udang di Indonesia umumnya memiliki “sumber pasca-larva bebas patogen yang sangat baik” atau bayi udang (benur) yang kemudian ditempatkan ke dalam kolam untuk dibudidayakan, kata Melony. Namun udang yang bebas penyakit pun tetap bisa terinfeksi oleh lingkungan sekitarnya — mulai asupan air dari sedimen yang tersisa ketika hasil panen sebelumnya tidak ditangani dengan benar, burung dari tambak tetangga yang mencemari kolam, serta hewan-hewan pembawa virus yang berkeliaran di sekitar area tersebut.
Vietnam Berbeda
Vietnam, di sisi lain, menghadapi tantangan yang berbeda. Banyak pengelola tambak di negara itu memperoleh benur udang mereka dari akuarium yang tidak teregulasi — yang sering kali sudah terinfeksi berbagai patogen. Air yang tidak diolah atau terkontaminasi juga membawa bakteri ke dalam tambak tempat udang dibesarkan.
“Seluruh lingkungan itu sendiri memiliki beban patogen yang sangat besar, sehingga ketika air dipompa kembali, tantangan yang dihadapi pun menjadi luar biasa besar,” kata Melony.
“Bekerja dengan berbagai sistem produksi yang berbeda, ada momen-momen berbeda di mana kita bisa memberikan dampak lebih besar, tergantung bagaimana mereka melakukan budidaya dalam proses produksinya. Pada intinya, biosekuriti hanya sekuat mata rantai yang paling lemah,” kata Sellars.
Menurut data FAO, Vietnam tahun 2025 menghasilkan 800.000 ton udang, sementara Indonesia memproduksi 300.000 ton. Dengan tingkat produksi tersebut, Vietnam dan Indonesia tercatat sebagai produsen terbesar keempat dan kelima di dunia setelah China, Ekuador, dan India.
Deteksi Dini
Merespons permintaan yang terus meningkat, Genics kini memiliki empat karyawan di Indonesia, dan melayani “ratusan perusahaan di Indonesia, di berbagai pulau,” kata Krueger.
Menurut dia, mengidentifikasi masalah lebih awal memiliki berbagai manfaat. “Deteksi dini pada dasarnya adalah lini pertahanan pertama Anda. Jika Anda mendeteksi penyakit sangat awal, terutama dalam budidaya udang, Anda punya kesempatan untuk menyelamatkan panen. Anda menghemat biaya karena tidak perlu terus memberi makan hewan yang sudah sakit. Dan Anda bisa menghemat banyak uang karena jika Anda terus memberi makan hewan yang benar-benar sakit, atau ada satu area wabah di tambak, Anda masih bisa mengambil tindakan jika masalah itu terdeteksi lebih awal.”
Melony mengatakan, teknologi ini membantu meningkatkan harga di tingkat petambak (farm–gate) — atau nilai pasar bersih produk saat meninggalkan tambak — hingga 52.000 dolar AS/hektare.
Dengan deteksi dini, produksi benur udang dapat meningkat sebesar 52% dan berkinerja hingga 15% lebih baik dalam hal tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan yang lebih optimal, kata Melony. “Semuanya bermuara pada ilmu sederhana bahwa…jika Anda bisa membudidayakan tanpa adanya patogen, Anda akan mendapatkan pertumbuhan sel somatik yang lebih banyak dan performa yang lebih baik.”
Ancaman Pestisida
Hanya saja, membesarkan udang yang sehat menghadapi tantangan lingkungan lainnya.
Penggunaan pestisida secara luas telah memperparah masalah kesehatan udang. “Meskipun kita menyemprotkan pestisida ini di lingkungan tempat tinggal kita untuk mengusir serangga dan laba-laba, sebagian besar bersifat larut dalam air dan langsung mengalir ke saluran pembuangan menuju laut, lalu kita pompakan kembali ke dalam produksi udang kita,” kata Melony.
Bahan-bahan kimia tersebut “mengganggu kemampuan larva udang, yaitu udang yang masih sangat muda, untuk bermetamorfosis” dan “pada dasarnya membunuh mereka.”
Pemanasan global dan dampak iklim yang ekstrem juga membebani kesehatan udang secara signifikan. Periode curah hujan tinggi dapat mengubah kadar salinitas air, memengaruhi metabolisme udang. Penurunan dan lonjakan suhu yang tajam dapat melemahkan respons imun udang dan membuat mereka lebih rentan terhadap patogen.
“Ada banyak hal yang saat ini memperburuk kondisi produksi di lingkungan. Perubahan iklim jelas masuk dalam daftar hal-hal yang berkontribusi pada itu,” kata Melony. AI






