Harga Kakao Anjlok, Saham Produsen Cokelat Dunia Rontok

Produsen cokelat asal Swiss, Barry Callebaut, memangkas proyeksi laba dan memperingatkan dampak dari turunnya harga kakao, kelebihan kapasitas industri, serta gangguan pasokan, yang membuat sahamnya jatuh lebih dari 15%.

Perusahaan yang berbasis di Zurich ini mengatakan, saat ini mereka memperkirakan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) akan turun dalam kisaran “belasan persen” pada tahun keuangan berjalan — berbalik dari panduan sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan — dan menegaskan besarnya tantangan yang dihadapi oleh CEO baru, Hein Schumacher.

Schumacher, yang mulai menjabat pada Januari dengan mandat membangun kembali volume dan memulihkan kepercayaan investor setelah beberapa tahun penuh gejolak mengatakan, “kecepatan penurunan pasar (harga kakao) yang luar biasa, ditambah dengan kelebihan kapasitas pasar yang kompetitif, penurunan volume, serta gangguan pasokan” telah menekan keuntungan. Perusahaan menyatakan tengah mengambil “langkah jangka pendek untuk melindungi pangsa pasar dan memprioritaskan pertumbuhan”.

Barry Callebaut, raksasa pengolah cokelat terbesar di dunia, telah terdampak oleh fluktuasi tajam harga kakao selama dua tahun terakhir.

Perusahaan mengatakan, penetapan harga terkait kakao kini “berbalik negatif” seiring turunnya harga, yang berarti mereka sekarang menjual cokelat dengan harga lebih rendah kepada pelanggan setelah sebelumnya membeli kakao dengan harga yang lebih tinggi.

Barry Callebaut menjual sebagian besar produknya melalui kontrak yang meneruskan biaya kakao kepada pelanggan, sehingga harga sangat bergantung pada pasar. Ketika harga kakao turun, perusahaan biasanya harus menurunkan harga jualnya.

Masalahnya memang ada pada waktu. Perusahaan membeli kakao beberapa bulan sebelumnya, tetapi menjual cokelat berdasarkan harga pasar saat ini. Ketika harga turun dengan cepat, mereka bisa terjebak menggunakan stok kakao yang dibeli dengan harga tinggi sambil menjual produk dengan harga lebih rendah.

Pada saat yang sama, permintaan juga melemah, dengan harga cokelat ritel yang masih tinggi hingga terus menekan konsumsi. Hal ini membatasi kemampuan perusahaan untuk menutupi penurunan harga jual dengan peningkatan volume, sehingga laba tetap tertekan.

Jon Cox, kepala saham konsumen Eropa di Kepler Cheuvreux mengatakan, penurunan harga saham terbaru lebih disebabkan oleh revisi turun proyeksi laba, bukan karena penurunan volume, dan pemangkasan proyeksi ini merupakan “semacam penyesuaian ulang di bawah kepemimpinan CEO baru”.

“Orang-orang melihat ada unsur struktural dalam penurunan ini,” tambahnya sepeti dimuat Financial Times, merujuk pada tekanan permintaan jangka panjang, bukan sekadar pelemahan siklus sementara.

Perang Iran

Barry Callebaut juga menyebut gangguan rantai pasok yang terkait dengan perang Iran, serta penutupan sementara pabrik di Kanada, sebagai tekanan tambahan terhadap kinerja. Perusahaan memperingatkan bahwa prospeknya masih bisa terdampak lebih lanjut oleh perkembangan konflik di Timur Tengah.

Grup yang memasok cokelat untuk produk seperti es krim Magnum dan batang KitKat milik Nestlé ini mengatakan bahwa EBIT berulang turun 4,2% pada semester pertama menjadi 310,9 juta franc Swiss (397 juta dolar AS) dalam mata uang lokal. Volume penjualan turun 6,9% menjadi 1,01 juta ton, meskipun perusahaan menyebut kinerja ini masih lebih baik dibanding pasar secara keseluruhan.

Para analis mengatakan, penurunan harga kakao belum sepenuhnya tercermin pada harga cokelat ritel, yang masih tinggi dan terus membebani permintaan. “Butuh waktu agar penurunan tajam harga kakao ini tercermin di harga cokelat di pasaran,” kata Cox, seraya menambahkan bahwa harga di tingkat ritel masih sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Meski prospek laba melemah, Barry Callebaut mengatakan pihaknya memperkirakan volume akan pulih pada paruh kedua tahun ini dan kini memproyeksikan penurunan tahunan yang lebih kecil, sekitar 1% hingga 3%, sebelum kembali tumbuh setelahnya. Harga kakao, yang telah turun lebih dari setengah dalam beberapa bulan terakhir, dinilai akan “mendukung pemulihan pasar di masa depan”.

Cox juga menyoroti risiko jangka panjang terhadap permintaan, termasuk meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1. “Di era GLP-1, seberapa besar volume cokelat masih bisa tumbuh?” ujarnya, seraya mencatat bahwa bisnis Barry Callebaut selama ini sangat bergantung pada volume tinggi.

Saham perusahaan ini sempat naik lebih dari 55% dalam setahun terakhir sebelum penurunan pada hari Kamis, namun masih jauh di bawah puncaknya setelah pandemi. AI