Keputusan pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium membuat harga beras Indonesia lebih mahal dua kali lipat dibandingkan dengan harga internasional. Apalagi setelah India, eksportir beras terbesar dunia, mencabut larangan ekspor.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara resmi menetapkan perubahan HET beras medium di tingkat konsumen untuk semua zonasi. Melalui Keputusan Kepala Badan (KepBadan) yang diteken Arief Prasetyo Adi pada 22 Agustus 2025, HET beras medium naik dengan kisaran Rp900/kg sampai Rp2.500/kg.
Dalam diktum kelima surat keputusan No. 299 Tahun 2025 tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi yang beredar di media disebutkan, HET beras medium terbaru adalah Rp13.500 kg untuk zona 1 (Jawa, Lampung dan Sumsel), Rp14.000/kg untuk zona 2 (Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Kepulauan Bangka Belitung), dan Rp15.500/kg untuk zona 3 (NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua).
Sebelumnya, HET beras medium untuk ketiga zonasi itu adalah masing-masing Rp12.500/kg; Rp13.100/kg dan Rp13.500/kg.
“Secara prinsip sudah berlaku. Tapi detailnya nanti akan dijelaskan oleh pak Kepala Badan (Arief),” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa saat ditemui seusai Diskusi Publik bertajuk Paradoks Kebijakan Hulu-Hilir Perberasan Nasional di Kantor Ombudsman, Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Harga Beras Internasional
Keputusan pemerintah mengerek naik beras medium membuat harga beras Indonesia menjadi sangat mahal dibandingkan harga beras internasional. Apalagi setelah India menyetop larangan ekspor beras dan membanjiri pasar.
Harga beras global pun tumbang dan mencetak harga terendah dalam 8 tahun terakhir. Kondisi ini jelas pukulan buat petani di seluruh Asia, mengingat saat ini sedang mencetak rekor panen.
Harga beras Thailand dengan kualitas butir patah (broken) 5% — yang jadi patokan global — anjlok pada awal Agustus di level 372,50 dolar AS/ton dan naik menjadi 376 dolar AS/ton pada Selasa (26/8).
Dengan kata lain, harga beras tersebut tidak sampai Rp6.000/kg dengan kurs Rp16.000/kg. Bahkan jika dibandingkan dengan harga beras premium untuk zona 1 Rp14.900/kg, selisih harga beras impor berkualitas premium (broken 5%) tersebut jauh lebih besar lagi.
Di pasar global, harga beras eks Thailand itu turun 26% sejak akhir tahun lalu dan tercatat di level terendah sejak 2017. Penurunan ini terjadi setelah India, sang eksportir beras terbesar dunia, mulai mencabut pembatasan ekspor pada September 2024.
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), indeks Harga Seluruh Beras PBB turun 13%.
“Sederhana saja sih, yakni stok begitu melimpah,” ujar Samarendu Mohanty, direktur Centre for Sustainable Agriculture and Development Studies di Professor Jayashankar Telangana State Agricultural University.
“Produksi beras India mencetak rekor… Padi yang baru saja mereka tanam juga akan mencetak rekor berikutnya,” katanya seperti dikutip The Financial Times.
Penurunan harga beras ini merupakan pembalikan harga yang tajam dari awal tahun lalu, ketika harga beras melonjak ke level tertinggi sejak tahun 2008, setelah India menerapkan serangkaian pembatasan ekspor. Langkah India itu memicu gelombang panic buying alias aksi borong di kalangan konsumen dan mendorong aksi-aksi proteksionis di negara-negara lain.
Perubahan kebijakan India yang terjadi akhir tahun lalu, menyusul terjadinya rekor panen 2023-2024 yang membuat bengkak stok pangan pemerintah, merupakan “alasan utama” terjadinya penurunan dramatis harga beras, kata analis senior Rabobank, Oscar Tjakra.
“Selain itu juga terjadi produksi yang melimpah di Thailand dan Vietnam, yang membuat produksi beras global mencetak rekor tinggi di tahun pemasaran ini,” tambahnya.
Produksi India
Sementara dari sisi permintaan malah terjadi penurunan. Indonesia, salah satu importir terbesar, sudah membeli atau mengimpor beras di muka tahun lalu dan tidak masuk ke pasar lagi tahun 2025 ini. Filipina di sisi lain juga melarang impor sampai Oktober untuk melindungi harga besar dalam negeri selama musim panen raya mereka.
“Indonesia hengkang, Flipina keluar. Jadi, tak ada demand untuk beras saat ini,” ujar Mohanty.
Kuatnya pasok beras yang tidak biasa dari India mencerminkan kemajuan sektor pertanian mereka. Hampir semua petani di daerah penghasil beras utama di negara tersebut kini memiliki sistem irigasi, yang membuat produksi lebih tahan terhadap kekeringan dan monsun yang semakin tidak menentu. “India telah membuat produksi berasnya tahan terhadap monsun.”
Petani juga semakin sering membeli benih baru setiap musim, yang meningkatkan hasil, serta memperluas luas lahan padi, berkat sistem harga pembelian minimal (MSP) dan bonus negara yang membantu melindungi petani dari fluktuasi harga global. “Petani tahu bahwa padi adalah tanaman yang paling menguntungkan. Anda mendapatkan MSP, Anda mendapatkan bonus, dan risikonya lebih kecil,” papar Mohanty.
Namun, petani di sebagian besar negara Asia lainnya tidak memiliki perlindungan seperti ini, ketika harga global jatuh, kata Tjakra. “Harga rendah akan menggerus pendapatan petani, yang sangat menantang dengan biaya input yang lebih tinggi dan inflasi.”
Keuntungan bagi Konsumen
Bagi konsumen, penurunan harga ini menawarkan kelegaan yang sangat ditunggu setelah beberapa tahun harga makanan yang tinggi. Di negara-negara yang bergantung pada impor beras, harga yang lebih murah dapat membantu meredakan inflasi utama dan tekanan anggaran rumah tangga.
Meskipun harga telah turun tajam tahun ini, kemungkinan masih akan terjadi penurunan lebih lanjut, kata Mohanty. “Saya melihat penurunan 10% lagi,” ujarnya. “Tidak ada pembeli di luar sana.”
Dia memperkirakan gudang-gudang milik pemerintah India menyimpan hingga 60 juta ton beras pada Mei — sekitar 15 juta ton lebih banyak dari rata-rata tahun-tahun sebelumnya. Dengan panen besar lainnya yang sedang berlangsung, New Delhi telah mengeluarkan stok ke pasar domestik dan bahkan untuk produksi etanol — dengan harga lebih rendah daripada untuk konsumsi manusia — untuk membebaskan ruang menjelang panen berikutnya.
“Kami memasuki [periode] harga komoditas rendah,” kata Mohanty. “Saya tidak melihat tren ini akan berbalik setidaknya untuk dua tahun ke depan, kecuali ada perang atau kejutan besar lainnya.” AI


















