Seruan ‘Jual Indonesia’ Dominasi Meja Perdagangan

Foto: Antara

Investor global dengan cepat kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia seiring saham-saham negara ini jatuh pada laju tercepat di dunia dan mata uangnya merosot ke rekor terendah sepanjang masa.

Hanya lima bulan setelah mencapai rekor tertinggi, IHSG telah anjlok 38% dan menjadi indeks gabungan berkinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg. Rupiah telah melemah sekitar 7,5%, sementara investor asing telah menarik miliaran dolar dari obligasi Indonesia.

Hal ini menandai perubahan dramatis bagi negara kaya komoditas yang sebelumnya menjadi alokasi utama dalam banyak portofolio pasar berkembang. Yang membuat investor gelisah adalah agenda yang lebih populis dan intervensionis yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto — dan terus diperkuat — di negara yang selama ini dianggap ramah terhadap investor asing. Perang Iran semakin memperburuk kekhawatiran tersebut, dan mempercepat arus keluar modal dan penghindaran risiko secara lebih luas.

Transaksi terbesar di Asia saat ini adalah “jual Indonesia”, kata George Boubouras, Kepala Riset di hedge fund K2 Asset Management yang mengelola sekitar 4,3 miliar dolar AS. Setelah puluhan tahun berinvestasi di Indonesia, dia keluar dari seluruh posisinya pada tahun 2024. “Saya tidak memiliki eksposur apa pun terhadap Indonesia,” katanya. “Saya tidak akan memberi mereka kesempatan.”

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri membela rekam jejak ekonomi negaranya dalam jumpa pers APBN KITA pada Jumat (5/6/2026), dengan mengatakan bahwa obligasi pemerintah dan surat utang bank sentral mencatat arus masuk dana pada kuartal kedua hingga awal Juni. Meskipun saham mengalami arus keluar dana selama periode tersebut, angka bersihnya masih positif, katanya, seraya menambahkan bahwa “optimisme terhadap ekonomi Indonesia tetap kuat.”

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026). Foto: Antara

Indonesia menarik arus masuk bersih dana asing sebesar 830 juta dolar AS ke pasar obligasinya pada kuartal yang berakhir 2 Juni, menurut data Kementerian Keuangan yang dihimpun Bloomberg. Namun demikian, investor luar negeri telah melepas obligasi Indonesia senilai bersih 653 juta dolar AS sepanjang tahun ini dan 3,5 miliar dolar AS selama 12 bulan terakhir, menurut data tersebut. Mereka juga melepas saham Indonesia senilai bersih 1,4 miliar dolar AS pada kuartal kedua, berdasarkan data bursa.

Sejak menjabat pada Oktober 2024, Presiden Prabowo berjanji meningkatkan pertumbuhan tahunan menjadi 8%, meluncurkan program makan siang gratis (MBG), memperluas peran negara dalam perekonomian, dan menyalurkan miliaran dolar ke dana kekayaan negara Daya Anagata Nusantara (Danantara). Baru-baru ini, langkah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk mengambil kendali langsung ekspor komoditas utama nasional — dengan dalih memberangus praktik underinvoicing dan transfer pricing — memicu aksi jual saham-saham eksportir.

Bagi banyak investor, kepergian mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tahun lalu menjadi titik balik. Secara luas ia dipandang sebagai penjamin disiplin fiskal dan telah meyakinkan pasar bahwa Indonesia akan mempertahankan pengelolaan anggaran yang konservatif, yang membantu negara ini memperoleh peringkat kredit layak investasi dan menarik modal asing jangka panjang.

Kini, investor mulai mempertanyakan apakah komitmen tersebut masih berlaku.

“Ketidakpastian politik domestik adalah risiko khas pasar berkembang yang biasanya membuat investor global memilih menunggu hingga kepastian kembali muncul,” kata Yuxuan Tang, Kepala Strategi Suku Bunga dan Valuta Asing Asia di JPMorgan Private Bank, Hongkong. “Kami masih menyarankan kehati-hatian pada tahap ini.”

Rupiah telah menjadi cerminan paling jelas dari kecemasan pasar, melemah sekitar 14% sejak Prabowo menjabat dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini. Konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi juga menambah kekhawatiran terhadap posisi eksternal Indonesia, mengingat negara ini merupakan pengimpor minyak bersih.

Rupiah terus melorot dan menembus level bersejarah Rp18.000/dolar AS minggu ini, dan pasar opsi mengindikasikan pelemahan lebih lanjut. Para pelaku pasar memperkirakan sekitar 45% kemungkinan rupiah turun ke level Rp19.000 pada Desember dan 27% kemungkinan melemah ke Rp20.000 dalam satu tahun ke depan.

“Pendorong utama posisi jual terhadap Indonesia adalah prospek negatif rupiah, di mana investor tetap khawatir terhadap ketidakseimbangan makroekonomi dan kredibilitas kebijakan, khususnya di sisi fiskal,” kata Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments yang mengelola dana sekitar 624 miliar dolar AS.

Tekanan kini meluas melampaui pasar valuta asing.

Investor asing telah mengurangi kepemilikan mereka atas surat utang negara Indonesia sebesar Rp86 triliun (4,8 miliar dolar AS), atau sekitar 9%, sejak Agustus tahun lalu. Obligasi tersebut telah mencatat kerugian lebih dari 8% bagi investor berbasis dolar tahun ini, dibandingkan keuntungan 1,6% untuk utang pasar berkembang secara keseluruhan — meskipun Bank Indonesia telah berulang kali melakukan intervensi.

Kekhawatiran lain adalah meningkatnya kepemilikan obligasi pemerintah oleh bank sentral. Bank Indonesia kini memegang sekitar 27% obligasi negara, proporsi yang tergolong sangat tinggi untuk negara berkembang.

Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) terus melorot di bawah 6.000. Foto: Antara

“Apa yang awalnya dimulai sebagai pembelian untuk meningkatkan likuiditas pasar obligasi mungkin telah berubah menjadi semacam pelonggaran kuantitatif alias quantitative easing,” kata Rajeev De Mello, manajer portofolio di Gama Asset Management SA. Dia menambahkan, investor menginginkan panduan yang lebih jelas mengenai apakah kepemilikan tersebut telah stabil atau kemungkinan akan meningkat maupun menurun.

Aksi jual juga kembali memunculkan kekhawatiran mengenai profil kredit negara Indonesia. Negara ini memperoleh peringkat layak investasi dari lembaga pemeringkat utama sekitar tahun 2012 hingga 2017 setelah bertahun-tahun meningkatkan disiplin fiskal. Kini, sebagian investor khawatir pencapaian yang diperoleh dengan susah payah tersebut dapat mulai tergerus jika kepercayaan terhadap proses pembuatan kebijakan melemah.

“Peringkat itu sangat sulit diperoleh, tetapi sangat mudah hilang,” kata Shamaila Khan, Kepala Pendapatan Tetap Pasar Berkembang dan Asia Pasifik di UBS Asset Management yang berbasis di New York. Dia mengelola dana obligasi pasar berkembang yang mengungguli 93% rekan sejenisnya dalam tiga tahun terakhir.

“Kami ingin melihat bahwa mereka tidak mengorbankan kebijakan-kebijakan tersebut dan manfaat yang telah mereka peroleh sebagai hasilnya,” tambahnya.

Kejutan MSCI

Investor menerima pukulan tambahan awal tahun ini ketika MSCI Inc. menyatakan Indonesia berpotensi diturunkan dari status pasar berkembang menjadi pasar frontier, memicu salah satu kejatuhan pasar saham terburuk dalam beberapa dekade. Peringatan tersebut memiliki bobot besar karena penyusun indeks tersebut memengaruhi bagaimana miliaran dolar dialokasikan secara global.

Masalah yang disoroti MSCI sebenarnya sudah ada sebelum Prabowo menjabat dan mencerminkan persoalan struktural yang menurut pemerintahannya ingin diperbaiki — termasuk konsentrasi kepemilikan korporasi dan lemahnya pengawasan regulasi. Pemerintah telah merespons dengan memperketat persyaratan keterbukaan informasi dan mengusulkan perubahan aturan free float, tetapi langkah-langkah tersebut belum banyak menghentikan aksi jual.