Kementan Pastikan Food Estate Perkuat Ketahanan Pangan

0
116

Food estate atau lumbung pangan di Kalimantan Tengah (Kalteng), Nusa Tenggara Timur dan Humbang Hasundutan (Humbahas) Sumatera Utara telah berjalan dengan baik dan berhasil memperkuat ketahanan pangan.

Selain itu, jajaran Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, berupaya terus memperkuat food estate dengan meningkatkan optimasi lahan, pengolahan dan olah tanah serta turut memperbaiki tata kelola air di lokasi tersebut.

“Saya meyakini food estate yang ada di Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan NTT ini akan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penguatan ketahanan pangan di negara kita. Nanti akan kita refleksi di provinsi-provinsi yang lain yang memiliki kesiapan,” kata Direktur Jenderal PSP, Ali Jamil.

Food estate, lanjutnya, merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan.

“Program ini diimplementasikan dengan memberdayakan lahan-lahan yang belum digarap secara potensial, untuk dijadikan lahan produksi tanaman pangan,” katanya.

Food estate diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan domestik sekaligus membantu petani untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pengembangan hilirisasi produk pangan.

“Program food estate ini sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian nasional, yakni menyediakan pangan untuk seluruh rakyat, meningkatkan kesejahteraan petani dan menggenjot ekspor,” ucap Ali.

Dengan program lumbung pangan, Ali berharap segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan pangan rakyat tak terkendala sama sekali. Oleh karenanya, ia menilai program food estate perlu untuk terus diperkuat dan dikembangkan

Food estate ini benteng ketahanan pangan nasional. Kami ingin program ini berjalan lancar dan berkelanjutan. Program ketahanan pangan ini perlu untuk lebih dikuatkan,” ujarnya.

Dia menyebutkan, program ini untuk mengatasi terjadinya krisis pangan. Food estate ini diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan domestik sekaligus membantu petani untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pengembangan hilirisasi produk pangan.

Dikatakannya, melalui program pengembangan food estate, pihaknya selalu berupaya mencukupi kebutuhan pangan masyarakat nasional. Apalagi yang dikembangkan adalah multikomoditas. “Dengan begitu,  pada saat panen semua kebutuhan bisa terpenuhi, baik komoditas tanamam pangan seperti padi, hortikultura, perkebunan, juga ternak,” tegasnya.

Dengan program lumbung pngan, Ali berharap segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan pangan rakyat tak terkendala sama sekali. Oleh karenanya, ia menilai program food estate perlu untuk terus diperkuat dan dikembangkan

Ali Jamil mengatakan, program food estate direalisasikan untuk mendukung tujuan pembangunan nasional, yakni menyediakan pangan untuk seluruh rakyat, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menggenjot ekspor. “Food estate ini benteng ketahanan pangan nasional. Kami ingin program ini berjalan lancar tanpa kendala.”

Ditambahkan Ali, program food estate dirancang sejak tahun lalu dan memiliki sejumlah target pencapaian hingga tahun 2024. Pertama, terlaksananya penataan ruang dan pengembangan infrastruktur wilayah untuk kawasan sentra produksi pangan yang berkelanjutan.

Kedua, meningkatnya produksi, indeks pertanaman dan produktivitas pangan melalui pertanian presisi,” kata dia. Ketiga, terbangunnya sistem logistik, pengolahan dan nilai tambah, distribusi dan pemasaran berbasis digital.

Keempat, terbangunnya korporasi petani yang mampu dan berdaya guna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani. “Terakhir, meningkatnya daya dukung ekosistem hutan dan gambut untuk mendukung keberlanjutan kawasan sentra produksi pangan,” papar Ali.

Dia menjelaskan, pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah sebagai wilayah pengembangan food estate memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan agroekosistem lainnya, seperti lahan kering atau tadah hujan.

“Setidaknya, ada delapan keunggulan, di antaranya ketersediaan lahan cukup luas, sumber daya air melimpah, topografi relatif datar, akses ke lahan dapat melalui sungai dan sudah banyak jalan darat serta lokasi ini lebih tahan deraan iklim,” katanya.

Selain itu, rentang panen juga panjang, khususnya padi — bahkan dapat mengisi masa paceklik di daerah bukan rawa — keanekaragaman hayati dan sumber plasma nutfah cukup kaya, dan mempunyai potensi warisan budaya dan kearifan lokal yang mendukung.

“Sejak tahun 2020, di lokasi food estate sudah mulai dibenahi infrastruktur tata kelola air irigasi oleh Kementerian PUPR, diharapkan sampai dengan tahun 2024 seluruh infrastruktur irigasi dapat difungsikan dengan baik,” katanya.

Peningkatan hasil panen

Sementara itu, Bupati Sumba Tengah, Paulus S.K. Limu di tempat terpisah mengatakan, produksi padi di lahan food estate di Kabupaten Sumba Tengah hasil memuaskan.

Hasil panen padi mencapai 6,3 ton/ha. Hasil ini mengalami peningtakan yang sangat signifikan dibandingkan dengan sebelum adanya program food estate.

Paulus S.K. Limu bersama wakilnya Daniel Landa, belum lama ini melakukan panen padi menggunakan mesin panen modern Combine Harvester di Desa Wailawa, Kecamatan Katikutana Selatan.

Di lahan padi seluas 2,3 ha milik kelompok tani Mula Mila yang dipimpin oleh Michale Umbu Rolo itu, para petani mengaku sangat gembira karena hasil panen yang berlimpah.

Michael Umbu Rolo mengatakan, sebelum ada program food estate, hasil panen padi dalam satu hektare hanya mencapai 400-500 karung. Namun, setelah adanya program lumbung pangan, hasil panen padi mencapai 2-3 kali lipat, yaitu 1.000-1.500 karung dalam satu ha.

“Kami sangat terbantu karena semua dapat bibit padi, dapat olah sawah, pupuk, juga bibit jagung dan kelapa, serta ternak itik, kami dapat semua dari Kementrian Pertanian,” kata Ketua Kelopok Tani Mula Mila, Michael Umbu Rolo.

Food estate Sumba Tengah menjadi program superprioritas yang dicanangkan Presiden Jokowi. Tahun 2020 total lahan yang telah ditanami mencapai 5.000 ha dengan 3.000 ha ditanami padi dan 2.000 ha ditanami jagung. Tahun 2021 target tanam 10.000 ha di lima kecamatan.

Bantuan yang diberikan Kementan tidak hanya terbatas pada benih  komoditas padi dan jagung, namun mulai diintegrasikan dengan komoditas lain seperti kelapa, jeruk, mangga, sapi dan itik.

Tiga Food Estate Berhasil

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengklaim program food estate yang dibangun pemerintah telah berhasil 100%, terutama di tiga lokasi.

Lokasi yang dimaksudkan adalah Kalimantan Tengah (Kalteng), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Humbang Hasundutan (Humbahas) Sumatera Utara (Sumut). “Tiga lokasi food estate ini secara keseluruhan 100% berhasil dengan baik,” ujarnya.

Syahrul merinci. Pertama adalah food estate di Kalteng. Kementan menangani 30.000 ha tanah, dan meyakini panen pangan di sana berhasil. Meskipun ada sekitar 200 ha lahan pertanian gagal.

“Dari 30.000 ha, yang gagal tidak lebih dari 200 ha. Gagal 200 ha sampai 300 ha ini biasa kalau di dalam tanah 30.000 ha. Gagal 1.000 ha pun wajar,” jelasnya.

Kementan, lanjut Syahrrul, menganggap hal itu bukan gagal karena produktivitasnya yang biasanya dilaporkan 2,6-3,2 ton hasil pertanian, kini menjadi di atas 4 ton/ha.

Secara total, lahan pertanian program food estate di Kalimantan Tengah ditargetkan 60.000 sampai 2024. Saat ini baru masuk 30.000 ha, nanti akan masuk bertahap 22.0000 ha ke depannya. “Dari 22.000 ha itu, yang layak hanya 16.000 ha,” jelasnya.

Kedua, food estate di Humbang Hasundutan (Humbahas). Pemerintah baru menyediakan 215 ha tanah pertanian, dari 1.000 ha yang dijanjikan. Syahrul mengakui ada permasalah soal lahan tanah di sana.

“Karena lahan yang tersedia terjadi tarik-menarik antara tanah adat dan penduduk setempat. Jadi, bukan karena kita. Jadi, ada 215 ha yang berhasil secara total, ada bawang putih dan kentang,” jelasnya.

Jadi, sisanya sekitar lebih dari 700 ha lagi disebut masih menunggu klarifikasi. Nantinya akan ada food estate di Wonosobo dan Temanggung, di mana luasanya sebanyak 300 ha.

Ketiga, food estate di NTT. Lahan yang sudah tersedia ada 5.000 ha, 2.000 ha untuk padi dan 3.000 ha adalah jagung. Syahrul mengatakan, sekitar 400-500 ha hasil jagung di sana memang masih kecil.

“Karena ini masih pertama kali dan ada masalah air masih yang utama. Jadi, kami mengejar 2 kali tanam, pada musim rendengannya dipercepat,” jawabnya.

Jadi, untuk tiga wilayah pertama food estate itu diklaim sudah berhasil 100%. Kementan berencana akan mencoba food estate di wilayah Beli, NTT.

“Di sana belum bisa banyak karena kalau kata orang NTT di sana lebih banyak batu dari pada tanah. Tetapi, alhamdulillah 2 kali panen sudah ada 153 ton dari 50 ha. Terakhir ini sudah ada pemasukan Rp400 juta lebih dari 50 hektar itu. Bapak meminta untuk itu dikembangkan menjadi 10.000 ha,” katanya. PSP