Meta Beri Harapan Palsu Soal Penyerapan CO2

* Perusahaan teknologi raksasa dituduh menggunakan data yang tidak akurat dalam upaya mengidentifikasi material penyerap karbon dioksida dari udara.

Meta Platform Inc. alias Meta, perusahaan induk Facebook, WhatsApp dan Instagram, dituding menggunakan data yang cacat untuk melatih alat kecerdasan buatan (AI) di bidang iklim. Bahkan kalangan ilmuwan menuduh perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini telah menimbulkan harapan palsu terjadinya penghilangan karbon dioksida dalam skala besar di atmosfer.

Asal tahu, perusahaan teknologi ini tahun lalu mengklaim telah membantu para peneliti menyelesaikan tantangan besar dalam mengidentifikasi material yang mampu secara efisien menyerap karbon dioksida dari udara, melalui publikasi kumpulan data yang mereka sebut sebagai “terobosan” — yang kemudian juga dipakai untuk melatih model pembelajaran mesin (machine learning) yang dapat diakses bebas.

Namun, tim peneliti dari Universitas Heriot-Watt dan Institut Teknologi Federal Swiss di Lausanne (EPFL) menilai, dari 135 material yang disebut Meta mampu mengikat CO₂ secara kuat, ternyata tidak ada satupun yang memiliki sifat tersebut. Bahkan, seperti dimuat Financial Times, beberapa material tersebut tidak benar-benar ada.

“Saya berharap mereka lebih banyak berpikir ketimbang hanya menghitung,” ujar Prof. Berend Smit, ahli teknik kimia dari EPFL, yang menyebut sebagian hasil penelitian Meta sebagai “omong kosong”.

Dia menambahkan, “Terkesan sekali bahwa mentalitas perusahaan teknologi besar adalah: kerjakan dulu, pikirkan nanti (do first, think later).”

Menanggapi hal ini, Meta menyatakan bahwa kumpulan data mereka disusun berdasarkan “perhitungan yang valid dan berguna untuk melatih model pembelajaran mesin”. Mereka juga menegaskan komitmen terhadap prinsip open source karena “mendorong kolaborasi dan inovasi.”

Perusahaan teknologi memang telah banyak berinvestasi untuk menurunkan biaya teknologi penghilangan CO₂ — seperti penangkapan karbon langsung di udara atau direct air capture (DAC) — demi mengimbangi jejak karbon mereka yang terus meningkat, seiring pengembangan sistem AI generatif.

Meski teknologi DAC belum beroperasi dalam skala besar, Microsoft telah menjadi salah satu investor utamanya, dan Meta pun telah berkomitmen membeli kredit karbon dari perusahaan rintisan yang mengembangkan teknologi tersebut.

Temuan awal dari penelitian ilmuwan Meta bersama Institut Teknologi Georgia telah dipublikasikan tahun lalu dalam jurnal ilmiah milik American Chemical Society.

Namun menurut guru besar di Georgia Tech, Prof.  A.J. Medford, yang juga salah satu penulis makalah tersebut, kritik yang dilontarkan terhadap penelitian itu telah salah sasaran. Dia menegaskan, tujuan tim bukanlah “untuk secara mutlak menemukan material baru,” melainkan untuk menguji teknik penyaringan material yang lebih canggih serta membuka tantangan dan pertanyaan baru di bidang tersebut.

Setelah melakukan 40 juta perhitungan di bidang mekanika kuantum, tim Meta menyusun basis data struktur kimia yang disebut metal-organic frameworks, yang diprediksi mampu menarik CO₂ dengan kuat tanpa menarik komponen udara lainnya, seperti uap air.

Terlalu Dibesar-besarkan

Menurut Meta, proyek ini memerlukan daya komputasi ratusan kali lebih besar dari kapasitas laboratorium akademik pada umumnya dalam setahun. Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih model AI “yang kecepatannya jauh melampaui simulasi kimia konvensional”, guna mengidentifikasi material yang menjanjikan.

Namun, tim peneliti yang mencoba mereproduksi hasil Meta menyatakan bahwa kemampuan material dalam mengikat CO₂ telah dilebih-lebihkan, dan bahwa alat AI open source dari Meta tidak sesuai untuk tujuan tersebut. Mereka menyoroti kesalahan penggunaan unsur kimia yang sudah diperbaiki dalam database akademik terkini.

Meta mengakui bahwa material tersebut hanya dinyatakan sebagai “menjanjikan dan layak untuk diperiksa lebih lanjut”. Mereka juga menambahkan bahwa beberapa perhitungan dalam kumpulan data tersebut “mewakili struktur yang tidak masuk akal atau sangat tidak stabil akibat konfigurasi elektroniknya atau sebab lain,” dan bahwa hal ini telah mereka ungkapkan secara terbuka.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump, yang memangkas subsidi proyek energi bersih, sempat menimbulkan kekhawatiran di sektor penyerapan karbon, meski potongan pajak untuk teknologi ini sebagian besar tetap dipertahankan dalam paket kebijakan fiskal dan perpajakan.

Sementara itu, Climeworks — salah satu pelopor teknologi DAC yang tidak menggunakan material dari tim Meta — mengumumkan pemutusan hubungan kerja lebih dari 100 karyawan pada bulan Mei. Namun, pada Rabu (2/7), Climeworks menyatakan telah memperoleh pendanaan ekuitas lebih dari 1 miliar dolar AS — yang menurut mereka mencerminkan kepercayaan investor.

Wijnand Stoefs, pimpinan kebijakan penghilangan karbon di lembaga nirlaba Carbon Market Watch, menyebut teknologi DAC sudah “sangat dibesar-besarkan” oleh perusahaan teknologi, termasuk Meta. Dia menegaskan, biaya dan kebutuhan energi yang tinggi menjadikan teknologi ini berada dalam “krisis mendalam”, apalagi bila dibandingkan dengan solusi mengganti bahan bakar fosil dengan energi bersih.

Meski demikian, para ilmuwan tetap menyambut baik upaya Meta untuk menjawab pertanyaan riset yang rumit dan mahal ini.

“Dengan mempublikasikan semuanya secara terbuka, Meta telah memungkinkan komunitas ilmiah untuk menelaah lebih dalam dan membangun alat yang lebih baik,” ujar Prof. Susana Garcia, ahli teknik kimia dan proses dari Universitas Heriot-Watt. AI