Dunia kini memasuki era baru “kebangkrutan air global”. Kebangkrutan dimulai ketika manusia menguras sistem air tawar hingga ke titik di mana sistem tersebut sudah tidak dapat pulih kembali.
Itulah hasil laporan ilmiah terbaru PBB yang diterbitkan pada Selasa (20/1) oleh Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas PBB. Sebanyak tiga-perempat atau 75% penduduk dunia — sekitar 6,1 miliar jiwa — kini tinggal di negara-negara denga pasokan air tawar yang tidak aman atau sangat tidak aman. Sementara 4 miliar orang menghadapi kelangkaan air yang parah setidaknya selama 1 bulan dalam 1 tahun.
Banyak kota di dunia yang makin sering mengalami peristiwa Day Zero, yakni ketika sistem air perkotaan nyaris ambruk. Kekurangan air akut di Teheran baru-baru ini mendorong presiden Iran memperingatkan bahwa mungkin perlu mengevakuasi sebagian kota atau bahkan memindahkan ibu kota. Di Turki, sekitar 700 lubang runtuhan (sinkhole) — beberapa kedalamannya sampai 100 kaki atau 30 meter lebih — telah muncul di wilayah di mana akuifer runtuh setelah air tanahnya terkuras.
Kekeringan dan kelangkaan air kemungkinan akan mendorong terjadinya migrasi di sebagian Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Amerika Latin, kata laporan tersebut, yang didasarkan pada makalah yang telah melalui penelaahan sejawat (peer-reviewed).
Pemanasan global meningkatkan kebutuhan air dan membuat pasokan air alami menjadi makin tidak dapat diprediksi. Namun, direktur institut PBB dan penulis utama laporan Kaveh Madani mengatakan, pengelolaan air juga merupakan bagian kunci dari persoalan ini. “Kebangkrutan air bukan soal seberapa banyak air yang Anda miliki; ini soal bagaimana Anda mengelola air,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.
Penggunaan air tanah yang berlebihan secara kronis, perusakan hutan, degradasi lahan, dan polusi telah menyebabkan hilangnya air tawar yang tidak dapat dipulihkan di banyak wilayah dunia — masalah yang diperparah oleh perubahan iklim.
Perubahan iklim menggeser air tawar pada skala global, dan pada skala yang lebih kecil, dampaknya dapat diperburuk oleh tindakan lokal. Planet yang lebih panas dan lebih kering mengalami lebih banyak kekeringan yang menguapkan air. Hal itu memusatkan garam di dalam tanah, sebagaimana juga dilakukan oleh praktik pertanian tertentu. Suhu yang lebih tinggi berkontribusi pada lebih banyak kebakaran hutan dan lahan gambut, sementara praktik tebang habis dan pengeringan lahan basah oleh manusia memperburuk kondisi kebakaran.
“Kekeringan tidak lagi hanya bersifat alami, tetapi juga antropogenik — yang artinya kita mengalami perubahan iklim di tingkat global, dan juga perubahan penggunaan lahan akibat keputusan pengelolaan serta alokasi infrastruktur, yang membuat air semakin lama semakin tidak tersedia,” kata Madani.
Pengurasan Air
Penggunaan istilah “kebangkrutan” untuk menggambarkan tingkat pengurasan air merupakan hal baru bagi PBB. Sebelumnya, para ilmuwan Universitas PBB menggunakan istilah “tekanan air” atau “krisis air” untuk menggambarkan sistem yang berada di bawah tekanan berkepanjangan atau tekanan mendadak dan akut. Kedua istilah tersebut masih membuka kemungkinan pemulihan.
Namun, hal itu tidak lagi memungkinkan di banyak wilayah di mana manusia telah menarik air tawar lokal secara berlebihan, menghambur-hamburkan pasokan tahunan dari sumber pengisian ulang seperti sungai dan salju yang mencair, sambil menguras air tanah dan reservoir alami lainnya.
Separuh dari populasi dunia mendapatkan air domestik dari air tanah yang tersimpan, yang kini terkuras secara besar-besaran. Namun, masyarakat yang bergantung pada air permukaan juga rentan. Seperempat populasi dunia bergantung pada danau-danau besar yang telah kehilangan setengah volume airnya sejak awal 1990-an.
Jumlah air yang tersedia bagi masyarakat juga sering kali dibesar-besarkan mengingat kualitasnya mungkin terlalu buruk untuk digunakan, kata laporan tersebut. Pupuk, limbah pertambangan, plastik, dan kontaminan obat-obatan terus masuk ke sungai, danau, dan perairan pesisir di seluruh dunia, sementara praktik pengolahan air limbah sering kali tidak memadai.
Laporan tersebut menyerukan pengakuan atas kebangkrutan air dalam perdebatan kebijakan, serta pembentukan kerangka pemantauan global untuk melacak sumber daya air. Pemerintah, menurut laporan itu, sebaiknya mempertimbangkan untuk menghentikan proyek-proyek yang semakin merusak pasokan air.
“Bahkan pada tahun-tahun yang basah, kita masih berjuang,” kata Madani. “Banyak dari sistem ini telah rusak secara permanen.”
Paper lain yang diterbitkan bulan ini di jurnal Nature juga memprediksi bahwa kekeringan tanaman akan memburuk di sebagian besar Eropa, Amerika Selatan bagian utara, dan Amerika Utara bagian barat, meskipun kejadian hujan besar juga meningkat. Hal ini terjadi karena kenaikan suhu lebih kuat memengaruhi penguapan dan hilangnya kelembapan tanah di wilayah-wilayah tersebut, sehingga lebih banyak air dibutuhkan untuk irigasi.
Di wilayah tropis, daerah semi-kering lebih dipengaruhi oleh curah hujan daripada oleh penguapan yang didorong suhu. Namun, wilayah tersebut juga dapat mengalami panas ekstrem yang membuat tanaman lebih haus, atau hujan ekstrem yang mengikis tanah.
“Meskipun dalam pertanian Anda tidak terlalu terdampak oleh kekeringan musiman yang sangat dramatis, Anda tetap terdampak oleh peningkatan cuaca ekstrem,” kata Emily Black, guru besar proses daratan dan iklim di University of Reading serta penulis utama studi Nature tersebut. “Pertanian adalah pengguna air yang besar, jadi jika kita meningkatkan kebutuhan air tanaman, maka hal itu tentu saja menekan pasokan air di mana pun Anda berada.”
Peluncuran laporan PBB ini berlangsung menjelang pertemuan di Dakar, Senegal, akhir bulan ini untuk meletakkan dasar bagi Konferensi Air PBB 2026 pada bulan Desember. Pada 7 Januari, Amerika Serikat mengatakan akan menarik diri dari UN Water dan Universitas PBB, bersama dengan puluhan organisasi internasional lainnya yang menurut pemerintahan Trump “bertentangan dengan kepentingan” negara tersebut. Keputusan AS tersebut sejauh ini belum berdampak pada operasional, kata Madani, meskipun dia menambahkan bahwa ketidakhadiran negara itu akan terasa di Dakar. AI








